Banyak orang terpaksa mengajak sepupu atau tetangga kerja di kota. Biasanya, momen itu terjadi saat lebaran tiba. Sialnya, niat baik itu malah kerap jadi bumerang. Seseorang harus menanggung malu bahkan kehilangan kepercayaan di tempat kerja, gara-gara salah “bawa” orang.
***
Setiap kali momen mudik Lebaran tiba, terutama saat masuk hari kedua atau ketiga, coba buka media sosial seperti X atau Threads. Isinya bisa ditebak. Linimasa pasti penuh dengan keluhan para perantau yang baru saja “disidang” oleh keluarga besarnya di kampung.
Topik sidangnya bukan lagi sekadar pertanyaan lawas seperti “kapan nikah?” atau “kapan lulus?”. Ada satu pertanyaan horor yang kini selalu berulang tiap tahun: “Di kantormu ada lowongan, nggak? Tolong bawa sepupumu ini ke kota dong, biar ikut sukses.”
Bagi orang di kampung, ada sebuah pemahaman umum yang diam-diam disepakati bersama. Mereka mengira kalau kita sudah merantau ke kota besar, pulang pakai baju yang rapi, bawa oleh-oleh lumayan banyak, atau menyetir mobil (padahal hasil sewa), kita ini otomatis jadi orang penting di kantor. Kita dianggap punya wewenang sekelas HRD atau bos besar yang bisa memasukkan orang bekerja lewat “jalur orang dalam”.
Padahal, realitasnya sungguh jauh dari itu. Di kantor, kita ini kebanyakan cuma karyawan biasa. Staf yang kalau tanggal tua juga masih rajin makan mie instan. Jangankan membawa orang lain masuk kerja, buat mempertahankan posisi sendiri saja kadang kita harus banting tulang.
Masalahnya, saat kita dihadapkan pada situasi ini di ruang tamu rumah, di depan sepupu, paman, atau bibi, kita langsung terjebak dalam dilema yang tidak menyenangkan. Kalau ditolak mentah-mentah, kita pasti dicap sombong atau pelit. Tapi kalau disanggupi, ya kita ini siapa di kantor?
“Ajarin kerja freelance, dong!”
Saya pribadi pernah merasakan posisi canggung ini. Kejadiannya pada Lebaran tahun 2022 lalu. Waktu itu saya belum bekerja penuh waktu di kantor, melainkan masih kerja lepasan alias freelance.
Saya sering menggarap beberapa proyek tulisan dan riset secara mandiri. Keuntungannya, jam kerja saya sangat fleksibel. Saya bisa bekerja dari kamar kos atau kafe, dan bahkan beberapa kali kerja di ruang keluarga saat mudik.
Gaya kerja ini ternyata diperhatikan oleh sepupu dan beberapa tetangga saya. Mereka melihat saya santai, cuma duduk di depan laptop, sesekali ngopi, tapi tetap punya penghasilan. Karena kepincut, mulailah mereka mendekat.
“Ajarin kerja freelance dong. Biar bisa santai kayak kamu,” kata salah satu sepupu saya waktu itu.
Mendengar itu, saya cuma bisa tersenyum kecut. Mereka tidak paham apa itu kerja lepasan. Di kepala mereka, freelance itu adalah nama sebuah pekerjaan nyata yang ada wujud pabrik atau kantornya, bukan sekadar metode atau cara kita bekerja.
Saya harus pelan-pelan menjelaskan bahwa saya tidak punya perusahaan yang bisa menerima mereka bekerja. Saya tidak punya kekuasaan untuk membagikan proyek yang saya kerjakan. Tentu saja, penjelasan panjang lebar saya hanya dibalas dengan tatapan bingung dan sedikit raut kecewa. Di mata mereka, saya mungkin dianggap banyak alasan karena tidak mau berbagi rezeki.
Gegara gembar-gembor ibu, jadi kena getahnya
Namun, pengalaman saya itu belum ada apa-apanya dibandingkan cerita kawan saya, Rofi (27). Kejadian ekstrem ini ia alami pada Lebaran tahun 2025 lalu. Rofi adalah seorang staf operasional biasa di sebuah perusahaan di Jakarta.
Petaka Rofi bermula dari ibunya sendiri. Seperti kebanyakan ibu yang bangga melihat anaknya merantau, ibu Rofi sering memuji-muji anaknya di depan tetangga dan keluarga besar.
Sang ibu sering gembar-gembor kalau Rofi di kota kerjanya enak, ruangannya pakai AC, gajinya besar, dan puncaknya, sang ibu sesumbar: “Kalau butuh kerjaan, minta tolong ke anak saya aja di Jakarta.”
Kalimat terakhir itulah yang jadi bom waktu. Saat Lebaran tiba, rumah Rofi berubah jadi “job fair”. Banyak sepupu yang menagih omongan ibunya dan minta diajak merantau ke Jakarta.
“Gila aja, mulai yang baru lulus SMP sampai yang lama nganggur, minta kerjaan semua,” ujarnya kepada Mojok, Senin (9/3/2026).
Rofi benar-benar terjepit. Kalau dia menolak, dia tidak hanya dibilang sombong, tapi juga akan membuat ibunya malu besar karena “ketahuan” melebih-lebihkan cerita. Tapi kalau dia mengiyakan, itu hanya janji kosong belaka karena dia sadar posisinya di kantor tidak memungkinkan untuk merekrut orang.
Akhirnya, Rofi mengambil jalan tengah yang sering dipilih oleh orang yang “nggak enakan”. Ia tersenyum dan menjawab, “Wah, kalau sekarang belum bisa bawa kalian ke Jakarta. Tapi nanti ya, kalau ada lowongan, pasti saya kabari.”
Bawa orang kerja ke kota malah berujung petaka
Rofi berharap janji itu akan dilupakan seiring berjalannya waktu. Sayangnya, takdir berkata lain. Hanya dua minggu setelah Lebaran usai, seorang teman Rofi kebetulan sedang mencari Office Boy (OB) untuk kantornya. Syaratnya sangat mudah. Tidak butuh ijazah tinggi, tidak butuh keahlian khusus, yang penting jujur dan mau bekerja keras.
Mendengar kabar itu, Rofi teringat pada janji Lebarannya. Karena merasa punya utang omongan, dan merasa syarat OB itu cocok untuk sepupunya di kampung, Rofi pun…
Baca halaman selanjutnya…
Reputasi di depan rekan kerja dan bos bisa hancur gara-gara sikap nggak enakan.
Mendengar kabar itu, Rofi teringat pada janji Lebarannya. Karena merasa punya utang omongan, dan merasa syarat OB itu cocok untuk sepupunya di kampung, Rofi pun merekomendasikan sepupunya itu kepada temannya. Sang sepupu dipanggil ke Jakarta. Gayung pun bersambut, sepupunya langsung diterima bekerja.
“Wah, itu gembar-gembar ibu makin-makin aja,” jelasnya.
Di minggu-minggu pertama, semua tampak baik-baik saja. Rofi merasa lega karena sudah menunaikan janjinya dan menyelamatkan muka sang ibu. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Belum genap satu bulan sepupunya bekerja, teman Rofi menelepon dengan nada marah sekaligus kecewa. Ada kasus besar di kantornya. Sepupu Rofi terekam kamera CCTV sedang mencuri barang dan sejumlah uang tunai di kantor.
Setelah diusut lebih jauh, ternyata selama di kota, sang sepupu punya kebiasaan buruk yang tidak pernah diketahui keluarga di kampung: dia kecanduan judi online. Uang hasil curiannya ternyata dipakai untuk menutupi utang dan modal berjudi.
Reputasi hancur karena “nggak enakan”
Kejadian itu membuat Rofi hancur lebur. Temannya memang pada akhirnya tidak memperpanjang masalah ke polisi dan hanya memecat sepupunya. Temannya itu juga bilang bahwa ini sudah jadi risiko menerima karyawan, dan tidak menyalahkan Rofi sepenuhnya.
Namun, tetap saja, bagi Rofi, trauma itu membekas sangat dalam. Rasa tidak enaknya berubah menjadi rasa malu yang luar biasa. Bagaimana tidak? Dia yang merekomendasikan, dia yang menjamin, tapi orang yang dibawa malah bikin masalah kriminal.
Di mata teman sekantornya, nama baik Rofi pasti ikut tercoreng. Sindiran batin seperti, “Bisa-bisanya kamu ngajak orang yang kelakuannya begini,” terngiang-ngiang di kepalanya.
Dari pengalamannya tersebut, Rofi memetik satu pelajaran penting, tapi sering diabaikan banyak orang: “Tidak semua keluarga atau kerabat layak untuk kita tolong, apalagi untuk urusan pekerjaan profesional.”
“Jadi, untuk Lebaran nanti, nggak perlu lagi merasa bersalah saat menolak permintaan sepupu yang ngode ingin ikut ke kota. Menjadi orang yang serba ‘nggak enakan’ dalam urusan pekerjaan itu sangat berbahaya,” jelasnya.
Rofi bahkan punya prinsip, lebih baik dicap pelit dan sombong oleh keluarga di kampung karena tidak mau berbagi lowongan, daripada kita harus menanggung malu, kehilangan kepercayaan di tempat kerja, dan mempertaruhkan reputasi yang sudah kita bangun susah payah. Toh, di akhir hari, yang membayar tagihan hidup kita di kota adalah keringat kita sendiri, bukan validasi dari keluarga besar saat sungkeman.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: “Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
