Saya menyadari, meskipun di kota sudah mulai ketinggalan zaman, iPhone XR malah jadi primadona di desa. Ia jadi standard keren para pemudanya. Sungguh, tidak habis pikir.
***
Momen mudik Lebaran lalu menyisakan sebuah cerita yang cukup membuat saya geleng-geleng kepala. Waktu itu, saya pulang kampung hanya sekitar dua hari.
Selama di desa, saya tidak pergi liburan ke tempat wisata. Saya hanya bertemu dan nongkrong dengan orang-orang terdekat saja.
Namun, saat kembali ke Jogja, saya terkejut melihat galeri HP saya. Saya harus menghapus nyaris 200 foto orang lain dari sana.
Ya, selama di desa, HP saya “laris manis” dipinjam untuk berfoto. Padahal, menurut saya, alat komunikasi yang saya pakai bukanlah barang mewah.
Saya menggunakan iPhone 11 yang saya beli sekitar satu setengah tahun lalu seharga lima sampai enam jutaan. Di kota, HP keluaran lama ini sudah bukan hal istimewa. Harganya sekarang bahkan sudah anjlok di bawah tiga juta rupiah.
Namun, di kampung halaman, saya mendadak “diagungkan” laiknya pekerja sukses cuma gara-gara memakai iPhone 11.
iPhone XR jadi standard keren pemuda desa
Dari kejadian absurd itu, saya menjumpai sebuah fenomena yang sangat menarik. Ternyata, di kalangan pemuda desa, iPhone (bahkan seri lama sekalipun, iPhone XR) telah menjadi standard mutlak untuk disebut anak keren.
Fenomena ini sangat terasa saat saya melihat suasana tongkrongan pemuda kampung. Entah itu saat acara kumpul halal bihalal, kegiatan karang taruna, atau sekadar ngopi santai bersama teman sebaya.
Di kota, membawa iPhone 11–apalagi iPhone XR–mungkin biasa saja atau bahkan dianggap sudah tertinggal zaman. Tapi begitu ditaruh di atas meja tongkrongan desa, ia jadi terlihat istimewa.
Saya berani bertaruh, kamu coba saja membawa HP Android keluaran terbaru seharga lima jutaan, lengkap dengan “spek dewa”: RAM 12GB, memori super lega, dan kamera dengan resolusi tinggi. Di desa, pamornya akan selalu kalah telak melawan teman lain yang menaruh iPhone XR.
Alasannya memang terdengar sepele, meski sulit dicerna akal sehat: Android tidak memiliki logo apel tergigit.Di mata pemuda desa, logo tersebut adalah simbol kasta pergaulan yang paling tinggi.
Saya mendengar sendiri testimoni ini.
Kamera bening adalah kunci!
Saat sedang kumpul-kumpul bareng pemuda desa lainnya, saya coba bertanya, apa yang sebenarnya mereka kejar dari iPhone XR ini?
Jawabannya lebih kepada “mitos” kamera anti-burik. Di desa, ada anggapan yang sangat kuat di desa bahwa kamera HP Android, sebagus dan semahal apa pun itu, akan selalu terlihat pecah dan buram saat diunggah ke WhatsApp Story atau Instagram Story, apalagi di konten TikTok.
Alhasil, demi mendapatkan pengakuan sebagai anak gaul yang mengerti tren terkini, mereka merasa wajib menggunakan kamera iPhone agar hasil fotonya terlihat jernih di media sosial.
Belakangan ini, seri iPhone XR memang sedang menjadi primadona di kalangan anak muda desa. Harganya yang terus anjlok membuatnya terasa makin terjangkau. Terakhir kali saya melihat sebuah grup jual beli barang bekas di Facebook, ada yang menawarkan iPhone XR second dengan harga 900 ribu rupiah saja.
Di sinilah puncak ironinya terjadi. Demi bisa membeli iPhone bekas dengan harga di bawah satu juta itu, tidak sedikit pemuda desa yang rela melakukan hal nekat.
Ada yang mengaku sampai menggadaikan HP Android lamanya, yang sebenarnya kondisinya masih sangat lancar, baterainya awet, dan memorinya lega, hanya demi mendapatkan tambahan uang. Gengsi benar-benar mengalahkan fungsi.
Padahal, iPhone XR apalagi yang second banyak dikeluhkan
Melihat ada pemuda desa yang rela gadai barang demi menebus iPhone XR bekas, saya sungguh tidak habis pikir. Mengapa? Karena saya memiliki beberapa teman di Jogja yang kebetulan merupakan user iPhone XR.
Dari mulut teman-teman saya ini, saya jauh lebih sering mendengar keluhan yang membuat stres daripada pujian. Misalnya, bagaimana menderitanya mereka memakai HP yang usianya sudah tua.
Pertama, mereka selalu mengeluhkan soal Battery Health (BH) atau tingkat kesehatan baterai yang sudah merah. Saat sedang asyik nongkrong, matanya selalu sibuk mencari letak colokan listrik. Baterai HP-nya hanya mampu bertahan sekitar satu jam saja.
Alhasil, mereka harus membawa powerbank ke mana-mana, yang justru menyusahkan dirinya sendiri.
Kedua, teman saya terkena “kutukan” barang bekas. Karena membeli unit bekas dengan harga murah, nomor IMEI HP tersebut sangat rawan diblokir oleh pemerintah. Hasilnya, HP yang katanya keren itu seringkali kehilangan sinyal secara tiba-tiba atau muncul tulisan “No Service” di bagian atas layarnya.
Kalau sudah begitu, ia akan kebingungan mencari koneksi Wi-Fi di kafe, atau terpaksa meminta sambungan tethering dari HP Android milik temannya.
Kapasitas memori juga nggak lega-lega amat
Ketiga, soal kapasitas penyimpanan yang sangat terbatas. Dengan memori yang biasanya hanya berkapasitas 64GB, baru diisi beberapa aplikasi belanja dan media sosial saja, HP-nya langsung kepenuhan.
Setiap kali ia ingin merekam video atau mengambil foto yang bagus, layar HP-nya selalu memunculkan peringatan memori penuh. Alih-alih bisa pamer, ia justru sering merasa malu dan repot sendiri.
Cerita teman saya ini menjadi bukti nyata yang sangat kontras. Di kota, HP keluaran lama itu justru membuat pemakainya stres, repot, dan menderita karena dimakan usia.
Namun, ketika dibawa ke desa, iPhone XR malah dipuja-puja hingga membuat pemudanya rela berutang atau menggadaikan barang berharga miliknya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
