Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Film “Tinggal Meninggal” Bukan Fiksi Biasa, tapi Realitas Sosial Orang Dewasa yang Caper agar Diakui di Lingkaran Pertemanan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
3 Januari 2026
A A
Gema bahagia di Film "Tinggal Meninggal".MOJOK.CO

Gema menjadi ceria karena dekat dengan teman-teman kantornya. (Sumber: Tangkapan layar Youtube/Imajinari)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meski tak seterkenal “Jatuh Cinta Seperti di Film-film” serta “Agak Laen” yang pernah diproduksi oleh Imajinari, film “Tinggal Meninggal: tetap memberikan kesan epik bagi penonton. Kristo Immanuel selaku sutradara berhasil memberikan sajian dark comedy dengan pesan moral yang menyentuh.

***

Saat menonton “Tinggal Meninggal” yang tayang di Netflix pada Kamis (1/1/2026), saya sebetulnya kurang menyimak, sebab saya sambi dengan mencuci piring dan bersih-bersih. Namun, perhatian saya teralihkan sepenuhnya di menit ke 15.20 saat ayah Gema meninggal.

Gema adalah tokoh utama dalam film tersebut, ia diperankan oleh Omara Esteghlal. Gema yang sedari kecil tak mendapat kasih sayang dari orang tuanya, justru kebingungan saat diajak foto bersama di pemakaman ayahnya. Salah satu dialognya bikin saya tergelitik.

“Di pemakaman itu fotonya senyum atau nggak, ya?” kata Gema.

Meski terdengar konyol dan sepele, peristiwa itu bisa saja terjadi dan bikin kita bingung sendiri. Pada akhirnya Gema santai saja saat difoto, sambil tersenyum unjuk gigi dengan mengacungkan jempol. Ia tak merasa sedih berlebihan, karena hingga dewasa ayahnya jarang hadir di hidupnya. 

Hubungan yang tak akur di keluarga

Ayah Gema bekerja sebagai penipu. Dia merekrut banyak orang untuk investasi bodong. Tak lama kemudian, ayah dan ibunya pun bercerai. Gema hidup bersama ibunya yang sering ia sebut “kakak”.

Alhasil, ia sering sendirian dan tak punya teman. Ia juga sulit bersosialisasi dengan orang sekitar dan lebih sering komat-kamit sendiri. Dari kebiasaan itu, sang sutradara memanfaatkan konsep breaking the fourth wall, di mana Gema berinteraksi langsung dengan penonton.

Kebiasaan self-talk itu pun ia bawa hingga bekerja di agensi kreatif. Selama bekerja, Gema merasa terasing. Ia bahkan takut untuk sekadar nimbrung dengan teman-temannya di jam makan siang.

Barangkali dari kita ada yang berpikir, apa susahnya menyapa teman kerja, ikut makan bersama mereka, atau main bareng di luar jam kantor? Namun, mengingat masa lalu Gema yang bahkan dijuluki camen (cacat mental) sejak kecil, hal itu membuat nyalinya ciut.

Gema halu. MOJOK.CO
Gema sering bercengkrama dengan dirinya di masa lalu. (Sumber: Tangkapan layar Youtube/Imajinari)

Padahal sebetulnya, lingkungan kerja Gema dalam film “Tinggal Meninggal” nggak toxic-toxic amat. Mereka menunjukkan empati ke Gema setelah tahu ayahnya meninggal. Mulai dari Kerin (Mawar De Jongh) yang pertama kali menyatakan bela sungkawa hingga mengajaknya makan siang bersama karyawan selainnya.

Lalu, Ilham (Ardit Erwandha) yang memberikan ruang untuk Gema bercerita karena ia juga yatim. Beserta nasihat dari Cokro (Muhadkly Acho)–bosnya yang selalu memberitahu five stages of grief atau lima tahapan duka.

Ada pula Danu (Mario Caesar) yang turut peduli pada Gema dengan membelikan dia oleh-oleh dari luar negeri untuk orang-orang kantor. Adriana (Shindy Huang) yang suka menceritakan hal-hal random, serta Naya (Nada Novia) yang suka membuat konten TikTok sehingga menginspirasi Gema.

Meski punya karakter yang berbeda, teman-teman kantor Gema sebetulnya peduli, apalagi saat mereka tahu kalau ayah Gema meninggal. Namun perhatian dari teman-temannya justru bikin Gema haus validasi. Ia merasa perhatian teman-temannya tidak akan lama, sehingga takut ditinggalkan lagi.

Iklan

Gema pun kembali komat-kamit. Berbincang dengan halusinasinya sendiri untuk menjawab sebuah pertanyaan, siapa lagi yang harus meninggal? agar terus mendapat perhatian. Dari situlah ide-ide gila di film ini muncul.

Ide brutal di film “Tinggal Meninggal”

Pemakaman. MOJOK.CO
Suasana pemakaman ayah Gema. (Sumber: Tangkapan layar Youtube/Imajinari)

Pertama, Gema memungut salah satu kucing di jalan yang sering ia beri makan. Kucing itu kemudian dia pelihara di rumahnya. Tak lama kemudian ia membuat status di media sosialnya kalau kucingnya meninggal.

Kedua, ia membohongi rekan sekantornya kalau oma dan opanya juga meninggal bersamaan akibat penyakit yang mereka idap. Ketiga, ia merekayasa kematian ibunya akibat kecelakaan pesawat.

Setelah tak ada lagi orang yang bisa ia rekayasa kematiannya, Gema membuat cara meninggalnya sendiri. Ide Gema untuk menipu teman-teman di kantornya memang terdengar gila. 

Namun, bagi orang depresi, ide itu sepertinya sering terbesit dalam pikiran. Bagaimana cara dia meninggal? Bagaimana suasana pemakamannya nanti? Bagaimana respons orang-orang sekitar di hari kematiannya?

Alih-alih terlihat seperti orang depresi atau psikopat yang ingin membunuh orang-orang di sekitarnya demi mencari perhatian, sang sutradara menjelaskan jika Gema adalah seorang neurodivergent.

Dalam psikologi, kondisi itu dialami oleh individu yang memiliki cara kerja otak berbeda dibanding mayoritas masyarakat biasanya, seperti autisme atau ADHD. Gejalanya bisa suka berbicara sendiri, berkhayal, canggung dalam kehidupan sosial, seperti yang dilakukan Gema.

Film fiksi tapi terasa seperti kisah nyata

Mindfulness Practitioner, Adjie Santosoputro menilai perilaku Gema sebagai neurodivergent digambarkan dengan baik dalam film “Tinggal Meninggal”. Kondisi itu, kata Adjie, terlihat manusiawi dan betulan terjadi di lingkungan sekitar kita.

Teman kantor Gema. MOJOK.CO
Dukungan yang diberikan teman-teman kantor Gema. (Sumber: Tangkapan layar Youtube/Imajinar

Barangkali tidak seekstrem Gema yang merekayasa cara dia meninggal. Di film tersebut, teman-teman Gema pun sebenarnya punya kebohongan masing-masing agar ia diterima di lingkungan sosialnya.

Dari film ini, saya akhirnya juga memahami sikap teman-teman saya yang sering terlihat cari perhatian (caper) atau haus validasi agar diakui. Pada suatu hari, teman SMP saya bercerita kalau dia pacaran dengan orang Korea. Saban hari ia curhat kepada saya tentang kebucinannya atau saat mereka sedang bertengkar.

Saat SMA, teman saya juga sering pingsan di kelas. Guru serta teman laki-laki saya bahkan harus menggotongnya dari lantai dua ke UKS lantai pertama. Beberapa teman saya juga sering pergi ke mall dan menggunakan barang-barang branded padahal berasal dari keluarga kurang berada.

Barulah dewasa ini, teman-teman saya itu mengaku bahwa semuanya bohong, hanya untuk mendapat perhatian sekitar. Dan kini mereka menyesalinya. Barangkali seperti karakter Danu dalam film “Tinggal Meninggal” serta teman-teman Gema lainnya, saya pun memaafkan mereka meski sempat kesal pada mulanya.

Film ini juga merefleksikan diri saya pribadi agar selalu merasa cukup dengan apa yang saya miliki tanpa melupakan rasa empati dan melebih-lebihkan hidup. Sebab pada akhirnya, tiap orang punya daya dan upayanya sendiri untuk memulihkan luka dari masa lalu. Ada yang membiarkan luka masa lalu itu terus menganga, ada pula yang berusaha menerima dan menjadikan hidupnya lebih bermakna.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Film Jumbo Bukan Animasi Biasa, Tapi Realitas Sosial Anak-anak Indonesia yang Tumbuh Tanpa Kasih Sayang Orangtua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2026 oleh

Tags: film psikologiFilm Tinggal Meninggalkesehatan mentalrekomendasi film netflixsutradara Tinggal MeninggalTinggal Meninggal
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Artikel Terkait

Program PIJAR sebagai upaya Pemerintah Kota Semarang atasi persoalan gangguan kesehatan mental remaja MOJOK.CO
Kilas

PIJAR: Gerakan agar Para Remaja di Semarang Tak Merasa Sendirian, Biar Tak Alami Gangguan Kesehatan Mental

15 Oktober 2025
Para pembicara di “Sarasehan” dengan tajuk Generasi Emas: Mengenal Akar Kenakalan Remaja dan Solusinya yang diadakan oleh Al Kahfi Cabang Surabaya 3. MOJOK.CO
Kilas

Miris Melihat Remaja Terjerumus dalam Jurang “Kegelapan”, Yayasan Al Kahfi Ajak Ratusan Pelajar SMA Surabaya Menemukan Jati Diri

13 Agustus 2025
Teman Manusia Jogja ajak menengok anak kecil dalam diri kita yang dewasa MOJOK.CO
Kilas

Teman Manusia Jogja Ajak Tengok Anak Kecil dalam Diri Dewasa Kita, Tanggalkan Beban untuk Lebih Kuat Jalani Kehidupan

23 Juli 2025
Lulus dari UAD, Jogja pindah ke Bangka untuk bangun karier sebagai psikolog. MOJOK.CO
Sosok

Jogja bikin Saya Sadar “Kebobrokan” di Kampung Halaman hingga Punya Motivasi untuk Membangun Karier sebagai Psikolog

30 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

cerita fresh graduate magang di kemkomdigi dapat gaji magang layak. MOJOK.CO

Pengalaman Fresh Graduate Magang di Instansi Pemerintah Kemkomdigi, Dapat Gaji Setara UMP tapi Harus Benar-benar Siap Kerja

23 Januari 2026
Lulusan UNSRI resign dari pegawai bank. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana UNSRI Pilih Resign sebagai Pegawai Bank, Lebih Menjanjikan Buka Toko Kelontong

21 Januari 2026
Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026
“Terapi Massal” Pekerja Jakarta di Istora Senayan.MOJOK.CO

“Terapi Massal” Pekerja Jakarta di Istora Senayan

24 Januari 2026
senar raket. mojok.co

Indonesia Masters 2026 Jadi Tempat Merawat Kenangan Keluarga, Rela Cuti Kerja demi “Napak Tilas” Mendiang Ayah di Istora

21 Januari 2026
Berkah di Balik Hujan Lebat di Istora Senayan, Tukang Ojek Payung Ketiban Rezeki Event Indonesia Masters 2026.MOJOK.CO

Berkah di Balik Hujan Lebat di Istora Senayan, Tukang Ojek Payung Ketiban Rezeki Event Indonesia Masters 2026

22 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayakan

18 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.