Ketika Bus Indonesia Ekonomi rute Surabaya-Semarang yang saya tumpangi pada Minggu (13/9/2026) memasuki Rembang pada pukul 19.00 malam, ibu-ibu pekerja pabrik tampak sudah menunggu di tepi jalan raya. Persisnya di depan Gedung DPRD Kabupaten Rembang.
Bus Ekonomi rute Surabaya-Semarang memang menjadi saksi betapa kerasnya para ibu-ibu di Rembang harus bekerja di pabrik. Terutama di pabrik pengolahan tangkapan laut sebagai pabrik yang menerima mereka kerja tanpa syarat minimal ijazah dan pengalaman khusus.
Naik bus ekonomi Surabaya-Semarang: simbol kerja melebihi waktu manusiawi
Saat Bus Indonesia yang saya tumpangi berhenti karena lambaian tangan para ibu-ibu tersebut, ternyata mereka belum lama keluar dari pabrik pabrik. Jam di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul 20.00 WIB.
Sejauh persinggungan saya dengan ibu-ibu pekerja pabrik di Rembang, mereka memang tidak memiliki jam pulang pasti. Yang bisa dipastikan hanya waktu berangkat dan masuk kerja.
Kebanyakan ibu-ibu pekerja pabrik itu berasal dari daerah-daerah sisi timur Rembang: Sluke, Pandangan-Kragan, dan Sarang. Karena naik angkutan umum lokal, mereka harus berangkat sejak pukul 06.00 WIB agar tidak terlambat pada jam masuk pabrik: 08.00 WIB. Karena masih harus menunggu angkutan umum dan potensi ngetemnya.
Sementara untuk waktu pulang, paling cepat di pukul 17.00 WIB. Tapi bisa juga hingga pukul 20.00-21.00 WIB. Seperti malam itu.
Sehingga, ketika para ibu-ibu memutuskan untuk naik bus ekonomi Surabaya-Semarang, itu artinya mereka telah bekerja melebihi waktu normal yang manusiawi.
Jika keluar pabrik malam, bus AKAP menjadi transportasi umum yang mau tidak mau harus mereka gunakan untuk pulang. Karena angkutan umum lokal sudah berhenti beroperasi maksimal pada 18.00 WIB.
Tidak ada motor sendiri untuk pergi-pulang
Berdasarkan cerita dari ibu saya (yang juga pekerja pabrik di Rembang), tidak banyak ibu-ibu pekerja pabrik tersebut membawa motor sendiri. Yang membawa bisa dihitung jari.
Alasannya beragam. Ada yang memang tidak punya motor sendiri (adanya motor keluarga yang dipakai anak sekolah), ada pula yang memang benar-benar tidak punya motor karena hidup tanpa suami.
Selain itu, ada juga yang lebih memaksimalkan naik transportasi umum dengan alasan keselamatan. Pulang malam dalam kondisi tubuh kelelahan dan setengah mengantuk, sementara jarak pabrik ke rumah masih cukup jauh, dinilai sangat berisiko.
Apalagi jalan pantura Rembang di malam hari juga “penuh ancaman”: gelap minim penerangan, banyak jalan berlubang, serta kondisi jalan yang semakin malam justru semakin padat oleh kendaraan-kendaraan besar yang di antaranya melaju ugal-ugalan.
Tidak jarang “mbonek” demi mengakali pengeluaran
Naik bus AKAP Surabaya-Semarang, meski kelas ekonomi, di satu sisi ternyata agak membebani pengeluaran ibu-ibu pabrik di Rembang itu.
Begini, jika naik angkutan umum lokal, tarifnya hanya berkisar Rp4 ribu-Rp5 ribu. Jika pergi-pulang full naik angkutan umum lokal, uang Rp10 ribu sudah cukup.
Namun, jika naik bus AKAP ekonomi Surabaya-Semarang, tarifnya jelas berbeda. Untuk sekali perjalanan pulang, mereka harus menyerahkan uang Rp10 ribu-Rp15 ribu ke kondektur bus.
Oleh karena itu, dari cerita ibu saya, beberapa teman ibu di pabrik punya siasat nekat: sesekali mbonek, mencari tumpangan gratisan.
Pada mulanya, banyak yang ragu-ragu melakukan aksi tersebut. Apalagi mereka kerap melarang anak-anak mereka yang masih SMP untuk melakukannya. Mbonek adalah ciri anak nakal.
Tetapi karena kenekatan seorang ibu-ibu, dan kemudian setelah dirasakan ternyata menyenangkan, mbonek akhirnya menjadi alternatif tumpangan saat mereka pulang malam.
Di depan Gedung DPRD Rembang, mereka akan melambaikan tangan ke truk maupun mobil pick-up yang melintas. Ada yang mengabaikan begitu saja. Tapi teramat sering mereka disambut dengan murah hati oleh para sopir yang bahkan tidak mereka kenal sama sekali.
Kenapa alternatif mbonek itu kemudian berulang? Karena sepengakuan para ibu-ibu pekerja pabrik di Rembang tersebut, mereka toh tidak mendapat perlakuan negatif dari para sopir. Justru para sopir yang mereka temui bersikap baik, didorong rasa kagum dan kasihan melihat para ibu-ibu usia 40-an tahun harus bekerja sebegitu kerasnya hingga malam.
Bau amis di bus ekonomi Surabaya-Semarang dan keceriaan yang menghapus kelelahan
Dengan suara cempreng dan nyablak, para ibu-ibu pekerja pabrik di Rembang itu naik ke dalam bus AKAP ekonomi Surabaya-Semarang yang saya naiki.
Belum juga duduk, kernet bagian pintu depan langsung melempar gojlokan: “Jian amis-amis tenan emak-emak iki (Duh, pada bau amis emak-emak ini).” Gojlokan tersebut sontak direspons oleh para ibu-ibu dengan suara nyablak.
“Wooo tak kelek loh kowe (Wooo kuketekin loh kamu).”
“Amis-amis gini dulunya kembang desa loh. Jangan salah.”
“Namanya juga kerja di pabrik ikan, ya amis. Kalau kerja di warung sate, baru sangit.” Tawa langsung meledak, termasuk kernet dan sopir bus pun ikut tergelak.
“Wis mesti ngerameni emak-emak iki (Sudah pasti bikin ramai emak-emak ini).” Si kondektur bahkan ikut nimbrung.
“Kalau ramai-ramai begini kan jadi rezekimu Pak Kondektur (karcis nambah),” sahut seorang ibu-ibu.
Berangkat pagi pulang malam tentu membuat ibu-ibu itu kelelahan, badan terasa remuk. Namun, berusaha terus ceria, bersenda-gurau dengan teman sesama perempuan pejuang ekonomi keluarga menjadi cara mereka menghapus—atau bahkan sekadar menyembunyikan—kelelahan yang membuat tubuh terasa nyeri di sana-sini.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
