Lantai 2 Stasiun Kiaracondong, Penyelamat Dompet dan Fisik Pelancong yang Telantar di Bandung

Bandung, Jogja, Jakarta, KA Bengawan, kereta api murah.MOJOK.CO

Akhir pekan lalu, sejatinya sudah saya susun serapi mungkin. Saya sengaja mengambil cuti dua hari yang disambung dengan libur akhir pekan, khusus untuk menghabiskan waktu di Bandung. 

Tujuan utamanya, untuk menonton konser band yang sudah saya tunggu sejak lama di acara Doomsday Open Air. Semua rangkaian acara di kota itu berjalan sangat lancar dan memuaskan. 

ADVERTISEMENT

Namun, siapa sangka, pada hari terakhir di Bandung, Senin (19/10/2026), saya justru harus menelan pil pahit berupa drama telantar di kota orang.

Ketololan yang bikin telantar di Bandung

Bencana kecil ini murni karena kesalahan saya sendiri. Sebenarnya, saya sudah mengantongi tiket Kereta Api (KA) Pasundan seharga Rp180 ribu untuk jadwal keberangkatan ke Jogja pukul 10 pagi. 

Sayangnya, sisa euforia dan rasa capek luar biasa setelah berjingkrak di arena konser malam harinya membuat saya malas-malasan bangun. Pukul 9 pagi saya baru membulatkan niat buat mandi.

Saat mengemasi barang dan check out dari hotel, saya terlalu meremehkan kondisi jalanan. Saya sama sekali tidak memprediksi bahwa kemacetan Bandung di Senin pagi bisa sebrutal itu. 

Kendaraan padat merayap, dan waktu terus berjalan tanpa belas kasihan. Setibanya di stasiun, saya terlambat lima menit. Kereta sudah melaju, dan tiket ratusan ribu itu hangus tak bersisa.

Menunggu delapan jam di stasiun

Berdiri di stasiun dengan tiket hangus membuat kepanikan saya memuncak. Masalah utamanya bukan sekadar ketinggalan kereta, tetapi juga kondisi dompet yang sudah sangat megap-megap. 

Sisa bujet saya hanya cukup untuk bertahan hidup di Jogja sampai tanggal gajian berikutnya. Mau tidak mau, saya harus putar otak mencari tiket pengganti yang harganya paling miring.

Saat mengecek aplikasi, hanya ada dua opsi tersisa. 

ADVERTISEMENT

Pertama, KA Kahuripan seharga Rp80 ribu yang berangkat pukul 10 malam dan tiba langsung di Jogja pukul 6 pagi. Kedua, KA Kutojaya Selatan yang berangkat pukul 20.55 malam. Harganya cuma Rp62 ribu, tetapi kereta ini hanya sampai Stasiun Kutoarjo pada pukul 4 pagi. Nantinya, saya harus menyambung perjalanan ke Jogja menggunakan tiket Prameks. 

Sisanya, adalah tiket kereta seharga di atas Rp350-an.

Demi menghemat bujet, saya membuang rasa malas dan memantapkan diri memilih opsi kedua, KA Kutojaya Selatan.

Tiket baru sudah di tangan, tapi masalah rupanya belum selesai. Siang itu, saya dihadapkan pada realitas bahwa ada waktu nganggur lebih dari delapan jam sebelum kereta malam saya berangkat. 

Karena hari itu adalah Senin, teman-teman saya yang berdomisili di Bandung sedang sibuk bekerja. Tidak mungkin rasanya mengajak mereka nongkrong.

Di sisi lain, membunuh waktu seharian di kafe jelas bukan pilihan yang masuk akal bagi orang yang sedang krisis keuangan. Saya juga sama sekali tidak sudi berjalan luntang-lantung menenteng koper di bawah terik matahari Kota Bandung yang siang itu terasa sangat memanggang kulit.

Informasi berharga dari driver ojol di Bandung

Dalam kondisi bingung dan perut keroncongan, sekitar pukul 12 siang saya melipir ke warung tenda di depan Stasiun Kiaracondong. Sambil menyuap makanan, saya tak sengaja mengobrol dengan beberapa driver ojek online yang sedang menunggu penumpang. 

Di tengah obrolan itulah mereka memberikan sebuah informasi berharga. Ternyata, kini lantai dua stasiun sekarang sudah difungsikan sebagai ruang tunggu sekaligus area booth UMKM.

Berbekal informasi tersebut, saya berpikir tak ada salahnya mencoba naik ke atas daripada kepanasan di luar. Begitu menginjakkan kaki di lantai dua, rasa cemas saya menguap seketika. Tempat itu ternyata jauh lebih dari sekadar ruang tunggu stasiun biasa.

Fasilitas yang tak saya temui di stasiun-stasiun Jogja

Fasilitasnya terbilang sangat memanjakan pelancong. Ada deretan kursi yang nyaman dan area makan yang lapang. Di setiap sudut, tersedia banyak colokan listrik untuk mengisi daya gawai.

Selain itu, akses WiFi gratisnya cukup lancar, area khusus merokoknya luas, dan jumlah toiletnya sangat memadai. Satu hal yang bagi saya paling penting: udaranya sejuk, sama sekali tidak gerah meski di luar matahari sedang terik-teriknya.

Tanpa ragu, saya langsung memesan secangkir kopi hitam dan mencari tempat duduk paling pojok. Setelah menemukan posisi yang pas untuk menepi dan merokok, saya membuka laptop. 

Saya butuh pelarian untuk membunuh waktu, dan pilihan jatuh pada gim Football Manager (FM). Bagi yang pernah memainkannya, pasti tahu betul kalau gim ini punya “kutukan” laknat yang bisa membuat pemainnya lupa waktu.

Benar saja, saya terlalu asyik mengatur taktik sampai tidak sadar jam di layar laptop sudah menunjuk angka 4 sore. Perut saya kembali menuntut haknya. 

Saya pun menghentikan sementara gim tersebut untuk memesan semangkuk soto ayam, air es, serta segelas kopi kedua. Sembari menikmati soto yang hangat, saya beralih tontonan dengan memutar streaming beberapa episode serial Lantern.

Jadi jujugan orang-orang yang ingin numpang WiFi

Makin sore, saya perhatikan suasana di lantai dua makin hidup. Uniknya, saya menyadari bahwa yang datang ke area ini bukan cuma penumpang kereta yang kebingungan seperti saya. 

Di sebelah kursi saya, ada sekelompok anak SMA yang sedang asyik mabar gim di ponsel mereka. Di sudut lain, ada pria yang tampak sibuk mengikuti Zoom meeting.

Menjelang malam, mulai bermunculan pula gerombolan orang berkaos band serba hitam yang menenteng tas ransel. Melihat gelagat dan atribut mereka, saya berani bertaruh bahwa mereka adalah rombongan pelancong yang semalam juga menonton konser yang sama dengan saya. 

Sore itu, lantai dua Kiaracondong rupanya telah berubah wujud menjadi ruang publik bagi siapa saja.

Waktu terus bergulir. Setelah menamatkan dua episode serial, saya sempat kembali melanjutkan gim FM. 

Tak terasa, gim FM bikin jarum jam merangkak ke angka 8 malam. Saya akhirnya menutup laptop, mengemasi koper, dan berjalan turun menuju area boarding dengan perasaan lega.

Tepat pukul 20.55, gerbong KA Kutojaya Selatan yang saya tumpangi mulai bergerak perlahan meninggalkan Kota Bandung. 

Sambil bersandar di kursi tegak, saya tersenyum mengingat kejadian hari ini. Rasa khawatir akan telantar, rasa bosan, dan dompet yang jebol ternyata tidak terbukti. Di saat kritis, lantai dua Stasiun Kiaracondong hadir sebagai penyelamat bagi fisik dan dompet pelancong kere seperti saya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pengalaman Naik Kereta Api Jogja-Jakarta Cuma 82 Ribu: 24 Jam Perjalanan, Tapi Jauh Lebih Murah dan Berkesan, Serasa Nge-Punk atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.