Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Omon-Omon MBG 99 Persen Berhasil, Padahal Amburadul dari Hulu ke Hilir 

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
19 Oktober 2025
A A
makan bergizi gratis MBG.MOJOK.CO

Ilustrasi - Skandal Besar MBG (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pemerintah mengklaim bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) 99,9 persen berhasil. Namun, klaim tersebut nyatanya cuma omon-omon buat menutupi berbagai masalah serius, mulai dari keracunan massal hingga sistem yang amburadul.

***

Presiden Prabowo Subianto menyebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berhasil 99,9 persen. Ia menegaskan, hanya 0,0007 persen penerima yang mengalami keracunan–jumlah yang menurutnya masih “dalam batas ilmiah”. 

Namun, bagi Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), klaim itu justru menandai bahaya baru. Yakni, pemerintah menormalisasi kekacauan program dan menyepelekan keselamatan anak-anak.

Dalam keterangannya kepada Mojok, Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji menyebut klaim tersebut menipu publik karena di balik persentase kecil itu, ada ribuan anak yang jatuh sakit. 

Sejak September hingga pertengahan Oktober, JPPI mencatat sedikitnya 13.168 anak mengalami keracunan akibat makanan dari program MBG. Dalam sepekan terakhir saja, 13-19 Oktober, terdapat 1.602 kasus; meningkat dari 1.084 kasus di pekan sebelumnya. 

Lima provinsi dengan korban tertinggi adalah Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Barat.

Data yang dikumpulkan JPPI ini sejalan dengan laporan berbagai media. Detik, misalnya, mencatat lebih dari 6.400 anak mengalami gejala keracunan hingga akhir September. Sementara media Australia, ABC, melaporkan “lebih dari 800 siswa jatuh sakit dalam sepekan” setelah mengonsumsi makanan MBG di sejumlah daerah.

Bahkan, Reuters juga melaporkan bahwa program makan gratis Indonesia menghadapi kritik karena “lebih dari 11 ribu anak dilaporkan sakit akibat makanan program ini.”

“Kalau angka ditampilkan tapi fakta disembunyikan, itu bukan keberhasilan, tapi kegagalan yang sengaja dimanipulasi,” tegas Ubaid Matraji, Minggu (19/10/2025).

“Ini omon-omon apa lagi?”

Bagi JPPI, masalah MBG bukan hanya soal keracunan, tapi juga menyangkut sistem yang carut-marut dari hulu ke hilir. Program ini, kata Ubaid, belum memiliki dasar hukum yang jelas karena draf Peraturan Presiden yang menjadi landasannya masih dibahas dan tidak pernah dipublikasikan secara terbuka. 

“Perpresnya belum jadi, prosesnya tertutup, pelaksanaannya semrawut, tidak ada transparansi, tapi presiden sudah klaim berhasil. Ini omon-omon apa lagi?” ungkapnya.

Di lapangan, JPPI menemukan banyak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur MBG terpaksa berhenti beroperasi karena dana dari pemerintah belum cair. Padahal sebelumnya Badan Gizi Nasional (BGN) mengembalikan sekitar Rp70 triliun ke kas negara. Menurut JPPI, keputusan itu bukan cerminan efisiensi, melainkan tanda buruknya perencanaan dan lemahnya akuntabilitas. 

“Dapur-dapur di daerah seperti Sleman, Wonosobo, dan Jepara banyak yang tutup. Yang terlapor mungkin baru sebagian kecil dari yang sebenarnya terjadi,” ujar Ubaid.

Iklan

Konflik kepentingan dan korupsi terselubung dalam MBG

Di balik persoalan administratif, JPPI juga menyoroti adanya dugaan konflik kepentingan dan korupsi terselubung antara penyedia makanan, yayasan pelaksana, dan pejabat pengawas program. Mereka menuding telah muncul “permainan kotor” seperti pemotongan harga per porsi dan kolusi dalam pengadaan bahan pangan. 

“Bau korupsinya menyengat ke mana-mana,” kata Ubaid, menegaskan bahwa keterlibatan sejumlah pejabat dan aparat dalam rantai ini membuat pengawasan menjadi tumpul.

Kekacauan itu, lanjut Ubaid, juga menciptakan ketimpangan akses. Di daerah perkotaan, program MBG berjalan relatif lancar, sementara di wilayah 3T—yang justru paling membutuhkan asupan bergizi—banyak anak belum tersentuh sama sekali. 

“Anak-anak kaya di kota malah kebagian duluan, sementara di desa yang gizi anaknya rendah justru menunggu,” imbuhnya.

Lebih jauh, JPPI mengungkap adanya surat pernyataan rahasia yang harus ditandatangani sekolah-sekolah penerima MBG. Surat itu berisi klausul agar pihak sekolah tidak membocorkan informasi jika terjadi keracunan. 

“Kami mencurigai format surat ini seragam, bukan inisiatif daerah. Sepertinya ada komando dari atas,” kata Ubaid. Ia menyebut praktik itu sebagai upaya sistematis untuk menutupi fakta lapangan dan membungkam pelapor.

Pemerintah sendiri mengakui adanya kendala di lapangan. BGN menyatakan akan memperbaiki mekanisme pengolahan makanan, distribusi, serta pelibatan sekolah dalam pengawasan. Mereka juga merancang enam langkah perbaikan, termasuk memperketat standar bahan baku dan waktu pengolahan. Namun, program ini masih 15 persen di bawah target karena keterbatasan dapur dan fasilitas logistik di daerah.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Dari Burger hingga Kepemimpinan Militer: 3 Akar Krisis MBG yang Kini Terungkap atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2025 oleh

Tags: keracunan MBGkorupsi mbgmakan bergizi gratisMBGPrabowo Subiantoskandal mbg
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

UGM MBG Mojok.co
Kilas

Gadjah Mada Intellectual Club Kritisi Program MBG yang Menyedot Anggaran Pendidikan

28 November 2025
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Prabowo-Gibran.MOJOK.CO
Aktual

7 Alasan Mengapa Satu Tahun Masa Kepemimpinan Prabowo-Gibran Layak Diberi Nilai 3/10

20 Oktober 2025
Biang keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Yogyakarta MOJOK.CO
Aktual

Biang Keracunan MBG 426 Siswa SMAN 1 Yogyakarta, Menu Memang Tak Keliahatan Aneh tapi Waktu Masaknya Bermasalah

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lebih Baik Hidup Hemat Saat Muda agar Tak Jadi Beban Keluarga dan Bisa Berfoya-foya di Masa Tua MOJOK.CO

Lebih Baik Hidup Hemat Saat Muda agar Tak Jadi Beban Keluarga dan Bisa Berfoya-foya di Masa Tua

29 Januari 2026
Penyebab banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah. MOJOK.CO

Alasan di Balik Banjir dan Longsor di Lereng Gunung Slamet Bukan karena Aktivitas Tambang, tapi Murni Faktor Alam

29 Januari 2026
Menurut Ekonom FEB UGM, banyak pekerja Indonesia terpaksa overwork dan multiple jobs gara-gara persoalan jam kerja dan kelayakan upah MOJOK.CO

Overwork-Multiple Jobs: Keterpaksaan Pekerja demi Hidup dari Upah Tak Layak, Masih Tanggung Kesehatan Diri Sendiri Tanpa Jaminan

28 Januari 2026
Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

28 Januari 2026
AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah MOJOK.CO

AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah

29 Januari 2026
Tabungan likuid untuk jaga-jaga pas kehilangan pekerjaan (PHK) memang penting. Tapi banyak pekerja Indonesia tak mampu MOJOK.CO

Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup

29 Januari 2026

Video Terbaru

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026
Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

28 Januari 2026
Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

27 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.