Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Perantau Aceh di Jogja Hidup Penuh Ketidakpastian, tapi Merasa Tertolong Berkat ‘Warga Bantu Warga’

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 Desember 2025
A A
Banjir sumatra, Nestapa Tinggal di Gayo Lues, Aceh. Hidup Waswas Menanti Bencana. MOJOK.CO

ilustrasi - bencana banjir di Sumatera. MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Taufiq (20) masih ingat jelas dua hari penuh rasa khawatir ketika ponselnya tak tersambung ke siapa pun di kampung. Mahasiswa asal Aceh Barat yang tengah menempuh studi di Jogja itu melewati jam demi jam dengan kepala penuh kemungkinan buruk. 

Banjir bandang yang melanda wilayah asalnya sejak 27 November lalu telah menghancurkan puluhan permukiman. Dan, menurut Taufiq, informasi yang ia dapat dari media sosial hanya memperbesar kecemasan. 

“Saya sudah coba telepon berkali-kali, tapi tak bisa tersambung,” ujarnya, saat ditemui Mojok, Rabu (10/12/2025) di kampusnya, mengingat hari-hari penuh ketidakpastian itu.

Kelegaan akhirnya datang pada hari ketiga. Orang tuanya selamat setelah menempuh perjalanan darurat menuju rumah saudara di Sumatera Utara. 

Namun, hampir seluruh harta keluarga hilang: rumah habis terendam, kendaraan terbawa arus, dan sebagian besar barang berharga tak tersisa. Bagi Taufiq, kabar selamat itu melegakan, tetapi disertai kenyataan getir bahwa kehidupan keluarganya kini harus dimulai dari titik nol. 

“Alhamdulillah selamat,” katanya pelan, dengan mata yang berkaca-kaca. “Tapi tidak ada yang tersisa di sana.”

Sebagai perantau, kondisi itu membuatnya memikirkan ulang hampir seluruh kebutuhan hidup. Kiriman bulanan dari keluarga kemungkinan besar tidak bisa ia harapkan dalam waktu dekat. 

Adiknya yang masih sekolah juga membutuhkan biaya, sementara orang tua kini fokus menata ulang kebutuhan paling mendasar. Mulai dari tempat tinggal sementara, pakaian, dan makanan. Taufiq mengaku masih memiliki sedikit simpanan, tetapi tidak tahu akan bertahan berapa lama. 

“Saya punya pegangan untuk sekarang,” ucap mahasiswa asal Aceh ini. “Tapi jujur saja, saya tidak tahu sampai kapan.”

Warga Bantu Warga

Kisah serupa dialami banyak mahasiswa dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat yang merantau di Jogja. Mereka yang biasanya masih bisa mengandalkan kiriman dari kampung tiba-tiba harus menanggung kebutuhan sendiri sepenuhnya. 

Menurut pengakuan Taufiq, beberapa mahasiswa mulai bergiliran memasak bersama untuk menghemat pengeluaran. Sementara yang lain, mengandalkan bantuan dari komunitas perantau. 

Di sejumlah grup Whatsapp, mahasiswa saling bertukar informasi di mana bisa mencari bantuan makanan, siapa yang masih memiliki persediaan beras, hingga siapa yang membutuhkan tempat tinggal sementara jika tak sanggup membayar sewa kos bulanan.

“Warga bantu warga begitu saya rasakan, Mas, dalam situasi kayak begini benar-benar solid,” ungkapnya.

Solidaritas kemudian datang dari banyak arah. Sejumlah rumah makan di Jogja membuka layanan makan gratis bagi mahasiswa perantau korban banjir Sumatra. 

Iklan

Keumala Jogja, misalnya, menyediakan porsi makan tanpa biaya bagi warga Aceh, Sumut, dan Sumbar yang menunjukkan KTP asal daerah terdampak. Gerakan serupa juga hadir dari Gudeg Yu Djum Pusat yang, menurut laporan sejumlah media, menyediakan ratusan porsi gratis setiap hari selama masa tanggap darurat. 

Di Bantul, beberapa warung kecil menyediakan nasi bungkus yang bisa diambil mahasiswa untuk dibawa pulang ke kos, tanpa perlu menyebutkan nama atau identitas apa pun.

Bantuan itu, bagi mahasiswa asal Aceh ini, terasa lebih dari sekadar makanan. Ia mengaku sempat menahan diri untuk datang, khawatir akan mengurangi jatah orang lain atau dianggap memanfaatkan situasi. Namun dorongan teman-temannya membuat ia akhirnya singgah. 

“Saya kira saya masih bisa bertahan sendiri. Tapi setelah beberapa hari, saya sadar saya butuh bantuan,” akunya. Ia mendatangi Warung Makan Nusantara di Jalan Garuda, Kecamatan Banguntapan karena paling dekat dengan kosnya. Di sana, Taufiq mengaku tinggal menunjukkan KTM dan KTP, kemudian pramusaji menyediakan makanan gratis baginya.

Bantuan Pemda DIY bagi mahasiswa korban banjir Sumatra

Selain warga, pemerintah daerah juga ikut merespons. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) menyerahkan bantuan sebesar Rp3 miliar kepada perwakilan wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. 

Bantuan itu disampaikan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai bentuk dukungan dari Yogyakarta terhadap daerah yang sedang dilanda bencana. Pemerintah juga membuka kemungkinan dukungan lanjutan bagi mahasiswa perantau, termasuk koordinasi dengan kampus-kampus terkait keringanan administrasi dan kebutuhan mendesak lainnya.

Langkah itu membuat Taufiq sedikit lebih tenang. Bukan berarti masalah selesai, tetapi setidaknya ia dapat melihat ada jalur untuk bertahan. 

“Saya senang dengar kabar itu,” kata Taufiq. “Kalau bantuan terus berjalan, saya dan banyak teman lainnya bisa fokus tetap kuliah, tidak putus di tengah jalan.”

Tetap kuliah, sesederhana itu, tapi kini menjadi tantangan besar. Taufiq mengaku sempat terpikir untuk pulang, ingin melihat kondisi orang tua secara langsung. Namun, ongkos pulang pergi tidak sedikit, sementara keluarganya justru menyuruhnya bertahan. 

“Kalau pulang, saya hanya menambah beban,” ujar mahasiswa Aceh ini. “Orang tua malah bilang, ‘selesaikan kuliahmu dulu, itu yang paling penting sekarang’.”

Di kosnya, Taufiq lebih sering menghabiskan waktu memantau perkembangan kondisi kampung halaman melalui grup WhatsApp perantau. Setiap foto rumah yang roboh dan jalan yang terputus memunculkan rasa sesak. Sebagian teman-temannya bahkan masih belum mengetahui kondisi lengkap keluarga mereka. 

“Ada yang sampai sekarang belum dapat kabar detail, hanya tahu orang tuanya selamat,” katanya. “Itu saja sudah syukur.”

Taufiq mengaku ia tidak ingin berharap berlebihan. Namun, dalam keadaan sekarang, setiap bantuan–sekecil apa pun–terasa sangat berarti. Ia masih menyimpan rencana untuk mencari pekerjaan paruh waktu, atau jika memungkinkan mengikuti program bantuan bagi mahasiswa dari kampung halaman. Yang terpenting, katanya, adalah memastikan ia tetap bisa menjalani kuliah sambil menunggu keadaan keluarga perlahan membaik.

“Yang hilang memang banyak,” ujarnya. “Tapi kalau saya bisa bertahan di sini, bisa menyelesaikan kuliah, mungkin itu cara saya membantu keluarga nanti.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: 5 Warung Makan di Jogja yang Gratiskan Makanan untuk Mahasiswa Rantau Asal Sumatra Akibat Bencana atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Desember 2025 oleh

Tags: Acehbanjir acehbanjir sumatramahasiswa acehMahasiswa Jogjaperantau aceh
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO
Urban

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
kos jogja, pogung, babarsari, kos murah.MOJOK.CO
Urban

Menemukan Ketenangan di Kos Rp500 Ribu Kawasan Pogung, Lebih Nyaman Ketimbang Kos LV Babarsari yang Tak Cocok Buat Mahasiswa Alim

12 Februari 2026
unisa jogja, kekerasan dalam hubungan.MOJOK.CO
Aktual

Mahasiswa UNISA Jogja Alami Kekerasan dalam Hubungan Asmara, Kampus Ancam DO Pelaku

10 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Curhat Jadi Ketua RT: Pekerjaan Kuli yang Dibalut Keikhlasan MOJOK.CO

Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya

27 Februari 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Kuliah online di universitas terbuka: meski tak ngampus tapi dirancang serius untuk mudahkan mahasiswa, meski diserang hacker MOJOK.CO

Kuliah Online di Universitas Terbuka (UT): Meski Tak Ngampus tapi Tak Asal-asalan, Sering Diserang Hacker tapi Tak Mempan

23 Februari 2026
Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)

Karena Cinta dan Setia, Rela Membeli 11 Motor Honda tapi Berakhir Kecewa karena Honda Scoopy Hanya Jual Tampang tapi Mesinnya Menyedihkan

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.