Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Kualitas Tenaga Pendidik Rendah: Jangan Salahkan Guru, tapi Benahi Sistemnya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
25 November 2025
A A
guru honorer, pns.MOJOK.CO

Ilustrasi Guru (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyebut runtuhnya nilai matematika dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 sebagai tanda kegagalan sistem pendidikan yang dikelola negara, bukan kesalahan guru. 

Kritik ini disampaikan dalam refleksi Hari Guru Nasional 2025, bersamaan dengan maraknya pernyataan pejabat pemerintah yang dianggap menyudutkan kualitas tenaga pendidik.

Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji menilai pernyataan Mandikdasmen mengenai buruknya metode mengajar guru matematika, serta komentar Presiden Prabowo saat mengunjungi SMPN 4 Kota Bekasi pada 17 November lalu, sebagai bentuk “lempar tanggung jawab”.

“Ketika nilai matematika ambruk secara nasional, masalahnya bukan di ruang kelas, melainkan di ruang perumusan kebijakan,” ujar Ubaid, dalam keterangannya yang diterima Mojok, Selasa (25/11/2025).

“Ini adalah bukti kegagalan sistem, bukan kegagalan guru,” imbuhnya.

JPPI menegaskan bahwa kesalahan baru bisa dialamatkan pada guru jika persoalan kualitas pembelajaran terjadi pada satu sekolah atau wilayah terbatas. Namun, ketika kompetensi secara nasional merosot berulang kali, yang layak dievaluasi bukan individu para pengajar, melainkan sistem yang mengatur profesi tersebut.

Ketimpangan struktural yang menggerogoti profesi guru

Dalam penjelasannya, JPPI mengurai bahwa persoalan para pendidik tidak dapat dipisahkan dari cara negara memperlakukan mereka. Sistem ketenagakerjaan yang membagi guru ke dalam beberapa lapis status–ASN dan honorer; sekolah negeri dan swasta–hanya menciptakan diskriminasi struktural yang melemahkan martabat profesi. 

Guru dengan beban kerja serupa dituntut untuk menghasilkan kualitas yang sama, tetapi menerima hak, gaji, dan kepastian kerja yang sangat berbeda. Menurut JPPI, sulit berharap pemerataan mutu pendidikan jika para pengajar ini sendiri tidak diperlakukan secara setara.

“Bagaimana mungkin mutu pendidikan merata, jika guru sendiri diperlakukan secara tidak adil? Sistem kasta ini adalah penghinaan dan penghambat utama peningkatan kualitas,” ungkapnya.

Masalah berikutnya muncul dari lingkungan pendidikan calon guru. Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), yang bertugas mencetak tenaga pendidik, dinilai gagal menyiapkan lulusan yang berkompeten untuk mengajar di ruang kelas yang semakin menuntut. 

JPPI menyebut kondisi ini ironis: negara membiarkan sistem pencetak guru bermasalah selama bertahun-tahun, tetapi ketika produk yang dilahirkan tidak memenuhi ekspektasi, justru para pendidik yang menjadi kambing hitam.

Setelah memasuki dunia kerja, problem lain menanti. Program peningkatan kompetensi guru berjalan tanpa arah jangka panjang. Setiap pergantian menteri berarti perubahan kurikulum pelatihan, modul kompetensi, dan paket pendampingan. 

Alih-alih menciptakan pengembangan profesional yang berjenjang dan bertahap, pelatihan sering berubah menjadi kegiatan administratif dan seremonial. Ia diadakan untuk mengejar laporan, bukan transformasi keterampilan.

“Program pelatihan guru seringkali hanya proyek administratif dan seremonial belaka. Tidak ada transformasi kompetensi yang nyata,” tegasnya.

Iklan

Masalah utama: politik anggaran tidak berpihak

Bagi JPPI, seluruh wacana reformasi pendidikan hanya akan menjadi slogan jika negara tidak menyediakan pendanaan yang berpihak pada penguatan guru. Ubaid menilai penyusutan anggaran fungsi pendidikan dan pengalihannya ke program Makan Bergizi (MBG) menunjukkan bahwa pemerintah tidak memahami prioritas pembangunan kemampuan pembelajaran jangka panjang.

JPPI tidak menolak tujuan MBG. Namun, mereka menolak keras jika program itu dijalankan dengan memangkas belanja pendidikan.

“Jika MBG dianggap penting, carilah sumber anggaran lain. Jangan sekali-kali mengorbankan hak konstitusional guru dan masa depan pendidikan bangsa,” tegas Ubaid.

Ia menyebut pemotongan 20% anggaran pendidikan sebagai tindakan brutal yang “menyakiti guru, membunuh motivasi, dan mengubur masa depan anak bangsa”.

Jadikan “alarm” TKA 2025 sebagai momentum perubahan

JPPI mendorong pemerintah menjadikan hasil TKA 2025 sebagai alarm keras untuk membenahi sistem, bukan menyalahkan tenaga pengajar. 

Reformasi yang dimaksud mencakup penghapusan diskriminasi status guru, pembaruan total LPTK, pembangunan sistem pengembangan kompetensi profesional yang berkelanjutan, serta pengembalian alokasi anggaran pendidikan yang memadai, tanpa mengurangi hak guru untuk mendanai program lain.

“Menghormati guru bukan dengan kata-kata manis di Hari Guru, tetapi dengan keberanian politik membenahi sistem pendidikan dan memastikan anggaran berpihak pada semua pendidik, tanpa diskriminasi sekolah-madrasah, negeri-swasta, dan ASN-honorer,” tutup Ubaid.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Omon-Omon MBG 99 Persen Berhasil, Padahal Amburadul dari Hulu ke Hilir atau liputan Mojok lainnya rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 November 2025 oleh

Tags: hari guruhari guru nasional 2025pendidikan indonesiatenaga pendidik
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

pendidikan, lulusan sarjana nganggur, sulit kerja.MOJOK.CO
Ragam

Overqualified tapi Underutilized, Generasi yang Disiapkan untuk Pekerjaan yang Tidak Ada

5 Desember 2025
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, dorong penerapan pendidikan inklusif untuk benahi sistem pendidikan di Indonesia MOJOK.CO
Kilas

Sistem Pendidikan Indonesia Harus Dibenahi: Selama Ini Fokus Seragam, Keunikan Anak Diabaikan

23 September 2025
smart tv, prabowo.MOJOK.CO
Mendalam

Pengadaan Smart TV di Sekolah, Borok Lama Kulit Baru: Saat Kesejahteraan Guru yang Diinginkan, tapi Malah TV yang Datang

15 September 2025
efisiensi anggaran, anggaran pendidikan indonesia.MOJOK.CO
Aktual

Anggaran Pendidikan “Disunat” demi MBG, Pemerintahan Prabowo Abaikan Konstitusi

19 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

flu.mojok.co

Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

9 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Derita anak bungsu. MOJOK.CO

Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah

9 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.