Semakin tinggi tingkat pendidikan, asumsinya peluang untuk sukses akan terbuka lebih lebar. Setidaknya begitulah isi kepala beberapa orang ketika seseorang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi: Kuliah S1 (demi gelar Sarjana) atau bahkan S2 (demi gelar Magister), agar tidak dibayang-bayangi nasib menjadi pengangguran.
Namun, perjalanan hidup tidak melulu tentang hal-hal indah dan mudah sebagaimana yang dibayangkan. Sekolah tinggi-tinggi, bermodal gelar Sarjana bahkan Magister, nyata-nyata tetap saja bisa menyeret seseorang ke dalam jurang pengangguran.
Merujuk data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) dalam Kajian Tengah Tahun (KTT) INDEF 2025, tercatat ada 1,01 juta sarjana yang berakhir menjadi pengangguran.
Sementara laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) berjudul “Membaca Sinyal Putus Asa di Pasar Kerja Indonesia” dalam Labor Market Brief Volume 6, Nomor 11, November 2025 oleh Muhammad Hanri dan Nia Kurnia Sholihah, menyebut, ada sekitar 6.000-an lulusan S2 dan S3 berada di ambang putus asa mencari kerja.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah sistem pendidikan di Indonesia makin tidak relevan dengan dunia kerja? Atau jangan-jangan memang makin susah saja mencari pekerjaan?
Sepanjang 2025, Mojok menerbitkan sekitar 10.000-an reportase di rubrik Liputan dengan beragam topik. Dari 10.000-an reportase tersebut, topik “terlaris” alias yang paling banyak dibaca–hingga dibincangkan di media sosial–adalah topik-topik tentang ironi para lulusan perguruan tinggi di Indonesia.
Reportase-reportase tersebut memotret secara jujur kondisi nyata para lulusan perguruan tinggi yang susah payah setelah masa pendidikannya berakhir, bahkan harus terjatuh dalam nasib yang sebenarnya dihindari: Menjadi pengangguran. Berikut adalah lima reportase di rubrik Liputan Mojok yang paling laris/paling banyak dibaca di sepanjang 2025:
#1 UTBK Ditemani Bapak Naik Bus 7 Jam ke Jogja, Nyesek Gelar Sarjana Cumlaude Tak Ada Artinya karena Tak Bisa Membanggakannya
Reportase ini memuat cerita Hanifa (26), perempuan asal Jombang, Jawa Timur. Ada perasaan sesak tiap kali ia mengenang masa-masa UTBK-SNBT di sebuah kampus di Jogja.
Bapak Hanifa mendorong betul agar putrinya tersebut kuliah. Kalau bisa tidak hanya berhenti di S1, tapi sampai S2 dan S3 sekalian. Meski secara keuangan sebenarnya Bapak Hanifa bukan dari keluarga mapan. Itulah kenapa sang Bapak rela menemani proses perjalanan Hanifa demi lolos perguruan tinggi.
Setelah Hanifa bisa kuliah, sang Bapak bekerja lebih keras agar Hanifa tak terkendala biaya. Sayangnya, saat wisuda, predikat Cumlaude yang Hanifa terima justru tak bisa dibanggakan pada Bapaknya. Cerita lengkap Hanifa bisa dibaca di sini.
#2 Selamat Jalan Tupperware, Terima Kasih Telah Memberikan Trauma Masa Kecil dalam Keluarga
Saat kabar kebangkrutan Tupperware menyeruak, banyak pelanggan turut bersedih. Sebab, brand tersebut telah cukup melakat dalam kehidupan banyak orang. Ucapan terima kasih pun bertebaran.
Namun, ternyata Tupperware secara tidak langsung memberi “trauma” masa kecil bagi Andrea (23) dan Atik (47), dua orang yang sedari kecil hanya bisa mengagumi tanpa bisa memiliki.
Cerita trauma yang mereka dapat dari Tupperware bisa dibaca secara utuh di sini.
#3 Mahasiswa PTN Bohong ke Orang Tua, Mengaku Dapat Beasiswa padahal Diam-Diam Kuliah Sambil Kerja demi Gelar Sarjana
Reportase ini mengikuti cerita Fatimah (23), seorang mahassiwa S1 di sebuah PTN di Semarang.
Ia tumbuh di sebuah desa terpencil di Jawa Timur. Sejak kecil, anak kedua dari tiga bersaudara ini sadar betul kondisi ekonomi keluarganya yang serba pas-pasan. Kakaknya merantau ke Semarang, bekerja demi membantu keluarga. Sementara adiknya masih SMP dan butuh banyak biaya buat sekolah.
Fatimah punya keyakinan: Satu-satunya jalan untuk mengangkat derajat keluarganya adalah dengan pendidikan. Itulah kenapa ia bertekad betul untuk kuliah.
Fatimah pada akhirnya memang bisa kuliah S1 di kampus impian. Namun, ia terpaksa berbohong pada orang tuanya. Ia mengaku dapat beasiswa padahal aslinya diam-diam kuliah sambil kerja. Itu ia lakukan demi tidak membebani orang tuanya. Kisah menyentuh dan penuh perjuangan Fatimah bisa dibaca pelan-pelan di sini.
4# Lulusan S2 Nekat Merantau ke Jakarta karena Muak dengan UMR Jogja: Baru Sebulan Kerja Balik Nganggur, Kantor Bangkrut
Ada banyak alasan seseorang memutuskan kerja di Jakarta. Salah satunya karena UMR yang tinggi di ibu kota. Oleh karena itu, beberapa orang pun nekat meninggalkan kampung halaman mereka buat merantau ke Jakarta–dengan harapan mengubah nasib.
Salah satunya adalah Dito (28). Lelaki asal Jogja itu bertekad meninggalkan kota kelahiran setelah tak kuat dengan kecilnya UMR Kota Gudeg. Padahal, ia merupakan lulusan S2, yang idealnya memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan gaji pantas.
Jakarta justru memberi banyak kepahitan pada Dito. Alih-alih mendapat pekerjaan yang lebih layak, baru sebulan bekerja ia malah terjerembab jadi pengangguran gara-gara kesialan-kesialan tak terduga di ibu kota. Ironis, jujur, dan menggelitik menjadi pengalaman yang Dito bagikan kepada pembaca Mojok. Baca saja di sini.
#5 Lulus Kuliah IPK 3,7 tapi Susah Dapat Kerja Gara-gara Tidak Mendengarkan Nasihat Orang Tua
Hidup memang penuh ironi. Teman-teman bilang, ikuti kata hati. Sementara kata orang tua: ikuti petuah mereka. Nah, Niko (27), dengan penuh kesadaran dan idealismenya, memilih yang pertama.
Hasilnya? Kuliah S1-nya lancar, ia berhasil menjadi sarjana dari PTS di Jogja dengan IPK mentereng: 3,7. Ekspektasinya pun begitu tinggi. Bagaimana tidak: Ia lulus Cumlaude. Selama kuliah aktif juga di UKM yang bikin relasinya lumayan luas. Namun, ekspektasi itu tak sesuai realitas di lapangan.
Lamaran kerjanya bolak-balik ditolak. Yang dikirim tanpa pernah berbalas malah lebih banyak. Alhasil, ia harus rela setahun menganggur dan terpaksa hidup dari freelance serta duit orang tua.
Lantas, bagaimana respons orang tua Niko yang dulu petuah mereka diabaikan? Lika-liku Niko bisa dibaca lengkap di sini.
Menyambut 2026, Mojok akan menyajikan beragam reportase lebih menarik yang bisa ditemukan di rubrik Liputan














