Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

5 Liputan Terpopuler Mojok Sepanjang 2025: Saat Realita Dunia Kerja Menampar Para Sarjana dan Lulusan S2

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
1 Januari 2026
A A
5 liputan terpopuler Mojok 2025. Cerita para sarjana S1 hingga lulusan S2 yang hadapi realitas menjadi pengangguran MOJOK.CO

Ilustrasi - 5 liputan terpopuler Mojok 2025. Cerita para sarjana S1 hingga lulusan S2 yang hadapi realitas menjadi pengangguran. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Semakin tinggi tingkat pendidikan, asumsinya peluang untuk sukses akan terbuka lebih lebar. Setidaknya begitulah isi kepala beberapa orang ketika seseorang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi: Kuliah S1 (demi gelar Sarjana) atau bahkan S2 (demi gelar Magister), agar tidak dibayang-bayangi nasib menjadi pengangguran.

Namun, perjalanan hidup tidak melulu tentang hal-hal indah dan mudah sebagaimana yang dibayangkan. Sekolah tinggi-tinggi, bermodal gelar Sarjana bahkan Magister, nyata-nyata tetap saja bisa menyeret seseorang ke dalam jurang pengangguran.

Merujuk data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) dalam Kajian Tengah Tahun (KTT) INDEF 2025, tercatat ada 1,01 juta sarjana yang berakhir menjadi pengangguran.

Sementara laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) berjudul “Membaca Sinyal Putus Asa di Pasar Kerja Indonesia” dalam Labor Market Brief Volume 6, Nomor 11, November 2025 oleh Muhammad Hanri dan Nia Kurnia Sholihah, menyebut, ada sekitar 6.000-an lulusan S2 dan S3 berada di ambang putus asa mencari kerja.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah sistem pendidikan di Indonesia makin tidak relevan dengan dunia kerja? Atau jangan-jangan memang makin susah saja mencari pekerjaan?

Sepanjang 2025, Mojok menerbitkan sekitar 10.000-an reportase di rubrik Liputan dengan beragam topik. Dari 10.000-an reportase tersebut, topik “terlaris” alias yang paling banyak dibaca–hingga dibincangkan di media sosial–adalah topik-topik tentang ironi para lulusan perguruan tinggi di Indonesia.

Reportase-reportase tersebut memotret secara jujur kondisi nyata para lulusan perguruan tinggi yang susah payah setelah masa pendidikannya berakhir, bahkan harus terjatuh dalam nasib yang sebenarnya dihindari: Menjadi pengangguran. Berikut adalah lima reportase di rubrik Liputan Mojok yang paling laris/paling banyak dibaca di sepanjang 2025:

#1 UTBK Ditemani Bapak Naik Bus 7 Jam ke Jogja, Nyesek Gelar Sarjana Cumlaude Tak Ada Artinya karena Tak Bisa Membanggakannya

Reportase ini memuat cerita Hanifa (26), perempuan asal Jombang, Jawa Timur. Ada perasaan sesak tiap kali ia mengenang masa-masa UTBK-SNBT di sebuah kampus di Jogja.

Bapak Hanifa mendorong betul agar putrinya tersebut kuliah. Kalau bisa tidak hanya berhenti di S1, tapi sampai S2 dan S3 sekalian. Meski secara keuangan sebenarnya Bapak Hanifa bukan dari keluarga mapan. Itulah kenapa sang Bapak rela menemani proses perjalanan Hanifa demi lolos perguruan tinggi.

Setelah Hanifa bisa kuliah, sang Bapak bekerja lebih keras agar Hanifa tak terkendala biaya. Sayangnya, saat wisuda, predikat Cumlaude yang Hanifa terima justru tak bisa dibanggakan pada Bapaknya. Cerita lengkap Hanifa bisa dibaca di sini.

#2 Selamat Jalan Tupperware, Terima Kasih Telah Memberikan Trauma Masa Kecil dalam Keluarga

Saat kabar kebangkrutan Tupperware menyeruak, banyak pelanggan turut bersedih. Sebab, brand tersebut telah cukup melakat dalam kehidupan banyak orang. Ucapan terima kasih pun bertebaran.

Namun, ternyata Tupperware secara tidak langsung memberi “trauma” masa kecil bagi Andrea (23) dan Atik (47), dua orang yang sedari kecil hanya bisa mengagumi tanpa bisa memiliki.

Cerita trauma yang mereka dapat dari Tupperware bisa dibaca secara utuh di sini.

#3 Mahasiswa PTN Bohong ke Orang Tua, Mengaku Dapat Beasiswa padahal Diam-Diam Kuliah Sambil Kerja demi Gelar Sarjana

Reportase ini mengikuti cerita Fatimah (23), seorang mahassiwa S1 di sebuah PTN di Semarang.

Iklan

Ia tumbuh di sebuah desa terpencil di Jawa Timur. Sejak kecil, anak kedua dari tiga bersaudara ini sadar betul kondisi ekonomi keluarganya yang serba pas-pasan. Kakaknya merantau ke Semarang, bekerja demi membantu keluarga. Sementara adiknya masih SMP dan butuh banyak biaya buat sekolah.

Fatimah punya keyakinan: Satu-satunya jalan untuk mengangkat derajat keluarganya adalah dengan pendidikan. Itulah kenapa ia bertekad betul untuk kuliah.

Fatimah pada akhirnya memang bisa kuliah S1 di kampus impian. Namun, ia terpaksa berbohong pada orang tuanya. Ia mengaku dapat beasiswa padahal aslinya diam-diam kuliah sambil kerja. Itu ia lakukan demi tidak membebani orang tuanya. Kisah menyentuh dan penuh perjuangan Fatimah bisa dibaca pelan-pelan di sini.

4# Lulusan S2 Nekat Merantau ke Jakarta karena Muak dengan UMR Jogja: Baru Sebulan Kerja Balik Nganggur, Kantor Bangkrut

Ada banyak alasan seseorang memutuskan kerja di Jakarta. Salah satunya karena UMR yang tinggi di ibu kota. Oleh karena itu, beberapa orang pun nekat meninggalkan kampung halaman mereka buat merantau ke Jakarta–dengan harapan mengubah nasib.

Salah satunya adalah Dito (28). Lelaki asal Jogja itu bertekad meninggalkan kota kelahiran setelah tak kuat dengan kecilnya UMR Kota Gudeg. Padahal, ia merupakan lulusan S2, yang idealnya memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan gaji pantas.

Jakarta justru memberi banyak kepahitan pada Dito. Alih-alih mendapat pekerjaan yang lebih layak, baru sebulan bekerja ia malah terjerembab jadi pengangguran gara-gara kesialan-kesialan tak terduga di ibu kota. Ironis, jujur, dan menggelitik menjadi pengalaman yang Dito bagikan kepada pembaca Mojok. Baca saja di sini.

#5 Lulus Kuliah IPK 3,7 tapi Susah Dapat Kerja Gara-gara Tidak Mendengarkan Nasihat Orang Tua

Hidup memang penuh ironi. Teman-teman bilang, ikuti kata hati. Sementara kata orang tua: ikuti petuah mereka. Nah, Niko (27), dengan penuh kesadaran dan idealismenya, memilih yang pertama.

Hasilnya? Kuliah S1-nya lancar, ia berhasil menjadi sarjana dari PTS di Jogja dengan IPK mentereng: 3,7. Ekspektasinya pun begitu tinggi. Bagaimana tidak: Ia lulus Cumlaude. Selama kuliah aktif juga di UKM yang bikin relasinya lumayan luas. Namun, ekspektasi itu tak sesuai realitas di lapangan.

Lamaran kerjanya bolak-balik ditolak. Yang dikirim tanpa pernah berbalas malah lebih banyak. Alhasil, ia harus rela setahun menganggur dan terpaksa hidup dari freelance serta duit orang tua.

Lantas, bagaimana respons orang tua Niko yang dulu petuah mereka diabaikan? Lika-liku Niko bisa dibaca lengkap di sini.

Menyambut 2026, Mojok akan menyajikan beragam reportase lebih menarik yang bisa ditemukan di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 1 Januari 2026 oleh

Tags: artikel mojokLiputan MojokMojokPengangguranpilihan redaksiS1s2sarjanasarjana pengangguran
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Będą gaya mahasiswa yang kuliah di PTN Universitas Islam Negeri (UIN) dulu dan sekarang MOJOK.CO
Edumojok

Untung Kuliah di UIN Era Dulu meski Ala Kadarnya, Beda Gaya dengan Mahasiswa Sekarang yang Bikin Terintimidasi

5 Maret 2026
Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami para Caregiver MOJOK.CO
Esai

Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami Para Caregiver

4 Maret 2026
Lulusan UT, Universitas Terbuka.MOJOK.CO
Edumojok

Diremehkan karena “Cuma” Lulusan UT, Tapi Bersyukur Nasib Lebih Baik daripada S1-S2 PTN Top yang Menang Gengsi tapi Nganggur

3 Maret 2026
lulusan s2 pilih slow living agar siap hadapi perang dunia 3. MOJOK.CO
Sosok

Lulusan S2 IT, Rela Tinggalkan Gaji 2 Digit demi Jadi Peternak di Desa agar Siap Hadapi Perang Dunia 3

3 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Honda Scoopy Jual Tampang Bikin Malu, Mending Supra X 125

Honda Scoopy yang Cuma Jual Tampang Seharusnya Malu kepada Supra X 125 yang Tampangnya Biasa Saja, tapi Mesinnya Luar Biasa

28 Februari 2026
Bimbel untuk lolos UTBK SNBT agar diterima di PTN

Bimbel UTBK SNBT adalah “Penipuan”: Rela Bayar Mahal demi Rasa Aman dan Jaminan Semu, padahal Tak Pasti Lolos dan Kuliah di PTN

3 Maret 2026
Będą gaya mahasiswa yang kuliah di PTN Universitas Islam Negeri (UIN) dulu dan sekarang MOJOK.CO

Untung Kuliah di UIN Era Dulu meski Ala Kadarnya, Beda Gaya dengan Mahasiswa Sekarang yang Bikin Terintimidasi

5 Maret 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Kurir Alfagift, layanan Alfamart penyelamat pekerja Jakarta

Alfagift, Penyelamat Pekerja Jakarta dari “Mati” Kelaparan karena Kelelahan dan Tak Punya Teman Makan

4 Maret 2026

Video Terbaru

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.