Penyintas Kanker Payudara dan Impian Sederhana Mereka
Photo by Angiola Harry on Unsplash

Penyintas Kanker Payudara dan Impian Sederhana Mereka 

Kasus kanker payudara adalah kasus kanker yang paling banyak diderita oleh perempuan di Indonesia, disusul oleh kasus kanker leher rahim dan kanker lain-lainnya. Mojok berjumpa dengan beberapa survivor atau penyintas kanker payudara dan bagaimana mereka hidup berdampingan dengan penyakitnya.

****

Sebagai manusia yang kebetulan dilahirkan sebagai perempuan, ada satu hal yang paling saya khawatirkan dalam hidup yang berkaitan dengan kesehatan saya. Sebab, kebetulan saya hidup dalam keluarga yang punya riwayat kanker. Ibu saya kanker rahim, kakak perempuan dan nenek buyut saya kanker payudara. Saya khawatir akan riwayat tersebut, mungkinkah saya tidak terkena kanker meski riwayat penyakit mengatakan realitanya?

Saya tahu bahwa perjuangan tiap orang itu berbeda dan saya tidak berhak untuk membandingkan mana yang lebih mending atau mana yang lebih buruk. Namun kali ini, saya hanya ingin mencoba memahami perjuangan orang-orang terpilih dalam menjalani hidupnya sebagai perempuan yang terdiagnosa kanker payudara.


Mengutip Katadata, data dari Global Cancer Observatory 2018 dari World Health Organization kanker payudara menjadi kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia. Dari total 348.809 kasus kanker, sebanyak 16,7 persen atau 58.256 merupakan kanker payudara. Kementerian Kesehatan menyatakan angka kanker payudara di Indonesia mencapai 42,1 orang per 100 ribu penduduk dengan rata-rata kematin 17 orang per 100 ribu penduduk. 

Pengalaman saya menemani kakak saya hingga sisa terakhir nafasnya sebagai penderita kanker payudara adalah salah satu alasan saya melakukan liputan ini.

Gejala awal kanker payudara yang perlu disadari

Mba Yani (49), adalah satu dari sekian perempuan hebat yang telah menjalani hidup berdampingan dengan kanker payudara. Sejak 2017 akhir, beliau merasakan benjolan pada bagian payudara kirinya, namun baru berani menjalani operasi pengangkatan pada April tahun 2018.

“Uhm.. Desember 2017 itu sebetulnya udah merasakan gejalanya, ada benjolan di payudara kiri dan putingnya ketarik ke dalam. Tapi baru berani operasi April 2018. Butuh mental yang kuat buat saya. Bagi saya, sebagai seorang perempuan, payudara itu ibarat mahkota. Mau diambil satu, kepikiran nanti suami gimana. Meskipun ya bisa aja, cuma diambil benjolannya, tapi kan resiko ke depannya ke kesehatan tetap besar. Sehingga alangkah lebih baiknya diangkat saja (payudara yang kena tumor).”

Gejala yang sama juga dirasakan oleh Teh Poppy (45) pada tahun 2011. Mulai dari benjolan, sakit, hingga perubahan pada payudara. “Sekitar tahun 2011 udah ada curiga. Kok ada benjolan di (payudara) sebelah kanan. Seminggu sebelum haid dan setelah haid itu merasa nyeri terus (di bagian payudara), ada juga putingnya ketarik ke dalam, cuman waktu itu ngayem-ngayem diri aja untuk gak terlalu khawatir. Tapi di tahun 2013 itu merasa tambah sakit, dan merasa kalau ini gak bisa dibiarin. Akhirnya ya itu, ke dokter.”

Bu Narto (65) juga mengatakan hal yang sama saat ditanya mengenai gejala awal yang beliau rasakan sebelum didiagnosa kanker payudara. “Berasa ada benjolan. Tapi nggak sakit. Terus kata tetangga disuruh konsumsi obat herbal, itu kalau nggak salah awal tahun 2020. Baru setelahnya, Mei 2020, aku memberanikan diri cek ke dokter dan melakukan operasi pengangkatan payudara.”

Diagnosa kanker payudara yang membuat sesak napas

Baca juga:  Remang-remang Toko Obat Kuat di Yogya

“Didiagnosa kanker payudara rasanya kayak… dunia itu runtuh. Rasa ketakutan akan sebuah kematian itu jelas di depan mata. Terutama, gimana kalau aku kenapa-kenapa sementara anakku masih belum mentas (belum dewasa).” jawab Mba Yani ketika saya tanya mengenai perasaannya saat didiagnosa kanker payudara.

Begitu pula dengan Teh Poppy, yang didiagnosa kanker payudara pada tahun 2013.

“Dokternya bilang ke Teteh, ‘ini kalo saya bilang ke Mbanya, takutnya nanti Mbanya shock‘, terus kata Teteh mah ‘Gak apa-apa dok, bilang aja’. Pas udah dikasih tahu, berasa nafas itu seolah-olah berhenti aja gitu, sejenak.”

Hal serupa juga dituturkan oleh Bu Narto. Beliau didiagnosa kanker payudara pada tahun 2020. Saat dokter memberitahu bahwa beliau mengidap kanker payudara, langsung kepikiran akan kematian.

“Susah, Mba. Waktu itu cuma kepikiran, kok bisa ya, aku dapat penyakit yang kata orang itu menakutkan dan juga mematikan. Aku takut cepet mati,” tutur beliau dengan mata berkaca-kaca.

Terkena kanker payudara karena kurang sedekah

Menjadi perempuan yang mengidap kanker payudara itu tidak mudah. Saya masih ingat perjuangan kakak perempuan saya selama 7 tahun terakhir memerangi kanker payudara. Meski pada akhirnya beliau harus menutup mata untuk terakhir kalinya di pertengahan tahun 2016. 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Lovepink (@lovepinkindonesia)


Dalam perjuangannya sebagai pengidap kanker payudara, ada juga hal mengesalkan dari didiagnosa kanker payudara, yakni mendapatkan stigma dari orang-orang.

“Habis operasi kan, ada yang jenguk, terus aku dibilang kena kanker karena kurang sedekah dan punya salah sama orang tapi aku nggak sadar. Rasanya terpukul banget, bikin down. Sempet konsultasi juga ke ustaz, tapi kata ustaz kita nggak bisa metani dosa-dosa kita, yang bisa dilakukan sekarang ya, memperbanyak hal baik untuk dilakukan,” ujar Mba Yani saat ditanya perihal stigma yang didapatnya dari orang lain.

“Kalau Teteh, pernah dapet stigma juga nggak Teh, ketika didiagnosa kanker payudara?” tanya saya pada Teh Poppy.

“Kalau di daerah asalnya Teteh iya, dibilangnya kurang sedekah, terlalu banyak dosa. Tapi kalau di sini, terutama di lingkungan kerja, paling ngeselin sih dikatain ‘bar kemo kok sambat’, seolah-olah kanker bukan sesuatu yang menguras tenaga dan pikiran. Padahal kalau tahu rasanya badan habis kemo itu gimana, waduh…” jelas Teh Poppy.

Perjuangan dalam menjalani hidup berdampingan dengan kanker payudara pada tiap-tiap individu memang berbeda. Namun satu hal yang perlu diperhatikan oleh orang-orang terhadap perempuan pengidap kanker payudara adalah: tolong jangan suka kasih stigma ngawur. Dikira nggak sulit apa menerima kenyataan harus hidup bersama dengan sel kanker?

“Rasanya kayak… Kenapa Allah seperti ini ke aku? Kenapa Allah gak sayang sama aku? Kok malah aku yang kena kayak gini. Anakku kan, juga masih kecil-kecil, nanti gimana ke depannya…Tapi seiring berjalannya waktu, lebih bisa pasrah dan juga lebih bersyukur menjalani hidup,” ujar Mba Yani saat saya tanya perihal kehidupan setelah didiagnosa kanker payudara.

Begitu juga dengan Teh Poppy ketika saya tanya kehidupan setelah menjadi pengidap kanker payudara. “Seolah-olah hidup Teteh cuma dibatesi sama obat hormonal yang harus diminum lima tahun, sepuluh tahun. Kepikiran, takut juga, ini hidupku bakal nyampai lima tahun nggak ya? Sebenernya sih nggak usah takut, cuma kan, manusiawi ya. Apalagi teteh hidup sendiri di Jogja, jauh dari keluarga. Tapi seiring berjalannya waktu ya, pasrah aja, lah. Toh kalau memang harus berhenti (meninggal), itu udah takdirnya.”

Secara biologis, bentuk tubuh antara laki-laki dan perempuan sangatlah berbeda. Bagi laki-laki, seperti yang kita pelajari saat SD, bentuk dadanya bidang, memiliki penis, dan lain sebagainya. Sedangkan bagi perempuan, memiliki kelenjar payudara yang tentunya tidak membuat dada perempuan bidang meskipun sering ada istilah kutilang darat (kurus tinggi langsing dada rata), memiliki rahim, dan sebagainya.

Baca juga:  Balap Kelereng, Pemuas Dahaga Suporter Sepak Bola di Indonesia

Payudara merupakan salah satu bagian tubuh perempuan yang istimewa yang dimiliki oleh perempuan. Ibarat mahkota, bahkan tidak sedikit perempuan yang berusaha memperbesar payudara atas nama penampilan.

Berbicara mengenai payudara, Teh Poppy sempat insecure dan minder karena salah satu payudaranya harus diangkat.

“Pas awal-awal sih iya, minder. Karena jadi aneh kan, bentuknya nggak simetris. Teteh mikirnya ntar orang-orang jadi aneh gak ya, ngeliat payudara teteh yang satu normal terus yang satu lagi kempes. Tapi seiring berjalannya waktu, dapat support juga dari temen dan keluarga kalau jangan pernah minder dengan penampilan yang tidak sempurna.”

Overthinking mengenai penampilan dan juga pendapat suami setelah menjalani mastek turut dialami oleh Mba Yani.

“Nanti suamiku gimana lihat payudaraku tinggal satu, terus gimana penampilanku nanti,” ujar beliau, namun satu yang pasti bagi beliau adalah, beliau tetap merasa lega karena pusat sel kanker telah terangkat.

Impian sederhana penyintas kanker payudara

Dalam hidup, semua bebas bermimpi. Mau bermimpi menjadi wonder woman, baymax, presiden, ah, pokoknya bebas aja, lah!

Begitu juga dengan para pengidap kanker payudara, terutama para narasumber yang saya tanyai adakah sesuatu yang ingin dilakukan tapi terhalang oleh kondisi penyakit?

“Tahu kan, kalau handuk, atau apa gitu yang ada digantungin di atas? Nah, Teteh cuma pengen bisa ngulurin tangan buat ambil gantungan yang ada di atas. Tapi ya, Teteh nggak bisa. Soalnya bagian sini nih, (menunjuk di bagian kanan payudara), masih sakit apalagi kalau ketarik. Teteh pengennya bebas bergerak, sih,” jawab Teh Poppy sambil memeragakan sedang meraih gantungan baju yang ada di atas dengan tangan kanan dan kiri bergantian.

“Nih, gini nih, tapi nggak bisa kalo pake tangan kanan, soalnya sakit,” sambung Teh Poppy sambil mengangkat tangan kanannya sedikit.

Hampir sama dengan Teh Poppy, Mba Yani juga menuturkan bahwa beliau ingin bisa bergerak bebas, banyak beraktivitas. Tapi saat ini tidak bisa lagi terlalu banyak bergerak, sebab sebagai pengidap kanker, harus tahu kapan untuk berhenti dan istirahat ketika sinyal capek sudah muncul agar kondisi tidak ngedrop.

“Pengen kerja keras, tapi udah nggak mungkin lagi,” katanya. Saya mengangguk memahami ketika mendengar jawaban dari Mba Yani.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Lovepink (@lovepinkindonesia)

Bu Narto, sebagai seorang Ibu yang juga seorang petani, mengaku sekarang tak bisa melakukan hal-hal yang dulu dilakukan sebelum mengidap kanker payudara, apalagi setelah melakukan operasi.

“Dulu saya di desa kerjaannya mecah-mecah kayu, ngurus kebun, ya gitu-gitu. Sekarang mah, sama bapak (suami beliau) cuma dibolehin yang ringan-ringan aja. Bahkan untuk nyuci sebenernya ngga boleh, tapi ya gimana, sebagai istri saya gak enak juga. Jadi tetep dilakuin aja, yang pasti pelan-pelan. Soalnya di bagian ini (payudara kanan yang terkena kanker) rasanya agak kaku, dan kurang bebas aja untuk gerak-gerak. Takut jahitan bekas operasinya lepas,”

Dukungan mental dan semangat dari dalam diri

Baca juga:  Elu Pengin Mati?

Rasa capek selama berobat karena terkena kanker itu memang ada. Saya teringat ketika kakak perempuan saya bolak-balik ke rumah sakit untuk disedot cairan dalam paru-parunya karena kanker yang semula di payudaranya ternyata merembet ke paru-paru. Berkali-kali beliau mengeluh capek, menangis, ingin berhenti saja. Butuh perjuangan panjang untuk menghadapi sakit seperti kanker payudara ini. 

Hal yang sama tentunya dirasakan oleh Mba Yani dan Teh Poppy. Capek itu ada, tapi keduanya sepakat bahwa dukungan mental dan kehadiran secara fisik itu sangat membantu pemulihan capek dan menyuntikkan semangat. Sebab, perkembangan sel kanker juga dipengaruhi oleh siklus hormon, termasuk hormon yang bikin sedih, stres, dan juga bahagia.

“Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa sedih itu pasti hadir ya, makanya dukungan secara mental dan verbal itu dibutuhkan banget untuk menguatkan, ngasih semangat,” kata Mba Yani.

Teh Poppy menambahkan, bahwa dukungan yang dibutuhkan oleh pengidap kanker itu diharapkan datang dari orang terdekat. Seperti keluarga, teman, apalagi yang sudah punya pasangan juga harus mendukung pasangannya yang mengidap kanker. Kanker apapun itu, pasti membutuhkan dukungan nyata secara mental dan juga verbal.

Jika ditanya, bagaimana usaha menjalani hidup berdampingan dengan sel kanker, antara Mbak Yani, Teh Poppy, dan Bu Narto pada intinya semuanya sama, yakni tetap semangat dan berpikiran positif.

“Kalau aku sih, selalu berpikir senang ketika berobat. Jarang banget merasa putus asa, karena aku selalu memiliki keyakinan bahwa ini adalah salah satu ikhtiarku untuk sembuh, supaya bisa melihat anak-cucu nantinya. Momong mereka,” jawab Bu Narto ketika saya tanya adakah satu rahasia yang membuat beliau tetap semangat berobat.

Saya juga bertanya pada Mba Yani, adakah sesuatu yang ingin disampaikan pada teman-teman pengidap kanker lainnya agar tetap semangat berobat dan menjalani hidup?

“Kena kanker itu artinya kita harus lebih bisa menikmati hidup dengan bahagia. Rasanya sayang ketika udah melewati proses panjang, berobat, operasi, dan sebagainya tapi gak bahagia dan malah putus asa. Buat para pengidap kanker, aku cuma mau bilang, ayo kita sama-sama berjuang, semangat!”

Saat saya menanyakan hal yang sama pada Teh Poppy seperti yang saya tanyakan pada Mba Yani, Teh Poppy sedikit tertawa.

“Aduh, Teteh juga butuh support lho ini, hahaha. Tapi kalau dari Teteh sih ya, cuma mau pesen, tetaplah berusaha menikmati hidup. Jangan berhenti melakukan hal baik, semisalnya sedekah sambil meminta dido’akan yang terbaik buat kita. Soalnya kita kan, nggak tahu do’a baik siapa yang akan dikabulkan?”

BACA JUGA : Hijrahnya Penjual Miras, Jus, dan Tak Bijaknya Peminum adalah Masalah dan liputan lainnya di SUSUL.