Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Curhat Puan Maharani: Berat Jadi Perempuan di Indonesia

Kenia Intan oleh Kenia Intan
19 Januari 2023
A A
puan maharani menangis

Ilustrasi Puan Maharani (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani masih merasakan perlakuan-perlakuan tidak adil karena statusnya sebagai perempuan. Kondisi ini membuatnya merenung, apakah memang Indonesia belum siap dipimpin oleh seorang perempuan? 

Puan merasa berat menjadi perempuan di Indonesia. Apalagi di dunia politik, ia merasa sering kali kemampuannya tidak diakui hanya karena dia perempuan.

“Memang tidak ada yang mengatakan kamu kan perempuan, tetapi saya merasakan, kalau memang masih bisa yang bukan perempuan kenapa harus perempuan,” jelas Puan dalam kanal Youtube Kompas TV.

Pengalaman ini membuat Puan merenung, kalau dia saja yang sudah memiliki perjalanan panjang di politik masih sering dinilai seperti itu, bagaimana dengan perempuan-perempuan lain? Perasaan inilah yang membuncah, sehingga Puan menangis saat berpidato dalam rangka menerima gelar doktor honoris causa dari Pukyong National University, Korea Selatan pada 7 November 2022. Videonya pun viral.

Dalam pidato tersebut, Puan mengibaratkan laki-laki dan perempuan bagai dua sayap seekor burung. Jika dua sayapnya sama kuatnya, terbanglah burung itu setinggi-tingginya. Jika patah salah satu sayapnya, maka tak akan dapat burung itu terbang sama sekali.

“Inilah semangat yang harus kita tanamakan bersama dalam membangun kehidupan demokrasi, di mana perempuan dan laki-laki memiliki harkat martabat yang sama. Negara tidak mungkin sejahtera dan maju jika perempuannya tertinggal,” ungkap Puan.

Lingkungan yang tidak adil membuat perempuan mesti kerja dua kali lipat untuk membuktikan bahwa dirinya memiliki kapasitas dan kapabilitas. Perempuan memang bisa berperan sebagai istri maupun ibu, tetapi seharusnya tidak dibatasi hanya karena gendernya.

Puan selalu teringat perkataan ibunya, politikus senior Megawati Soekarnoputri. Mega mengatakan kepada Puan, sebenarnya yang mereka lakukan dan jalani saat ini tidak hanya untuk diri sendiri saja. Terjun ke dunia politik juga untuk memperjuangkan perempuan-perempuan di seluruh Indonesia yang terbelenggu ketidakadilan. Seharusnya, perempuan dan laki-laki berjalan sejalan dalam demokrasi.

Sebenarnya apa yang dialami Puan adalah salah satu bentuk kekerasan politik terhadap perempuan. Dilansir dari Rumah Pemilu, United Nation dalam “Violence Against Women in Politics” (2014) mendefinisikan kekerasan terhadap perempuan dalam politik sebagai kekerasan yang terjadi di ranah politik, yang secara khusus menyasar perempuan. Kekerasan ini membatasi mobilitas dan kapasitas perempuan untuk berpartisipasi dalam ranah politik, yang sangat mungkin mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan fisik, seksual atau psikologis bagi politisi perempuan.

Studi Inter-Parliamentary Union (IPU) pada 2016 menunjukkan 81,8 persen perempuan anggota parlemen yang disurvei dari seluruh dunia pernah mengalami intimidasi psikologis, seperti kehadiran mereka tidak dianggap penting, pendapat mereka tidak dianggap serius, bahkan mereka tidak diberikan waktu bicara yang sama seperti laki-laki anggota parlemen.

Tentu kondisi semacam ini akan berdampak buruk apabila terus didiamkan. Serangan terhadap perempuan bisa melemahkan kredibilitas perempuan sebagai pengambil keputusan. Bukan tidak mungkin akan berujung pada pembungkaman suara dan keterlibatan perempuan di ruang publik. Termasuk kian menjauhkan perempuan dari politik.

 

Penulis: Kenia Intan
Editor: Amanatia Junda

 

Iklan

BACA JUGA Perlu Tahu! Apa Saja Bentuk Kekerasan terhadap Perempuan di Ruang Politik?

 

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2023 oleh

Tags: demokrasikesetaraan genderPemilu 2024perempuanpolitikPuan Maharani
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti
Video

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti

28 Oktober 2025
Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai
Video

Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai

25 Oktober 2025
Indonesia krisis fatherless. MOJOK.CO
Ragam

Apresiasi untuk Ayah yang Antar Anak ke Sekolah Hanyalah Perayaan Simbolis, Pemerintah Belum Selesaikan Masalah Utama

15 Juli 2025
Feri Amsari: Partai Politik Adalah Masalah Terbesar Bagi Demokrasi Kita
Video

Feri Amsari: Partai Politik Adalah Masalah Terbesar Bagi Demokrasi Kita

1 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

25 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)

Karena Cinta dan Setia, Rela Membeli 11 Motor Honda tapi Berakhir Kecewa karena Honda Scoopy Hanya Jual Tampang tapi Mesinnya Menyedihkan

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.