Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Status

Sebagian dari Diri Saya Senang HTI Dibubarkan

Redaksi oleh Redaksi
27 Juli 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengatakan pemerintah daerah telah diimbau membina para mantan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), agar meninggalkan ajarannya yang bertentangan dengan Pancasila,” demikian pembukaan berita “Kemendagri Minta Pemda Bina Mantan Aktivis HTI”. Kedengaran akrab, ya?

 Dandhy Dwi Laksono:

SAYA SENANG PERPPU ORMAS

Ada bagian dari diri saya yang senang dengan pelarangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ada banyak hal yang membuat kita bisa belajar.

Sebab, belakangan orang makin enteng menyebut “sesat” keyakinan lain sehingga ibadahnya layak diganggu atau pengikutnya bisa dibunuh seperti warga Ahmadiyah di Cikeusik (2010).

Diaduk dengan kepentingan politik lokal, lima tahun lalu 300-an warga Syiah di Sampang, Madura, diusir dari kampung halamannya dan menjadi pengungsi di Sidoarjo. Hingga kini.

Kampanye pelarangan Syiah bahkan dilakukan secara terstruktur dan sistematis.

Kampung pengikut Gafatar dibakar di Kalimantan Barat. Sementara dengan dalih tak berizin, orang diusir dari rumah-rumah ibadahnya sembari siang malam pengusirnya berkhotbah bahwa “setiap jengkal tanah di bumi ini adalah tempat ibadah”. Orang-orang dengan pemikiran sefilosofis dan sedahsyat itu tiba-tiba ribut soal selembar IMB.

Jika ada pengikut atau simpatisan HTI yang mendukung pembubaran diskusi, nobar, atau pementasan teater yang dianggap “kekiri-kirian”, ada bagian dari diri saya yang berharap agar setelah Perppu Ormas ini keluar, polisi benar-benar melaksanakan ancamannya untuk membubarkan semua kegiatan HTI sekalipun kegiatan itu dilakukan secara damai dan tidak mengganggu kepentingan orang lain.

Ada bagian dari diri saya yang ikut bersorak ketika pendukung Jokowi mencibir para pendukung Khilafah dengan kalimat, “Menolak sistem hukum thaghut tapi mau pakai Mahkamah Konstitusi.”

Itu jleb banget.

Atau, “Mau membubarkan NKRI, tapi tidak mau dibubarkan.”

Itu juga jleb.

“Membenci sistem demokrasi tapi menolak dibubarkan dengan alasan tidak melalui cara-cara demokratis”.

Iklan

Jleb, se-jleb-jlebnya jleb.

Namun, otak kita terlalu penting untuk dibiarkan terbuai dalam bully-bully-an seperti itu. Apalagi Perppu Ormas ini hakikatnya sama saja dengan Tap MPRS XXV/MPRS/1966 yang melarang ajaran Marxisme atau Komunisme.

Gus Dur sudah lama geram dengan Tap MPRS ini dengan alasan, “Kita harus mengacu kepada UUD 45. Karena UUD 45 memberikan kebebasan berfikir, berorganisasi, berkumpul dan menyatakan pendapat. Ini adalah hal-hal prinsipil yang harus digunakan dalam hidup berbangsa.”

Gus Dur benar. Bagaimana sebuah gagasan bisa dilarang? Entah itu Komunisme, Khilafah, NKRI Gemah Ripah, atau pun “Sekte Hari Kiamat”. Bagaimana bisa orang-orang dengan gagasan dan bahan bacaan yang sama ini dilarang berkumpul, berdiskusi, dan berkampanye mengajak orang lain sejauh tidak dilakukan dengan cara-cara kekerasan?

Inggris yang kerap diguncang teror bom tetap bisa membedakan antara aksi terorisme dan kebebasan berorganisasi. Hizbut Tahrir tidak dilarang di Inggris. Pelaku terornya yang tidak ditolerir.

Berbeda dengan NKRI yang membantai ratusan ribu hingga jutaan orang setelah peristiwa ‘65. Para korban itu tidak tahu-menahu peristiwa Lubang Buaya atau terlibat dalam perang dingin global antara blok Soviet atau China yang mendukung Sukarno melawan blok Amerika yang menyokong barisan jenderalnya Soeharto.

Tak puas dengan membantai para simpatisan, anak cucunya yang tak tahu hal ihwal juga dipersulit hidup. Tak bisa jadi PNS, KTP-nya ditandai, dan jalan rezekinya dihambat.

Kebodohan berlanjut hingga pelarangan simbol-simbol, seperti palu arit yang notabene menjadi simbol partai komunis seluruh dunia. Tidak hanya dipakai oleh PKI, tapi juga Partai Komunis Palestina yang sama kerasnya dengan Hamas dalam menentang zionisme Israel.

Bahkan lagu rakyat Banyuwangi seperti “Genjer-Genjer” atau “Tandur Jagung” yang sudah ada sejak 1946 dan tidak tahu-menahu soal aksi pasukan Tjakrabirawa ikut diseret-seret hingga hari ini.

Lantas dengan kekejaman para teroris ini, mengapa kita tidak melarang simbol-simbol Islam yang juga mereka gunakan? Mengapa kita tidak melarang lagu yang kebetulan ada di playlist ponsel teroris yang tumpas terkena bomnya sendiri?

Ada dua kemungkinan: pertama, mungkin karena kita berstandar ganda (“Beda dong komunis sama teroris.”).

Atau kedua, karena kita memang tidak ingin bodoh seperti Orde Baru dan pengikutnya.

Perppu Ormas ini harus ditolak. Namun, dalam prosesnya, mudahan-mudahan banyak yang menarik pelajaran bahwa memberangus gagasan atau keyakinan adalah tindakan semena-mena. Juga hak berserikat, berkumpul, dan mewujudkan gagasan tanpa melalui kekerasan.

“Jangan naiflah. Arab Saudi saja melarang Hizbut Tahrir.”

Silakan kalau ada yang senang standar demokrasinya disamakan dengan negara yang melarang perempuan menyetir mobil itu.

Dandhy Dwi Laksono: Unjuk rasa menolak Perppu Ormas ditolak polisi. Jadi setelah HTI, korban Perppu Ormas ini adalah kebebasan menyampaikan pendapat.

What next?

Semua tangkapan gambar milik Dandhy Dwi Laksono

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2021 oleh

Tags: AhmadiyahGafatarHTIPerppu OrmasSyiah
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

diskusi ormas mojok.co
Politik

Tak Hanya HTI dan FPI, Sejak Indonesia Merdeka Ormas Dibubarkan Gara-gara Politik

10 Juni 2022
Menjadi Radikal Bisa Diawali dari Kebiasaan Membatasi Teman
Pojokan

Harus Diakui, Potensi Jadi Radikal Ada di Setiap Orang

16 Januari 2022
Esai

Pakai GPS, Sering Baca Al-Quran, Literasi Bagus tapi Masih Tersesat

27 September 2021
Yang Terjadi kalau GAM Menang dan Aceh Merdeka sebagai Negara
Esai

Yang Terjadi kalau GAM Menang dan Aceh Merdeka sebagai Negara

16 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang MOJOK.CO

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

20 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.