Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Status

Alasan di Balik Pengusiran Biksu Mulyanto dari Desanya Sendiri di Tangerang

Redaksi oleh Redaksi
11 Februari 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Biksu dari Tangerang bernama Mulyanto Nurhalim diusir karena warga takut jadi murtad.”

Sabtu, 10 Februari 2018, sebuah video tersebar luas di dunia maya menampilkan seorang biksu yang membaca sebuah surat perjanjian di hadapan warga yang mayoritas mengenakan peci. Bukan surat perjanjian biasa, isi surat ini cukup menyita perhatian para penontonnya.

Melalui akun Facebook Niluh Djelantik, video ini dibagikan pula dalam cuitan akun Twitter @MProjo2019.

https://twitter.com/MProjo2019/status/962231359375777792

Transkrip audio dari video tersebut adalah,

“… sembilan belas tujuh lima. Alamat, Kebon Baru, RT 01 RW 01, Kecamatan Legok, Tangerang, Banten. Pekerjaan, pemuka agama. Pada hari ini, tanggal 4 Februari 2018, (di) tempat: Babat, Desa Babat, RT 01 RW 001, menyatakan untuk meninggalkan Kampung Babat, Desa Babat, Kecamatan Legok, dalam kurun waktu 1 minggu, dari tanggal 4 Februari 2018 sampai hari Sabtu, tanggal 10 Februari 2018. Dan saya pun berjanji untuk tidak melakukan ritual atau ibadah dan melakukan kegiatan yang bersifat melibatkan warga umat Buddha yang menimbulkan keresahan warga Desa Babat. Apabila di kemudian hari saya melanggar surat pernyataan ini, maka saya bersedia diproses sesuai hukum yang berlaku. Demikian surat pernyataan ini saya buat dalam keadaan tidak ada tekanan dari pihak manapun dan dalam keadaan sehat jasmani rohani. Yang menyatakan, Mulyanto Nurhalim. Gitu ya, Pak?

“Tanda tangan dulu, tanda tangan dulu (suara dari arah depan kamera).”

Adalah Mulyanto Nurhalim, seorang biksu yang menjadi sosok sorotan dalam video. Meski Indonesia telah mengakui secara resmi 6 agama, termasuk Buddha, Biksu Mulyanto harus menerima kenyataan bahwa dirinya mesti membuat surat pernyataan yang menegaskan bahwa ia tidak akan lagi melakukan kegiatan ibadah keagamaannya di desanya sendiri.

Cerita bermula dari adanya rencana kebaktian umat Buddha dengan melakukan tebar ikan di Kampung Kebon Baru, Desa Babat, yang disambut penolakan oleh warga. Tak hanya itu, Biksu Mulyanto sendiri tidak diterima warga karena dianggap akan mengajak para warga untuk memeluk agama Buddha. Maka, ia pun sempat diminta angkat kaki.

Perlu diketahui, Mulyanto Nurhalim adalah warga asli Desa Babat yang telah memiliki KTP resmi dan sesungguhnya berhak tinggal di Desa Babat tadi.

Berangkat dari penolakan-penolakan tadi, keresahan warga semakin berkembang. Puncaknya, hari Rabu (7/2/2018), sebuah pertemuan antartokoh agama pun dilakukan, bersama dengan Kapolsek Legok, Camat Legok, dan Kepala Desa Babat.

Dalam pertemuan, warga menyebutkan bahwa mereka mencurigai penggunaan rumah Biksu Mulyanto sebagai tempat ibadah, bukan rumah tinggal, karena adanya umat Buddha yang datang ke rumah Biksu Mulyanto. Namun ternyata, kedatangan mereka hanya bertujuan memberi makan biksu, bukan beribadah.

Dengan demikian, kasus ini kabarnya telah diselesaikan secara kekeluargaan karena merupakan sebuah kesalahpahaman.

Pada akhirnya, mereka meminta Biksu Mulyanto untuk tidak memasang ornamen kegiatan ibadah umat Buddha yang tampak mencolok karena menimbulkan kecurigaan warga, contohnya patung.

Iklan

Yha, you read it right: tidak boleh memasang ornamen ibadah agama Buddha yang mencolok (?) dan harus disingkarkan ke dalam rumah. Nga boleh keliatan warga pokoknya mah~

Pada pemberitaan yang sesungguhnya mengiris-iris hati, video ini mendapat sekian banyak tanggapan dari netizen. Kebanyakan dari mereka menyayangkan aksi persekusi yang dilakukan warga kepada Biksu Mulyanto.

@jokoanwar:

Saya sudah tidak mampu berkata-kata. Ini bukan Indonesia yang saya kenal. Marah, sedih. Apakah sudah pantas putus asa?

@ASapardan:

Gak ada paksaan gimana. Persekusi, pastilah kalian memaksanya. Pak Polisi segera tangkap semua orang” koplax ini. Usut tuntas.

@msmoody99:

Terkoyak hati melihat ini. Seginikah susahnya utk jadi minoritas di negara yg katanya berlandaskan Pancasila dan UUD, yg Katanya negara yg punya banyak keberagaman tp tetap satu, beribadah saja sulit. Giliran minoritas salah dikit lgsg dipenjara :'(

@natanbudiman:

Indonesia ini cuma punya satu agama saja ya?

@EtsasBrema:

Kita semua warga negara berhak atas kesempatan utk beribadah dan dilindungi oleh undang-undang untuk melakukannya, sedih sekali melihat yg satu ini. Inikah Tirani Mayoritas?

@Yessyumma:

Gimana sama pengajian rutin RT RW nya ibuk2 coba. Bergiliran rumah tiap bulan. Keyakinan pribadi segala pake diatur2.

Sedihkah kamu membaca kabar ini? Yha, sama.

Ternyata, yang berat itu bukan rindu, seperti kata Dilan.

Sungguh, bagi beberapa orang, yang berat itu toleransi.

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2018 oleh

Tags: biksudiusiribadahintoleransilegok tangerangMulyanto Nurhalimpersekusi
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

intoleransi, ormas.MOJOK.CO
Ragam

Pemda dan Ormas Agama, “Dalang” di Balik Maraknya Intoleransi di Indonesia

19 September 2025
sholat tahajud. mojok.co
Sosial

Cara Sholat Tahajud: Panduan, Niat, Doa, hingga Keutamaannya  

1 Oktober 2023
Ilustrasi daerah di Indonesia yang tidak toleran. MOJOK.CO
Kilas

10 Kota Paling Tidak Toleran di Indonesia, Cilegon Nomor Pertama

14 April 2023
Musala di sarkem
Jogja Bawah Tanah

Kisah Bram, Takmir Musala di Tengah Lokalisasi Sarkem dan LC yang Melantunkan Ayat Al-Qur’an

28 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026
Gagal seleksi PPPK dan CPNS meski daftar di formasi PNS atau ASN sepi peminat. Malah dapat kerja yang benefitnya bisa bungkam saudara yang sebelumnya menghina MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina

9 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.