Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Pendidikan

Curhatan Cita-cita Anaknya ‘Dibunuh’ Guru Viral di Medsos, Dosen Asal Bantul Ini Berharap Perbaikan Kualitas Guru

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
24 Februari 2023
A A
cita-cita anak mojok.co

Tangkapan layar thread akun @bambangwn di Twitter.

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Media sosial Twitter ramai membahas unggahan dosen asal Bantul, Bambang W Nugroho yang curhat masalah anak perempuannya. Dalam thread-nya @bambangwn menyampaikan cita-cita puterinya “dibunuh” oleh guru.

Puteri Bambang mengalami trauma berkepanjangan dan mengalami halusinasi hingga harus mendapatkan terapi selama setahun. Hal ini terjadi akibat cibiran salah seorang guru akan pilihan cita-citanya sebagai penyanyi alih-alih profesi lain seperti dokter, polisi, guru ataupun pilot pada saat kelas VIII di salah satu SMP. Curhatan Bambang kemudian viral dan mendapat banyak respon dari warganet.

“Saya baru tahu cita-cita anak saya “dibunuh” gurunya justru saat dia sembuh dari terapi beberapa bulan lalu,” ujar Bambang, Kamis (23/02/2023).

Bambang bercerita, saat kelas VIII pada 2010 lalu, gurunya bertanya cita-cita anaknya ingin menjadi apa saat dewasa. Sang puteri yang sejak kecil suka sekali menyanyi dan ikut berbagai perlombaan dengan bangga dan lantang menyatakan ingin menjadi penyanyi.

Namun alih-alih mendukungnya, guru tersebut justru mempertanyakan cita-cita anaknya. Guru tersebut meminta puteri Bambang untuk memiliki cita-cita yang lebih baik seperti yang teman-teman sekelasnya yang ingin menjadi dokter, guru, polisi, pilot, dll.

Puteri Bambang tak menyangka permintaan sang guru yang mengkoreksi cita-citanya. Dia pun dengan lirih meralat cita-citanya dari penyanyi menjadi dokter.

Sejak perbincangan di kelas itu, puteri Bambang pun tidak pernah lagi mau bernyanyi dan bermain musik dan ikut perlombaan serta pentas. Puterinya yang biasanya belajar musik di studio pribadi bersama guru musik pun tak lagi mau belajar bermain musik.

Cita-cita berubah karena guru

Bambang saat itu hanya berpikir hilangnya minat puterinya karena diminta belajar alat musik yang tak dikuasainya. Namun ternyata hal itu berlanjut hingga SMA saat memilih kelas IPA demi bisa masuk Fakultas Kedokteran.

“Kami saat itu juga berpikir mungkin puteri saya hanya ingin mengubah orientasi masa depannya untuk jadi dokter karena tidak ada tanda-tanda lainnya,” paparnya.

Saat lulus SMA, puteri Bambang berjuang keras masuk Fakultas Kedokteran. Tak diterima di perguruan tinggi negeri, dia berjuang keras ikut ujian tiga kali untuk bisa diterima Fakultas Kedokteran salah satu kampus swasta.

Namun sifat puterinya yang awalnya periang, komunikatif, sopan seiring waktu berubah total. Dia menjadi pribadi pemberontak, penyendiri, dan terasing. Selama tiga tahun kuliah di fakultas itu, dia menjadi sosok yang pemarah, reaktif, dan tidak pernah mau kalah, terlebih saat bersitegang dengan keluarganya.

“Hubungan kami memburuk, termasuk pada kakak dan adiknya. Saat berantem, dia selalu ngotot dan merasa paling benar. Bahkan menggunakan teori-teori kimia dan fisika dengan grafik untuk membantah kami dan mempertanyakan kami tahu apa, tapi tulisannya tidak masuk akal semua. Ini berbeda sekali dengan puteri kami yang dulu. Dia keras hanya pada kami, tapi pada orang lain tetap santun,” paparnya.

Alami halusinasi

Bambang menambahkan, kondisi mental puterinya semakin memburuk saat semester akhir. Kurang tidur, dia sering terlihat mengalami gangguan halusinasi setiap malam.

Melihat kondisi kesehatan mental anaknya terganggu, akhirnya Bambang memeriksakannya ke psikiater. Dugaan mereka benar, terjadi ketidakseimbangan hormonal dalam tubuh puterinya membuatnya berhalusinasi.

Iklan

Menjalani perawatan terapi selama setahun oleh psikiater, puterinya pun menunda untuk ikut KoAs untuk bisa menjadi dokter. Perawatan itu membuat fisik sang anak yang melemah dan daya pikirnya melambat akibat efek samping obat yang diminum.

Namun puterinya bisa kembali tenang setelah beberapa bulan mengikuti terapi. Dia mulai lagi menyanyi dan belajar musik.

“Saat mulai sembuh itu, dia baru cerita kalau mendapatkan perlakuan buruk dari guru di SMP. Dia yang ingin jadi penyanyi dipatahkan cita-citanya oleh guru, barulah masalah ini terungkap,” jelasnnya.

Tak ingin puterinya kembali bermasalah, Bambang pun akhirnya menanyakan keinginan puterinya. Dia dengan keyakinan penuh menyampaikan tidak lagi berminat menjadi dokter dan ingin kembali bermusik.

Mundur dari dunia kedokteran

Mendengar itu, Bambang pun membuat surat pernyataan pengunduran diri anaknya dari program profesi Kedokteran. Puterinya dibebaskan untuk melanjutkan pendidikan di manapun sesuai keinginannya.

“Puteri saya kan sudah dapat ijazah sarjana kedokteran. Ya sudah karena tidak ingin meneruskan KoAS untuk jadi dokter, dia bisa lanjut pendidikannya kemana saja. Sekarang sudah bisa menyanyi yang merupakan hobinya yang lama. Ini yang melegakan kami,” ungkapnya.

Bambang berharap peristiwa ini bisa menjadi pembelajaran untuk semua pihak. Thread-nya di Twitter akhirnya membuka isu serupa yang warganet alami. Bambang pun mengharapkan ada perubahan dari cara mendidik guru.

Dari kasus itu ternyata ada masalah dalam pendidikan guru atau tenaga pendidik. Guru sebagai pendidik tidak tuntas dalam belajar.

Banyak di antara mereka hanya medioker yang merasa kebenaran mutlak ada padanya. Bukan yang benar-benar berbakat dan berminat menjadi tenaga pendidik dan terampil mendidik murid, termasuk menguasai psikologi perkembangan dan lainnya.

“Ini banyak sekali terjadi, terutama di masa rentan SMP karena guru hanya jadi medioker. Banyak guru yang bangga muridnya hanya pintar matematika tapi tidak pintar antri. Ada guru yang tidak mengajarkan [siswa] mereka mau saling menghargai dan meningkatkan toleransi. Malah mereka dididik untuk menjelek-jelekkan dengan kebiasaan yang dianggap aneh. Itu yang perlu perombakan,” tandasnya.

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA 4 Dampak Buruk ChatGPT, Pintar Ciptakan Hoaks hingga Bisa Matikan Profesi

 

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2023 oleh

Tags: cita-citacita-cita anakguruPendidikanSMP
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO
Esai

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Jalan rusak di Taniwel, Maluku. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ratusan Anak Sekolah di Kabupaten Seram Bagian Barat Dibiarkan Menderita dari Tahun ke Tahun oleh Maluku

30 Maret 2026
Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO
Kilas

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026
guru, stem, guru honorer, pns.MOJOK.CO
Edumojok

Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM

31 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kuliah s2.MOJOK.CO

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.