Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Pameran PAYAU Iwan Yusuf di EDSU Jogja: Sebuah Ambang yang Menantang Persepsi

Redaksi oleh Redaksi
27 November 2025
A A
Pameran PAYAU Iwan Yusuf di EDSU House Jogja MOJOK.CO

Pameran PAYAU Iwan Yusuf. (Edsu House Jogja)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

EDSU house mempersembahkan PAYAU, pameran tunggal terbaru dari perupa Iwan Yusuf. Pameran ini berlangsung pada 21 November 2025 hingga 1 Februari 2026 di ruang galeri EDSU house, Jl. Kaliurang, Sleman.

Pameran ini menandai fase baru dalam dua dekade perjalanan artistik Iwan, menghadirkan eksplorasi terkininya dengan medium jaring pukat harimau bekas yang ia olah menjadi instalasi site-specific di dalam ruang galeri.

PAYAU menjadi titik kulminasi dari dua puluh tahun eksplorasi Iwan, dari lukisan hiper-realis, patung, hingga land art, yang akhirnya bermuara pada bahasa visual berbasis jaring yang ia kembangkan hari ini.

Pameran PAYAU Iwan Yusuf MOJOK.CO
Pameran PAYAU Iwan Yusuf.

Pemeran PAYAU: karya-karya dalam posisi serba-atau

Pameran ini tidak hanya mengangkat jaring sebagai objek instalasi tetapi sebagai titik peralihan dan medan tarik-menarik antara laut dan darat, antara fungsi asalnya di dunia nelayan dan posisinya yang baru di dalam ruang galeri.

Judul PAYAU merujuk pada wilayah percampuran, tempat di mana air tawar dan air asin
saling bersinggungan. Metafora ini diterjemahkan ke dalam cara Iwan memindahkan jaring dari lingkungan asalnya ke dalam ruang kubus putih milik EDSU.

Di ruang galeri, medium tersebut mengalami pergeseran makna. Jaring pukat harimau bukan lagi material fungsional, melainkan struktur visual yang menggantung antara dua dimensi dan tiga dimensi.

Pameran PAYAU Iwan Yusuf MOJOK.CO
Pameran PAYAU Iwan Yusuf. (Edsu House Jogja)

Melalui proses yang dimulai dari gambar arang di atas kertas, lalu dirakit ulang ke dalam skala besar, Iwan mengejar ketegangan antara bidang datar dan ruang. Hasilnya adalah karya-karya yang memunculkan ilusi visual.

Dari kejauhan karyanya tampak datar dan menempel pada dinding, tetapi ketika didekati, bentuknya terasa meruang dan bergerak, menciptakan kesan ambigu antara gambar dan instalasi. Seperti rasa payau itu sendiri, karya-karya ini berada dalam posisi serba-atau, tidak sepenuhnya lukisan, tapi juga tidak sepenuhnya objek.

Pameran PAYAU: Respons situasi seni kontemporer

PAYAU juga merespons situasi seni kontemporer yang kerap bergerak di dua kutub ekstrem. Seni lukis yang “tawar”, terlalu rapi, estetis, dan aman, dan instalasi yang “asin”, yaitu cenderung teatrikal dan mendominasi ruang.

Dalam pameran ini, Iwan justru memilih wilayah percampuran di antara keduanya. Sebuah ambang yang menantang persepsi, mengundang penonton untuk mempertanyakan kembali apa sebenarnya yang mereka lihat.

Pameran PAYAU Iwan Yusuf MOJOK.CO
Pameran PAYAU Iwan Yusuf. (Edsu House Jogja)

Dalam PAYAU, pengalaman penonton menjadi pusat. Karya-karya Iwan tidak hanya dilihat, tetapi dihadapi, seolah bergerak, menekuk, mendekat, atau menjauh. PAYAU menghadirkan ruang pengamatan baru yang membuat jaring-jaring Iwan terlihat hampir seperti objek fisik, menawarkan pengalaman visual yang berdiri di antara gambar dan instalasi.

Iwan Yusuf-EDSU: Pesisir-pengaburan batas

Iwan Yusuf (seniman kelahiran 1982, Gorontalo) dikenal lewat karya-karyanya yang menelusuri laut. Bukan sekadar lanskap, tetapi ruang batin, tempat kenangan, mitos, dan ekologi saling berkelindan.

Berawal dari praktik lukisan hiper-realis, Iwan kini bergerak lebih jauh. Bereksperimen dengan jaring ikan, kayu, dan instalasi site-specific untuk membangun percakapan baru antara manusia dan laut.

Melalui karya seperti “Laut Halaman Rumah” di Museum Bahari dan pameran tunggal ”Tujuh Layar Menyisir Langit” di Selasar Sunaryo, Iwan menggambarkan hubungan manusia dengan laut sebagai ruang kenangan, mitos, dan refleksi ekologis.

Iklan

Karyanya mengajak penonton merenungkan kesadaran akan laut sebagai bagian penting dari identitas dan kehidupan masyarakat pesisir.

Sementara EDSU House, berbasis di kawasan utara Jogja, tempat ini mengaburkan batas antara galeri dan ruang pertemuan gagasan. Nama EDSU berasal dari semangat Eat Dat Shit Up: dorongan untuk menelan, mencerna, dan mengolah berbagai kemungkinan dalam seni kontemporer.

EDSU menghadirkan program yang berfokus pada eksplorasi artistik, kolaborasi lintas disiplin, dan keterhubungan dengan publik seni yang lebih luas.***(Adv)

BACA JUGA: Merancang Pameran Seni Rupa agar Dinikmati Tunanetra, Mereka Memang Tak Melihat tapi Bisa Mendengar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 November 2025 oleh

Tags: edsuedsu jogjaiwan yusufJogjaPameranpameran jogja
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO
Urban

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
iphone 11, jasa sewa iphone jogja.MOJOK.CO

User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol

14 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.