Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Sebelum PO Bus Merajalela, Masyarakat Wonogiri Gunakan Perahu Sebagai Sarana Transportasi

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
20 September 2023
A A
Sebelum PO Bus Merajalela, Masyarakat Wonogiri Gunakan Perahu Sebagai Sarana Transportasi MOJOK.CO

Ilustrasi Sungai Lulut, Banjarmasin yang masih digunakan untuk tempat moda transportasi warga. Dulunya, Bengawan Solo juga demikian. (Photo by Tia on Unsplash.jpg)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Generasi muda di Wonogiri mungkin tidak banyak yang tahu jika di masa lalu, angkutan umum utama di daerah mereka adalah perahu. Kini, banyak yang mengenal Wonogiri sebagai salah satu daerah yang memiliki perusahaan bus terbanyak. 

Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, bisa dibilang merupakan “rumah” bagi perusahaan otobus (PO) di Indonesia. Bagaimana tidak, di kota ini puluhan PO besar lahir dan berkembang. Ada yang hingga kini masih eksis, tapi tak sedikit juga yang tinggal cerita.

Era 1980-an adalah masa di mana PO-PO ini bermunculan dan mulai mewarnai jalanan aspal Pulau Jawa. Pembangunan Waduk Gajah Mungkur (WGM) di masa Orde Baru, yang bikin mobilitas masyarakat keluar-masuk Wonogiri meningkat, kemungkinan besar menjadi penyebab mengapa bisnis PO amat laku kala itu.

Namun, sebagai seorang yang lahir dan tumbuh di kota ini, ada satu pertanyaan yang sering kali muncul di kepala saya. Sebelum adanya PO-PO ini, apa moda transportasi yang menunjang mobilitas warga Wonogiri?

Belakangan, setelah membuka beberapa sumber sejarah, saya melihat bahwa perahu menjadi penyokong utama perjalanan warga Wonogiri sebelum mereka akrab dengan bus.

Memanfaatkan Bengawan Solo

Seperti yang kita tahu, topografis Kabupaten Wonogiri amat beragam. Ada perbedaan kontur antara wilayah bagian barat laut yang cenderung rendah, dengan daerah-daerah di selatan dan tenggara yang lebih banyak perbukitan kapur.

Untuk Wonogiri yang wilayahnya lebih rendah, Sungai Bengawan Solo melintasi kawasan tersebut. Total ada tujuh kecamatan di Wonogiri yang dilintasi sungai terpanjang di Pulau Jawa ini. Yakni Wonogiri, Nguntoronadi, Baturetno, Giriwoyo, Eromoko, Wuryantoro, dan Ngadirojo—selanjutnya menuju Jawa Timur.

Di tujuh wilayah itulah dahulu moda transportasi perahu jadi andalan. Misalnya, sebelum jaringan jalan Baturetno menuju Wonogiri meluas, masyarakat banyak yang memanfaatkan sarana angkutan perahu melewati genangan air Bengawan Solo, dari Baturetno menuju Eromoko, maupun sebaliknya. Namun, perahu-perahu hanya berfungsi saat genangan tinggi.

Sedangkan saat musim kemarau dan air menyusut, masyarakat kembali menyusuri jalan-jalan lama yang muncul kembali di sepanjang pinggiran sungai. Atau, ada juga yang memilih melintasi jalanan utama meski rutenya lebih jauh.

Pakai perahu sejak era Kerajaan Mataram kuno

Budaya memakai perahu bagi masyarakat Wonogiri nyatanya memang sudah mengakar lama. Pada masa Kerajaan Mataram Kuno, masyarakat Wonogiri (yang kala itu masuk wilayah kekuasaannya) juga menggunakan perahu sebagai moda transportasi.

Dahulu, ada banyak desa di pinggiran Sungai Bengawan Solo yang bahkan memiliki julukan “desa perahu”. Desa Paparahuan (kemungkian Desa Wonoboyo sekarang) salah satunya, yang pada masa pemerintahan Ratu Dyah Balitung menjadi desa perdikan alias bebas pajak.

Pada masanya, desa ini amat penting. Sebab ia menjadi tempat penyeberangan ataupun distribusi logistik dari luar maupun dalam kerajaan.

Pada masa kerajaan Majapahit, orang-orang Wonogiri masih menggunakan perahu sebagai penunjang utama transportasi mereka. Paparahuan juga masih menjadi desa yang penting.

Bahkan, penelitian arkeolog Belanda WF Sutterheim menunjukkan, hingga 1934 masyarakat Wonogiri masih memanfaatkan perahu untuk menyeberangkan ternak-ternak mereka melalui sungai Bengawan Solo. Sayangnya, kebudayaan itu mulai masyarakat tinggalkan seiring dengan jalur-jalur kereta api yang bermunculan.

Iklan

Perahu Rajamala, bukti eksistensi transportasi perahu di Wonogiri

Selain itu, ada juga bukti sejarah berupa manuskrip yang ditulis Bupati Bojonegoro Raden Adipati Harya Reksa Kusuma pada 1919. Manuskrip ini menunjukkan betapa masyarakat Wonogiri amat menggantungkan hidup mereka pada perahu.

Dalam manuskrip tersebut, Harya Reksa menyebut keberadaan “Rajamala”, semacam perahu besar yang peruntukannya membawa logistik ke daerah-daerah yang dilintasi Bengawan Solo. Perahu raksasa ini memulai start dari Wonogiri dan pemberhentian terakhirnya ada di Gresik, Jawa Timur.

Jika kalian penasaran akan bentuknya, replika kapal ini ada di Museum Radya Pustaka yang berlokasi di Jalan Brigjen Slamet Riyadi, Sriwedari, Laweyan, Solo, Jawa Tengah.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Menelusuri Betal Lama, Desa Mati di Wonogiri yang Muncul Saat Musim Kemarau

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 20 September 2023 oleh

Tags: bengawan soloperahuTransportasiwonogiri
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Wonogiri Bukanlah Anak Tiri Surakarta, Kami Sama dan Punya Harga Diri yang Patut Dijaga
Pojokan

Wonogiri Bukanlah Anak Tiri Surakarta, Kami Sama dan Punya Harga Diri yang Patut Dijaga

1 Desember 2025
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO
Aktual

Dari Panggung Rock in Solo untuk Pegunungan Sewu: Suara Musik Keras Menolak Pabrik Semen Pracimantoro

4 November 2025
Pasar Wonogiri Terbakar (Lagi): Memori Kelam Dua Dekade yang Lalu Terulang Kembali
Pojokan

Pasar Wonogiri Terbakar (Lagi): Memori Kelam Dua Dekade yang Lalu Terulang Kembali

6 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Tunggu Aku Sukses Nanti.MOJOK.CO

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Mari Bertaruh, Kita Semua Memiliki Tante Yuli di Dunia Nyata

4 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.