Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Memori

Menelusuri Betal Lama, Desa Mati di Wonogiri yang Muncul Saat Musim Kemarau

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
18 September 2023
A A
Menelusuri Betal Lama, Desa Mati di Wonogiri yang Muncul Musim Kemarau MOJOK.CO

Desa Betal Lama yang ada di dasar Waduk Gajah Mungkur. (Asyrofi Baturetno/Istimewa)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebuah desa yang tenggelam lebih dari 30 tahun muncul kembali di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Desa mati yang dulunya bernama Betal Lama atau Betal Lawas ini kini jadi objek wisata setiap musim kemarau.

Akhir-akhir ini warga di Wonogiri heboh dengan kemunculan makam-makam akibat mengeringnya Waduk Gajah Mungkur (WGM). Beberapa makam di antaranya muncul di Kecamatan Nguntoronadi, Kecamatan Wuryantoro, dan Kecamatan Eromoko. Perkiraannya, makam ini bekas areal pemakaman yang terkena proyek pembangunan WGM pada akhir 1970-an lalu.

Iklan

Selain makam, satu fenomena unik lain yang terjadi tiap musim kemarau adalah munculnya sebuah desa mati yang 30 tahun lebih “tenggelam”.

Nama desa yang kembali muncul ini adalah Desa Betal Lama. Bahkan, desa yang punya waktu tempuh 30 menit perjalanan dari pusat kota Wonogiri itu menjadi lokasi wisata warga sekitar setiap kemarau tiba.

Desa Betal Lama, menyerupai kota-kota mati laiknya Hashima di Jepang, Craco di Italia, ataupun Chernobyl di Ukraina menjadi daya tarik tersendiri.

Desa mati yang dulunya wilayah yang maju

Secara administratif, Desa Betal Lama masuk ke dalam wilayah Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri. Lokasinya sendiri sangat strategis, diapit empat kecamatan besar, yakni Wonogiri, Wuryantoro, Baturetno, dan Tirtomoyo.

Dahulu, jaringan rel kereta api melintasi wilayah ini. Pada era 1970-an, rel yang melintasi jembatan banon itu menjadi moda transportasi untuk mengirimkan hasil bumi dari Baturetno ke Wonogiri melalui Stasiun Betal, serta sebaliknya, bahkan sampai ke Pacitan.

Wilayah strategis serta keberadaan jalur rel kereta api, bikin Betal menjadi daerah yang maju pada masanya. Ia menjelma sebagai pusat perdagangan, di mana para pedagang dari kecamatan sekitar tiap hari datang ke Pasar Betal.

Sayangnya, memasuki akhir 1970-an dan awal 1980-an kondisinya berubah total. Kemewahan ini sirna setelah masyarakat harus mengikuti program bedol desa imbas dari proyek pembangunan WGM. Kebanyakan dari mereka bertransmigrasi ke Rimbo Bujang, Jambi, hingga ke Dharmasraya, Sumatra Barat.

Bahkan, sebagai perbandingan, sebelum adanya WGM, jarak Betal dengan kecamatan-kecamatan sekitar hanya sekitar 8-10 kilomter saja. Namun, karena adanya waduk, masyarakat harus memutar arah dengan jarak tempuh dua kali lipat lebih jauh.

Warga selalu menunggu kemunculannya 

Desa Betal yang maju itu kini jadi desa mati dan tinggal kenangan. Saat musim hujan, hanya pemandangan air WGM yang deras mengalir saja yang bisa dilihat. Namun, saat kemarau tiba dan debit air waduk menyusut, kita bisa bernostalgia dengan desa yang hilang itu.

Areal yang dulunya bekas persawahan, muncul kembali dengan menampakkan hamparan tanah meluas dengan ditumbuhi rumput liar menyerupai putri malu. Tak jauh dari situ, bekas pemukiman menyembul lagi dengan adanya sumur-sumur tua, bekas kamar mandi, dan fondasi-fondasi rumah.

Sementara rel kereta api yang pernah eksis kini sudah tak ada lagi. Yang tersisa hanyalah puing-puing jembatan banon, dua sisi penyangganya masih kerap terlihat di tengah genangan air.

Sebagai informasi, sejak 2019 lalu Desa Betal Lawas ditetapkan sebagai objek wisata baru di Nguntoronadi. Setiap tahun, sebuah panggung musik dan sejumlah pagelaran berlangsung secara gratis sebagai hiburan warga sekaligus tapak tilas kemewahan desa ini di masa lalu.

Iklan

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Waduk Gajah Mungkur Wonogiri dan Misteri Makam Kuno yang Muncul Saat Waduk Mengering

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 18 September 2023 oleh

Tags: betal lamabetal lawasdesa matikota matiwonogiri
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO
Kabar

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Wonogiri Bukanlah Anak Tiri Surakarta, Kami Sama dan Punya Harga Diri yang Patut Dijaga
Pojokan

Wonogiri Bukanlah Anak Tiri Surakarta, Kami Sama dan Punya Harga Diri yang Patut Dijaga

1 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.