Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Kisah 3 Kampung Mati di Jogja Akibat Bencana dan Tak Menjanjikan Bagi Penghuni

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
5 Juli 2023
A A
Kisah 3 Kampung Mati di Jogja Akibat Bencana dan Tak Menjanjikan Bagi Penghuni. MOJOK.CO

Bekas rumah di Kampung Mati Kulon Progo. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tak jarang, kampung yang umumnya padat permukiman perlahan ditinggalkan penghuninya karena sejumlah alasan. Mojok merangkum tiga cerita dari kampung mati di Jogja, dari yang hanya menyisakan satu keluarga hingga tak berpenghuni sama sekali.

Ada banyak alasan yang membuat orang berpindah tempat tinggal. Namun pada beberapa kejadian, kepindahan warga terjadi secara masal. Hingga mengakibatkan kampung mati tak berpenghuni. Beberapa

Jogja termasuk menyimpan beberapa cerita tentang kampung yang penghuninya pergi secara masal. Alasannya mulai dari faktor bencana alam hingga warga yang memutuskan pindah lantaran lokasinya terlalu terpencil.

#1 Kampung Watu Belah Kulon Progo

Mojok sempat menelusuri Dusun Watu Belah, Sidomulyo, Pengasih, Kulon Progo pada Selasa (27/6/2022) lalu. Di salah satu bukit yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari permukiman warga dulu sempat ada kampung yang saat ini hanya ditinggali satu keluarga.

Dahulu orang menyebutnya sebagai Kampung Suci. Puluhan tahun lalu, wilayah itu merupakan permukiman yang cukup ramai. Suyati (43) warga Sidomulyo bercerita pada masanya banyak acara seperti jathilan dan pementasan wayang di sana. Kakek dan nenek Suyati dulu tinggal di tempat tersebut.

Rumah Sumiran dan Sugiati, satu-satunya rumah yang masih berdiri di Kampung Mati. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Saat ini, hanya keluarga yang terdiri dari Sumiran (49), Sugiati (50), dan keduanya anaknya yakni Agus Sarwanto (23) dan Dewi Septiani (10). Sumiran merupakan warga yang sejak kecil menghuni kampung terpencil itu. Sedangkan sang istri baru sejak 1998 setelah menikah dengan Sumiran.

Rumah mereka berada di tengah hutan bambu yang rimbun. Aliran listrik sudah menerangi namun saat malam hari suasananya begitu sepi.

Salah satu alasan mereka bermukim di tengah hutan dan perbukitan adalah jarak dengan ladang yang dekat. Selain itu, mencari rumput untuk pakan ternak pun terasa lebih dekat.

“Nggih pokok e caket kalih kebon. Kepenak,” kata Sugiati.

Pada 2019 sebenarnya masih ada tiga rumah lain selain milik mereka. Namun semuanya pindah lantaran mendapat bantuan bedah rumah. Para warga yang pindah ingin mendapat akses yang lebih mudah untuk beraktivitas ke luar desa.

#2 Dusun Kumpul Rejo di Hutan Turgo

Beberapa waktu sebelumnya, Mojok juga sempat mengunjungi Hutan Turgo lereng barat Gunung Merapi. Ternyata di tengah rimbunnya hutan, sempat ada kampung yang kini telah tak tersisa lagi. Letaknya ada di kawasan Hutan Pinus Ngandong.

Musimin, warga Turgo yang menemani mengelilingi hutan menerangkan bahwa dusun yang telah hilang itu dulu bernama Kumpul Rejo. Permukiman yang pernah ada di dalam hutan pada masa lalu itu, sudah kosong sejak era 1970-an.

Musimin berujar bahwa program bedol deso membuat dusun tersebut pindah. “Jadi saat itu satu dusun benar-benar pergi semua. Jadi kosong tempat ini,” terangnya.

Vegetasi di hutan bukit Turgo. Dulunya di kawasan tersebut merupakan kampung mati. MOJOK.CO
Vegetasi di hutan bukit Turgo sebagian merupakan tanaman baru pascaerupsi Merapi di tahun 1994. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Dari Dusun Turgo, perjalanan menuju Kumpul Rejo menempuh waktu sekitar 20 menit menelusuri hutan. Sebagai informasi, Turgo menjadi salah satu wilayah yang terdampak parah erupsi Merapi 1994.

Iklan

#3 Kampung mati akibat erupsi Merapi

Selanjutnya, terdapat beberapa kampung yang hilang akibat letusan Gunung Merapi dari masa ke masa. Melansir Harian Kompas, salah satu satu letusan besar terjadi pada 1930 dan mengubur 13 desa. Korban jiwa akibat bencana itu mencapai 1.369 orang.

Salah satu kampung yang hilang akibat erupsi itu yakni Kampung Seluman. Letaknya berada di lereng Merapi sisi tenggara yang masuk wilayah Klaten, berdekatan dengan Desa Sidorejo.

Kampung Seluman berada 4,3 kilometer dari puncak Merapi. Seorang tokoh masyarakat Sidorejo, Sukiman menerangkan bahwa letusan itu membuat seluruh penduduk meinggal.

”Warga kampung yang tersisa adalah mereka yang saat erupsi sedang tidak berada di kampung,” kata Sukiman melansir Harian Kompas.

Pada erupsi 2010 juga beberapa kampung luluh lantak akibat terjangan awan panas. Pasca erupsi itu, penduduk yang selamat harus pindah dari beberapa dusun tersebut. Hal itu tertuang pada Peraturan Bupati Sleman Nomor 20 Tahun 2011 tentang Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi.

Beberapa dusun di Desa Kinahrejo tersebut yakni Pelemsari, Pangukrejo, Kaliadem, Petung, Jambu, Kopeng, Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, dan Srunen. Para warga kemudian mendapat bantuan relokasi hunian di tempat yang relatif lebih aman dari erupsi.

Saat ini, lokasi-lokasi bekas kampung tersebut menjadi objek wisata. Banyak wisatawan yang datang untuk melihat dan mengambil pelajaran dahsyatnya dampak dari letusan Gunung Merapi.

Itu tadi beberapa kampung yang hilang di Jogja yang berhasil Mojok rangkum. Di luar itu, masih ada potensi kisah sejarah tentang permukiman yang sudah tidak lagi berpenghuni. Kisah yang yang masih terjaga turun temurun di antara warga.

Penulis: Hammam Izzuddin
Editor: Agung Purwadono

BACA JUGA Bermalam Bersama Satu-satunya Keluarga yang Tersisa di Kampung Mati Kulon Progo

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

 

 

Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2023 oleh

Tags: DIYkampungkampung mati
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO
Urban

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Benarkah Keturunan Keraton Jogja Sakti dan Bisa Terbang? MOJOK.CO
Ekonomi

Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

30 Januari 2026
Lawan Keterbatasan Anggaran, Sultan HB X Pacu Digitalisasi dan Pembiayaan Kreatif di DIY.MOJOK.CO
Ekonomi

Lawan Keterbatasan Anggaran, Sultan HB X Pacu Digitalisasi dan Pembiayaan Kreatif di DIY

29 Januari 2026
Sungai Progo, Tragedi Sungai Sempor Tak Perlu Terjadi Jika Manusia Tidak Meremehkan Alam dan Menantang Takdir MOJOK.CO
Aktual

Izin Tambang Sungai Progo Masih Mandek dengan “Aturan Jadul”

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur MOJOK.CO

Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur

25 Maret 2026
Pekerja Surabaya pindah kerja di Jogja kaget dengan kebiasaan "menghibur-hamburkan uang" pekerja Jogja MOJOK.CO

Pekerja Surabaya Pindah Kerja di Jogja: Bingung sama Kebiasaan “Buang-buang Uang”, Repot karena Budaya Traktir Teman

26 Maret 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026
Pekerja Jakarta resign setelah terima THR dan libur Lebaran

Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Muak dan Mati Rasa akibat Karier Mandek dan Rekan Kerja “Toxic”

30 Maret 2026
Album baru ARIRANG BTS. MOJOK.CO

Sekecewanya ARMY dengan Album “ARIRANG”, Patut Diakui kalau Lagu-lagu BTS Selamatkan Hidup Banyak Orang

29 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.