Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Indonesia Meminta Belanda Kembalikan Harta Karun Warisan Kolonial

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
19 Oktober 2022
A A
Harta warisan kolonial salah satunya peninggalan Pangeran Diponegoro.

Harta warisan kolonial salah satunya peninggalan Pangeran Diponegoro. (Ilustrasi Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pemerintah Indonesia meminta Kerajaan Belanda untuk mengembalikan benda-benda atau harta warisan kolonial, seperti barang bersejarah, karya seni, dan koleksi lengkap lain yang saat ini masih berada di negeri kincir angin tersebut.

Laporan ini didapatkan dari surat yang dikirim Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan RI pada bulan Juli lalu, yang menuntut barang-barang tersebut untuk dipulangkan.

Mengutip media Belanda, Trouw, salah satu barang-barang yang diminta balik adalah harta karun “The Dubois Collection”, yang saat ini dipamerkan di Naturalis Biodiversity Center, Leiden, Belanda. Koleksi ini terdiri dari sekitar 40.000 fosil, yang digali peneliti Belanda Eugene Dubois di Jawa antara tahun 1887-1900.

Terkait permintaan Indonesia ini, juru bicara Naturalis Biodiversity Center menegaskan bahwa sebelumnya pihaknya tidak mengetahuinya. Bahkan, jika seandainya Pemerintah Indonesia ngotot meminta barang-barang ini balik, mereka tidak yakin bahwa fasilitas dan tata kelola di sana akan lebih baik daripada Leiden.

“Pertanyaannya, di mana koleksi-koleksi ini akan disimpan, diakses, dan diteliti dengan aman?,” ujarnya.

Selain itu, ia juga bingung mengapa dalam surat tersebut pemerintah Indonesia memasukan The Dubois Collection dalam kategori khazanah seni. Padahal, benda-benda ini adalah temuan yang sifatnya lebih ke arkeologis.

“Harta karun ini [Dubois Collection] tentu saja ada yang dibuat oleh orang-orang dari penduduk setempat. Tetapi kita harus sepakat satu hal, tentang tengkorak Manusia Jawa, bahwa tengkorak ini tidak akan ditemukan jika Dubois dari Belanda tidak melakukan pencarian,” tegasnya.

Benda peninggalan Diponegoro ikut diminta

Sementara itu, Direktur National Museum of World Cultures (NMVW) Marieke van Bommel, mengatakan bahwa museumnya akan berusaha untuk bekerja sama terkait permintaan tersebut, meski akan ada pertimbangan lebih lanjut.

Marieke menyebut, empat dari delapan benda yang disebut pemerintah Indonesia dalam daftar permintaannya, dikelola di museum ini. NMVW sendiri sejauh ini juga telah melakukan banyak penelitian tentang asal-asul koleksi benda-benda yang ada di museumnya, yang sebagian besar memang berasal dari Indonesia.

“Maka dari itu kami senang bahwa ada permintaan resmi dari pemerintah Indonesia,” tukasnya.

Bulan September lalu, Menteri Sekretariat Negara Belanda, Gunay Uslu, pergi ke Indonesia untuk membahas  pengembalian barang-barang warisan kolonial. Sebuah komisi independen juga telah dibuat meninjau permintaan restitusi, dan menyelidiki asal usul benda-benda yang disengketakan untuk selanjutnya dapat diputuskan apakah itu milik Belanda atau Indonesia.

Selain Dubois Collection, daftar keinginan Indonesia juga mencakup pusaka peninggalan Diponegoro, serta harta karun Lombok, yang terdiri dari sejumlah besar batu mulia, emas dan perak. Benda-benda tersebut saat ini dikelola oleh Museum Nasional Etnologi di Leiden.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Apa Saja Satuan Pendidikan di Bawah Kemenag?

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2022 oleh

Tags: belandadiponegoroharta warisan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Daendels Pesek Masih Menyiksa Rakyat Kecil Sampai Sekarang MOJOK.CO
Esai

Kita Masih Melihat “Daendels Pesek” Menyiksa Rakyat Kecil dalam Perayaan 200 Tahun Perang Jawa

24 Agustus 2025
200 Tahun Perang Jawa- yang Tersisa dari Perang Besar MOJOK.CO
Esai

200 Tahun Perang Jawa: Menyusuri yang Tersisa di Selarong, Bagelen, dan Wates

23 Agustus 2025
Berandal-Berandal Bagelen MOJOK.CO
Esai

Berandal-Berandal Bagelen

22 Agustus 2025
Intim Bersama Pangeran Diponegoro di Titik Bara Perang Jawa MOJOK.CO
Esai

Napak Tilas 200 Tahun Perang Jawa: Menelusuri Jejak Pangeran Diponegoro di Titik Bara Perang Jawa

21 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026
Anomali pengunjung toko buku sekarang bukan baca, malah foto

Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elite, Beli Buku Sulit

11 Februari 2026
Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi jadi tempat jeda selepas lari MOJOK.CO

Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat

9 Februari 2026
Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

6 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026
Cara Mengelola Gaji Besar setelah Sukses Meninggalkan Jogja MOJOK.CO

Berhasil Meninggalkan Jogja dan UMR Mengenaskan Bukan Berarti Masalah Selesai karena Mengelola Gaji yang Lebih Besar Tidak Semudah Itu

12 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.