Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Hiburan

Akhir Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024, Jadi Contoh Pengelolaan Sampah dan Mendunia

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
18 Oktober 2024
A A
Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 di Lapangan Bawuran, Bantul, Jadi Conton Pengelolaan Sampah dan Mendunia MOJOK.CO

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 di Lapangan Bawuran, Bantul, jadi contoh pengelolaan sampah dan mendunia. (Dok. FKY 2024)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 “Umpak Buka” di  Lapangan Bawuran, Bantul, segera berakhir.

Riuh, padat, di bawah terik menyengat, tidak menyurutkan antusias warga Bantul dan Yogyakarta dengan total 80.000 lebih untuk menjadi bagian dari peristiwa kebendaan selama berlangsungnya FKY 2024.

Penutupan ini bukan berarti disudahi, karena tahun depan festival ini masih berlanjut dengan roadmap tematik; Adat Istiadat, Bahasa, dan Nilai-nilai Budaya.

Keberlanjutan Festival Kebudayaan Yogayakarta berupaya mengiringi dinamika masyarakat Yogyakarta, sehingga Festival Kebudayaan tidak hanya dijalankan atau dimiliki oleh sebagian kalangan saja, melainkan kepunyaan dari seluruh masyarakat Yogyakarta.

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY): jelajahi jagad Bantul

Berakhirnya berbagai program utama menjadikan FKY 2024 mengguratkan jejak langkah dalam penjelajahan jagad benda di Bantul.

Program Jelajah Budaya dengan ketiga sub-programnya telah berhasil melakukan pencatatan istilah warga melalui Telusur Tutur, mengaktivasi benda dan situs-situs bersejarah bersama barisan pramuka dalam Paramuka, serta mempelajari pengetahuan dan pembuatan benda pada kelas Lokakarya.

FKY Rembug berhasil menziarahi keilmuan tokoh-tokoh penting yang memiliki ikatan dengan Pleret, menciptakan ruang diskusi kritis serta inklusif, dan menempatkan pelaku-pelaku benda dalam masyarakat sebagai tokoh vital.

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 di Lapangan Bawuran, Bantul, Jadi Conton Pengelolaan Sampah dan Mendunia MOJOK.CO
Salah satu pertunjukan di penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta 2024 di Lapangan Bawuran, Bantul. (Dok. FKY 2024)

Pasaraya Benda sudah menghadirkan benda pada aktivitas transaksi, memberikan kontribusi ekonomi masyarakat.

Lalu ada Pawon Hajat Khasiat yang senantiasa menyuguhkan hidangan lezat dari khazanah lokalitas warga Bantul untuk mengisi perut seluruh pengunjung di Lapangan Bawuran, Bantul. Masih banyak lagi program dan hasil FKY 2024 yang lengkapnya bisa dilihat di fky.id.

Dampak ekonomi Rp324 juta, jadi contoh pengelolaan sampah

Selama 9 hari berlangsung FKY 2024 sudah menjalankan 32 program, keterlibatan pelaku seni dan kebudayaan di dalamnya mencapai 2.017 orang.

Pada saat pembukaan FKY 2024 sebelumnya, Dian Lakshmi Pratiwi, SS. M.A (Kepala Dinas Kebudayaan DIY) sempat berujar bahwa FKY memiliki dampak ekonomi masyarakat yang nyata.

Hal tersebut terjawab melalui data pemasukan dari keseluruhan aktivitas ekonomi FKY 2024 mencapai Rp324.937.475 (Tiga Ratus Dua Puluh Empat Juta Sembilan Ratus Tiga Puluh Tujuh Ribu Empat Ratus Tujuh Puluh Lima Rupiah).

Menariknya lagi, FKY 2024 berhasil menciptakan lingkungan bersih selama berlangsung. Total Sampah 189.115 Kg lebih dikumpulkan oleh tim kebersihan FKY 2024 guna dikelola secara mandiri.

Dengan begitu, FKY juga dapat menjadi representasi bahkan contoh dari usaha pengelolaan sampah di Yogyakarta.

Iklan

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) mendunia

Geliat benda sebagai kebudayaan dalam tema “Umpak Buka” FKY 2024 sukses menciptakan perhatian tersendiri.

Narasi-narasi tentang kebendaan selama kegiatan Festival Kebudayaan Yogyakarta gencar mengudara melalui berbagai postingan di media sosial, menjangkau sebanyak 2.200.000 pemirsa.

Laman fky.id bahkan dikunjungi oleh  berbagai kalangan netizen luar negeri mulai dari, United States, Singapore, Belanda, China, Jepang, Norway, Cambodia, Canada, Germany, United Kingdom, Australia, France, Italy, dan masih banyak lagi. Dengan total pengunjung website mencapai 18.819 netizen.

Data ini memperlihatkan bahwa Festival Kebudayaan Yogyakarta 2024 tidak hanya diikuti secara antusias di lapangan Bawuran, Bantul, melainkan juga di jagad maya.

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 di Lapangan Bawuran, Bantul, Jadi Conton Pengelolaan Sampah dan Mendunia MOJOK.CO
Penampilan jathilan dalam penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta 2024. (Dok. FKY 2024)

Festival Kebudayaan Yogyakarta 2024 resmi ditutup di Lapangan Bawuran, Tegalrejo, Kalurahan Bawuran, Kapanewon Pleret, Kab. Bantul, DIY, pada 18 Oktober 2024. Banyak penampilan menarik dipentaskan di Panggung FKY 2024 dari siang sampai malam mengisi penutupan tersebut

Para penampil di penutupan didukung oleh Disbud Bantul, mereka adalah, Pentas Kesenian Jathilan (Fasilitas Komunitas Seni), Pentas Kesenian Reog Wayang, Tari & Gamelan Anak-anak, Pentas Kesenian Sendratari “Prabawangi Prabasa Jenggala”, Pentas Kesenian Tari Garapan “Bandung Bondowoso”, Kesenian Musik Kontemporer Plentong Konslet, Flashmob Jathilan Diponegoro, Kesenian Tari Fire Dance Sanggar Flownesia, TTM Akustik, dan Shaggydog.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Memanen Hujan dari Tanah Gersang, Belajar Memelihara dari Masa Lalu untuk Masa Depan Manusia 

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2024 oleh

Tags: Bantulfestival kebudayaan yogyakartaFKYfky 2024lapangan bawuran bantul
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan Mojok.co
Pojokan

4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan

25 Maret 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO
Bidikan

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026
Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi MOJOK.CO
Jagat

Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi

31 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Sigura-gura, Malang, slow living.MOJOK.CO

Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta

11 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.