MOJOK.CO, YOGYAKARTA – Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara.
Pada Jumat (14/8/2026) pukul 16.00, Sasanti Restaurant menyelenggarakan cooking show bertajuk “Menelisik Gastronomi, Permakultur, dan Flora Nusantara melalui Buntil Salmon”. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Sasanti Restaurant, Nusaplant, dan Akademi Rakyat Mandiri Pangan (ARMP) yang mempertemukan kekayaan gastronomi Nusantara, pengetahuan mengenai flora asli Indonesia, serta prinsip permakultur dalam sebuah pengalaman kuliner yang diwujudkan melalui satu sajian: Buntil Salmon.
Melalui kegiatan ini, Sasanti tidak hanya menghadirkan pengalaman memasak dan menikmati hidangan, tetapi juga mengajak peserta untuk melihat lebih jauh hubungan antara bahan pangan, budaya, lingkungan, dan keberlanjutan.

Buntil Salmon: pertemuan gastronomi dan flora Nusantara
Buntil Salmon menjadi titik temu dari tiga tema utama dalam cooking show ini: gastronomi, flora Nusantara, dan permakultur.
Secara umum, buntil dikenal sebagai hidangan berbahan dasar daun yang diisi dengan bahan pangan berbumbu, kemudian dimasak dalam kuah santan. Sasanti menghadirkannya dalam interpretasi yang lebih modern melalui Buntil Salmon, dengan salmon sebagai isian dan daun pepaya sebagai pembungkus, disajikan bersama kuah santan yang gurih.
Dalam cooking show ini, Buntil Salmon diperkenalkan dengan penggunaan daun sengkubak, salah satu tanaman asli Indonesia yang banyak ditemukan di pedalaman Kalimantan Barat. Oleh masyarakat setempat, sengkubak dikenal pula sebagai “daun micin” karena memiliki karakter rasa gurih yang khas dan dapat dimanfaatkan sebagai penyedap alami dalam masakan.
Sengkubak diketahui tumbuh di kawasan hutan pada ketinggian sekitar 100–150 meter di atas permukaan laut, termasuk wilayah yang ekosistemnya dijaga oleh masyarakat Dayak secara turun-temurun.
Kehadiran sengkubak dalam sajian Buntil Salmon menjadi bagian dari upaya untuk memperkenalkan kekayaan flora Nusantara melalui pendekatan gastronomi.
Nusaplant, yang berfokus pada pelestarian dan pengembangan tanaman asli Indonesia, turut membawa pengetahuan mengenai sengkubak kepada khalayak yang lebih luas sekaligus mendorong perhatian terhadap keberlanjutan ekosistem tempat tanaman tersebut tumbuh.

Memahami permakultur melalui tanaman pepaya
Selain mengeksplorasi penggunaan flora Nusantara, kegiatan ini juga mengajak peserta mendekat kepada alam yang menjadi sumber dari ketersediaan pangan kita.
Daun pepaya yang menjadi bagian penting dari Buntil Salmon menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan prinsip-prinsip permakultur.
Bersama Akademi Rakyat Mandiri Pangan (ARMP), peserta diajak memahami permakultur sebagai pendekatan dalam merancang sistem pertanian dan pangan yang selaras dengan pola serta proses yang terdapat di alam.
Tiga prinsip utama yang menjadi acuan dalam sesi ini meliputi:
- Meniru pola dan sistem ekosistem alami dalam merancang budidaya tanaman.
- Mengintegrasikan tanaman, hewan, air, tanah, dan manusia sebagai bagian dari satu sistem yang saling mendukung.
- Merancang sistem budidaya untuk keberlanjutan jangka panjang, bukan semata- mata mengejar hasil dalam jangka pendek.
Melalui pembahasan tersebut, peserta diajak melihat bahwa sebuah hidangan tidak berhenti pada apa yang tersaji di atas meja. Di balik setiap bahan terdapat proses, pengetahuan, ekosistem, serta masyarakat yang berperan dalam keberadaannya.
Dalam konteks Buntil Salmon, daun pepaya menjadi contoh bagaimana bahan pangan berkualitas tidak dapat dilepaskan dari praktik pelestarian lingkungan melalui budidaya berkelanjutan untuk kemaslahatan dan kemandirian masyarakat.
Dari hidangan menuju pengetahuan
Cooking show ini menjadi bagian dari upaya Sasanti Restaurant untuk menghadirkan pengalaman gastronomi yang tidak hanya berfokus pada rasa, tetapi juga membuka ruang untuk mengenal kembali kekayaan pangan dan flora Nusantara.
Melalui kolaborasi dengan Nusaplant dan ARMP, Buntil Salmon menjadi lebih dari sekadar hidangan. Sajian ini menjadi medium untuk mempertemukan pengetahuan tentang tradisi kuliner, kekayaan flora Indonesia, serta cara manusia membangun hubungan yang lebih selaras dengan lingkungan.
Bagi Sasanti, pengalaman menikmati makanan juga merupakan kesempatan untuk menelisik cerita, pengetahuan, dan nilai yang berada di balik setiap bahan yang disajikan.
Tentang Sasanti Restaurant
Sebagai informasi Sasanti Restaurant didirikan pada tahun 2007, berlokasi di Jl. Tentara Pelajar Palagan No. 52A, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sasanti Restaurant memang mengusung misi melestarikan warisan kuliner Indonesia melalui pengalaman bersantap yang tidak sekadar
menyajikan makanan, tetapi juga menghadirkan makna di balik setiap rasa.
Dengan kualitas, konsistensi, dan penghormatan terhadap budaya kuliner Nusantara, Sasanti Restaurant telah beberapa kali dipercaya untuk menjamu tamu-tamu kenegaraan dan VVIP.
Lebih dari sekadar restoran, Sasanti menjadi ruang perjumpaan antara rasa, cerita, dan kebanggaan akan identitas Indonesia.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui https://sasanti-restaurant.id
***(Adv)
BACA JUGA: Tips Meningkatkan Kenikmatan Rasa Ayam Goreng Olive Chicken Jogja yang Sudah Menjadi Legenda Kuliner Itu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














