Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ode untuk Pak Bondan Winarno yang Maknyuss

Fakhri Zakaria oleh Fakhri Zakaria
30 November 2017
A A
bondan-winarno-mojok.co

bondan-winarno-mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Persembahan untuk Bondan Winarno yang mengajari kita cara menikmati hidup.”

Bondan Haryo Winarno meninggal dunia pada Rabu, 29 November, pukul 09.05 pagi di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta pada usia 67 tahun. Publik lebih mengenalnya sebagai Pak Bondan “Mak Nyus” berkat penampilannya sebagai presenter di acara kuliner di sebuah stasiun televisi swasta beberapa tahun lalu.

Iklan

Dengan konsep jalan-jalan dan makan-makan, Pak Bondan berhasil mengajak orang untuk tak ragu menyusuri gang sempit demi sepiring nasi tim terbaik se-Indonesia yang ada di gang Gloria, Glodok, Jakarta. Atau blusukan mencari hidangan otentik tongseng kepala kambing yang tersembunyi di pelosok Desa Menayu, Muntilan, Jawa Tengah.

Dengan pemilihan kata nan efektif tanpa banyak pelengkap tak penting, kemampuan persuasi Pak Bondan memang selalu membuat liur berlelehan. Saya kutipkan salah satunya dari nukilan buku 100 Mak Nyus Joglosemar:

“Gagrak mi jawa dimasak dengan telur bebek berbumbu dasar kemiri dan bawang putih. Ketiga elemen inilah yang ‘bertanggung jawab’ atas aroma surgawi dan cita rasa yang menggetarkan kalbu. Masuk angin dan flu pun wesewesewes terbirit-birit menyingkir dihalau kuah hangat mi jawa.”

Kejelian Pak Bondan sedikit banyak merupakan warisan dari profesi terdahulunya sebagai jurnalis. Bukunya, Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi masih menjadi rujukan karya investigasi terbaik di Indonesia. Juga Neraka di Laut Jawa: Tampomas II yang meletakkan dasar-dasar jurnalisme investigasi. Di buku cetakan 1981 tersebut, Pak Bondan menjadi penulis yang merangkum reportase dari jurnalis-jurnalis Sinar Harapan dan Mutiara.

Pak Bondan juga piawai sebagai kolumnis. Tulisan-tulisannya tersebar mulai dari Kompas, Tempo, Suara Pembaruan, sampai Detik. Temanya beragam: mulai dari kiat-kiat manajemen (dibukukan dalam Seratus KIAT), periklanan dalam Rumah Iklan, sampai ke topik yang membuatnya berada di puncak popularitas: kuliner.

Lewat buku Jalansutra, serial 100 Mak Nyus yang merangkum berbagai tempat makan terpujikan di Jakarta, Jogja-Solo-Semarang, dan Bali, hingga Kecap Manis: Indonesia’s National Condiments, Pak Bondan memberikan sumbangan berharga untuk dunia kuliner Indonesia. Belum ada sosok yang setekun dan sekonsisten dirinya mencari dan mendokumentasikan kekayaan kuliner rakyat Indonesia.

Memang terasa miris ketika sosok-sosok juru masak yang rajin mengeksplorasi kekayaan resep masakan Indonesia seperti Sisca Soewitomo, William Wongso, hingga Rahung Nasution melimpah, nyaris hanya Bondan Winarno saja yang menjadi representasi ranah penulisan kuliner.

Harus diakui, setelah kemunculan Pak Bondan di televisi, media lalu latah membuat acara berkonsep serupa. Juga muncul penulis-penulis yang dengan jemawa menyebut dirinya sebagai pencinta atau pemburu kuliner. Tentu saja dengan kelas kualitas yang jauh berbeda.

Jika Pak Bondan mampu mendedah dengan tajam dan cermat, para impersonator tadi wawasannya terbatas hanya bisa menilai “enak” atau “kerasa banget (masukkan nama bumbu dasar)-nya”. Bagaimana jika Bondan Winarno dikritik bahwa makanan rekomendasinya tidak enak? Ia menyatakan, “Kalau tidak enak, akan saya ganti uang jajan Anda!”

Sedikit banyak Pak Bondan sebagai penulis kuliner mengingatkan saya pada sosoksesama penulis dan host acara kuliner, Anthony Bourdain. Bourdain terkenal dengan gaya gonzo di tulisan-tulisannya. Salah satu yang sudah dibukukan adalah Kitchen Confidential: Adventures in the Culinary Underbelly yang masuk dalam jajaran The New York Times Best Seller.

Bourdain mendapat julukan culinary bad boy lewat reputasi mulut setajam silet. Acara No Reservations yang dipandunya bahkan harus menerapkan kebijakan viewer discretion advisories gara-gara mulut Bourdain kadang kelewat sompral. Ia pernah menyebut makan durian, yang jadi pemuncak klasemen buah bagi orang Melayu, rasanya mirip mencium nenek-nenek yang baru bangun tidur.

Jika Bourdain seperti bocah tua nakal, Pak Bondan layaknya paman yang kehadirannya selalu ditunggu saat momen makan bersama keluarga besar. Pak Bondan mampu menguliti suatu hidangan dengan cekatan, teliti, namun tetap dalam suasana penuh kehangatan khas keluarga seperti saat ia mengingat momen makan sup bakmoy bersama ayahnya.

“Sejak malam sebelum berangkat ke Kopeng, saya sudah membayangkan akan menyantap nasi bakmoy hangat di dataran tinggi yang sejuk itu. Nasi bakmoy ayam disajikan dengan tahu goreng dan daging ayam yang dipotong kubus kecil dalam kaldu ayam encer yang mirip sop, tetapi dengan note kecap manis lembut yang merupakan nada dasar dari hidangan ini. Di atas nada dasar itu hadir lamat-lamat aroma dan cita rasa bawang putih,” tulisnya.

Meski perangainya berbeda, Bourdain dan Pak Bondan berhasil menunjukkan, menulis makanan bukan perkara enak atau tidak enak. Bourdain dalam satu bab di A Cook’s Tour: In Search of the Perfect Meal berhasil menelusup ke memori tentang Perang Vietnam dalam kunjungannya ke sebuah kedai kopi kecil di Hanoi. Sedangkan Bondan, ia bisa lincah menjelaskan mengapa kerang simping (scallop) di restoran-restoran seafood di Semarang tidak ada yang berukuran besar sampai alasan kenapa soto kudus memakai daging kerbau alih-alih sapi.

Saat ibunya meninggal, Pak Bondan membuat suatu obituari menyentuh berjudul “Gang Pinggir” yang ada di buku Jalasutra. 

“Minggu kemarin, Ibu tercinta telah meninggalkan kami semua—anak-anak dan cucu-cucu yang menyayanginya. Saya punya banyak alasan untuk bersedih. Tetapi, saya memutuskan untuk tidak larut dalam duka. Terlalu banyak hal-hal tentang ibu yang dapat saya kenang dengan manis. Ibu adalah orang yang memperkenalkan saya kepada dapur. Dari Ibu, saya menaruh apresiasi yang tinggi terhadap makanan.” Demikian salah satu petikannya.

Iklan

Kali ini, giliran para penerusnya yang (seharusnya) membuat obituari sekaligus melanjutkan kiprahnya. Selamat jalan, Pak Bondan. Selamat icip-icip hidangan surga yang mak nyus.

Terakhir diperbarui pada 24 September 2025 oleh

Tags: Bondan WinarnoInvestigasijengkol enakjurnalismeKulinerkuliner nusantaraMakananmaknyusObituari
Fakhri Zakaria

Fakhri Zakaria

Artikel Terkait

Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro MOJOK.CO

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro

22 Juli 2026
FGD “Di Balik Ruang Redaksi: Medianomics, Kuasa Kepemilikan, dan Masa Depan Jurnalisme” inisiasi Telkom University Purwokerto. Membincangkan masa depan industri media jurnalisme di era AI dan kuasa kepemilikan MOJOK.CO

Diskusi Soal Industri Media dan Masa Depan Jurnalisme: Beranjak dari Keresahan Lama ke Menjawab Tantangan Baru

1 Juli 2026
Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, Istri Bahagia dan Rumah Idaman jadi Tujuan MOJOK.CO

Kisah Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, demi Istri Bahagia dan Rumah Idaman

21 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
usaha mie ayam wonogiri.MOJOK.CO

Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal

6 Mei 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Universitas Terbuka (UT).MOJOK.CO

Kuliah di UT Dikira Bikin Kehilangan Relasi, Mahasiswanya Malah Bisa Membangun Jejaring sampai Luar Negeri 

27 Agustus 2026
Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.