Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

7 Fakta Pamella Swalayan, Supermarket Asli Jogja yang Berkembang di Tengah Gempuran Toko Berjejaring

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
13 Oktober 2022
A A
Pamella Swalayan, toko serba ada di Jogja

Pamella Swalayan, toko serba ada di Jogja

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pamella Swalayan jadi salah satu supermarket lokal di Jogja yang bisa bertahan di tengah gempuran toko berjejaring. Bukan hanya bisa bertahan, tapi  toko serba ada yang berdiri tahun 1975 ini mampu mengembangkannya. 

Ada banyak fakta yang mungkin orang tidak tahu dari toko yang kini sudah memiliki 9 cabang di DIY ini. Mojok merangkumnya dalam 7 fakta Pamella Swalayan.

#1 Didirikan saat pemilih masih berusia muda

Pamella Swalayan yang kini dikenal sebagai Pamella Supermarket, didirikan oleh Noor Liesnani Pamella (67) saat usianya baru 20 tahun di bulan September 1975. Pamella mendirikannya tahun  sehari setelah ia merayakan ulang tahunnya yang ke-20, atau dua bulan setelah ia menikah dengan Sunardi Sahuri, seorang pendakwah yang sangat dikenal di Yogyakarta.

Sejak usia remaja, Pamella membantu ibunya menjalankan usaha di toko. Ini karena ayahnya meninggal saat ia masih remaja, sehingga ibunya menjadi tulang punggung keluarga. 

Saat menginjak kelas tiga SMA, perempuan yang seharusnya fokus belajar menjelang ujian ini justru banyak bekerja. Hingga akhirnya ia gagal mengikuti ujian. Kegagalan yang membuatnya tak bisa mendapat ijazah SMA. 

Ia juga didiagnosa mengalami psikosomatis. “Dokter mengharuskan saya milih. Antara berhenti sekolah atau berhenti kerja dulu. Mengorbankan salah satu untuk mengurangi beban pikiran saya,” ucapnya.

#2 Bersama suami kembangkan usaha

Pamella menerima pinangan dari guru ngaji, Sunardi Sahuri yang usianya tiga tahun lebih tua. Mereka bertemu saat berlangsungnya sebuah pengajian. Sunardi menyodorkan tiga hal yang perlu disepakati bersama sebelum mereka menikah. Pamella masih ingat betul tiga hal tersebut.

“Pertama, bapak ingin kita bersama-sama menjalankan usaha. Saya tidak hanya jadi ibu rumah tangga, tapi nggolek duit bareng. Kedua, saya harus mau ditinggal ngisi pengajian. Ketiga, saya disuruh pakai jilbab,” kenang pada Mojok beberapa waktu lalu.

Dua hal pertama bisa disepakati dengan mudah. Namun, untuk yang ketiga, Pamella awalnya merasa cukup berat. Tapi sang suami memaklumi dan tidak serta merta memaksanya untuk berjilbab. Setidaknya butuh tiga tahun sejak menikah sampai akhirnya ia meniatkan diri untuk konsisten berjilbab.

“Wah saya dulu itu datang dengan pakaian mini-mini. Zaman segitu kan memang masih jarang ya yang berjilbab,” ucapnya tertawa.

Sunardi Sahuri yang tutup usia pada 2018. Pamella mengenalnya sebagai sosok yang penyabar. Sejak muda, laki-laki yang dikenal sebagai pendakwah ulung di Jogja ini memang sudah menyatakan niatnya untuk hidup sebagai guru ngaji.

#3 Toko pertama di Jalan Kusumanegara

Mereka menjalankan usaha pertamanya, Toko Pamella yang terletak di Jalan Kusumanegara. Toko itu berdampingan dengan Toko Flora, usaha milik orang tua Pamella. Saat itu, keduanya sama-sama berjualan kelontong.

“Jadi toko itu pemberian orang tua. Mertua saya menyiapkan rumah yang di Timoho dan ibu saya menyiapkan toko ini,” kenangnya.

Hari pertama buka, Pamella masih ingat, omzet yang ia dapatkan berjumlah Rp3.300. Ia sisihkan Rp50 untuk ditabung. Ia ingin bisa berkurban saat Iduladha melalui tabungannya tadi.

Iklan

Setelah berhasil berkurban, ia niatkan lagi untuk menyisihkan lebih banyak. Kali ini targetnya agar bisa naik haji. 

“Omzet bertambah, naik jadi Rp75 ribu, suami saya ganti kaleng (tabungan) lebih besar untuk haji. Saya sisihkan Rp500 perhari,” ucapnya.

#4 Momentum toko berkembang gara-gara kebijakan BI

Ada satu momentum yang membuat Pamella Swalayan berkembang di masa-masa awal. Hal itu terjadi di tahun 1978 kala Bank Indonesia (BI) memberlakukan kurs tengah baru terhadap mata uang asing. Kebijakan ini ditetapkan bersamaan dengan dilakukannya devaluasi rupiah pada 1978. Kebijakan yang diumumkan pemerintah ini dikenal dengan KNOP 15 yang diumumkan pada 15 November 1978.

Saat itu terjadi lonjakan harga barang-barang pokok. Harga emas pun meroket tajam. Namun, Pamella mengalami keberuntungan.

Saat mengetahui kebijakan itu, dengan sisa uang yang ia miliki, Pamella datang ke Toko Srimpi. Toko milik orang Tionghoa ini memang jadi tempat kulakan barang dagangan. Namun, saat ia datang, ternyata toko itu sudah tutup. 

“Saya ketuk, ‘iki aku Pamella’. Kok ya dibuka itu loh. Padahal orang lain sebelumnya nggak dikasih, saya sampai heran. Saya dikasih harga sebelum naik. Mereka itu baik sekali sama saya,” ucapnya dengan antusias.

Selepas mendapat stok barang dengan harga normal, Pamella dan Sunardi menutup tokonya sejenak. Sembari menunggu rilis harga pasar barang terbaru. Ketika buka kembali, mereka bisa mendapatkan untung lebih karena harganya melonjak.

Selain itu, mereka berdua juga punya tabungan berupa emas. Harga emas yang juga melonjak membuat mereka langsung menjualnya. Dua hal ini membuat mereka akhirnya bisa menunaikan haji untuk pertama kalinya.

#5 Transformasi Toko Pamella

Di tahun 1978, Toko Pamella yang semula hanya dikelola berdua juga mulai punya karyawan. Bisnis terus berkembang dan tiga tahun kemudian pasangan suami istri ini memberanikan diri membuka cabang Pamella Dua di Jalan Pandean.

Di dekade 1990-an, Pamella benar-benar melesat. Dari yang semula dua cabang, pada tahun 1999 sudah membuka cabang yang keenam. Cabang terakhir yang letaknya di Jalan Raya Candi Gebang, Sleman ini buat Pamella cukup besar.

Selain cabang yang berkembang pesat, tahun-tahun itu juga Toko Pamella bertransformasi jadi Pamella Swalayan. Berubah dari traditional trade menjadi modern trade. Perubahan ini, menurut sang pendiri, cukup meningkatkan omzet penjualan.

#6 Memilih untuk tidak utang bank

Situasi krisis ekonomi yang mendera di tahun-tahun juga tak berpengaruh banyak pada usahanya. Bagi Pamella, kuncinya tidak utang bank. Ada dua alasan berbeda mengapa sepasang suami istri ini ogah meminjam uang ke bank.

“Kalau Bapak itu karena alasan syariat ya, riba. Tapi kalau saya bukan itu, saya ada trauma tentang utang,” ucapnya, lirih.

Ketika masih sehat, sang ayah mempunyai usaha yang modalnya berasal dari pinjaman bank. Semuanya berjalan baik-baik saja sampai suatu ketika setelah mengajukan pinjaman, sang ayah jatuh sakit.

“Ayah saya sakit kanker sampai berbulan bulan di rumah sakit,” ucapnya. 

“Uang dari bank pas turun langsung larinya untuk biaya berobat. Kami nggak punya uang. Sampai wafat akhirnya ibu yang menanggung,” sambungnya.

Hal itu ia ketahui beberapa waktu sepeninggal ayahnya. Sejak saat itu, ia berkeinginan kuat agar sebisa mungkin tidak berhutang ke bank. Prinsip itu terus ia pegang sampai bisnisnya berkembang pesat seperti sekarang.

#7 Komitmen bantu UKM

Dalam perjalanannya, usaha Pamella bukan tanpa kendala. Ada beberapa diversifikasi lini bisnis yang tak berjalan lancar. Namun, itu hal biasa dalam dunia bisnis. Jika memang tidak menghasilkan laba, ia pilih menutupnya dan menggantinya dengan unit usaha lain.

Pamella Swalayan juga dikenal sebagai toko yang tidak menjual rokok. Bisnis supermarketnya kini sudah melalui jalan panjang. Saat ini memiliki sembilan cabang dan yang terakhir buka tahun 2018 berada di Gunungkidul. 

Reporter: Hammam Izzuddin
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Pamella Supermarket: Kisah Gigihnya Perempuan Muda Rintis Usaha dan Menghadapi Psikosomatik

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2022 oleh

Tags: Jogjapamellapamella supermarketpamella swalayan
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kuliah s2.MOJOK.CO

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.