MOJOK.COWali Kota Surabaya batasi usaha yang berisiko menyebarkan Covid-19, dan salah satu yang terdampak ya ambyarnya bisnis pijat plus-plus.

Pintu masuk bangunan di sebuah ruko di kawasan Surabaya Barat itu dililit rantai bergembok. Juga ada dua orang sekuriti berjaga di depannya. Jika tak punya kenalan, atau sudah janjian terlebih dahulu dengan Guest Relation Officer (GRO) atau punya janji dengan terapis, jangan harap bisa masuk.

Sebaliknya, sekuriti akan langsung membukakan pintu ketika Anda termasuk dalam daftar tamu. Tidak ada aktivitas di lounge seperti hari-hari biasanya. Juga tidak ada lagu-lagu yang diputar. Hanya GRO yang menyambut, dan memberikan terapis yang sedang available.

“Meski kelihatan tutup gitu, tiap hari hampir semuanya penuh,’’ ucap Adi Jimbon, nama samaran seorang pelanggan tetap di tempat itu.

“Tiap ke sini, saya selalu melihat banyak pintu room selalu bertuliskan occupied, gitu,’’ tambahnya.

Room yang dimaksud adalah room standar seharga Rp 450 ribu. Harga ini sudah termasuk terapis dan layanan pijat maksimal hanya untuk handjob atau kalau untuk full service termasuk esek-esek ya masih harus tambah lagi.

Hari itu, Adi bersama seorang kawannya menyewa VVIP Room seharga Rp 3,3 juta per dua jam. Fasilitasnya? Langsung dua orang terapis, dua kamar, ada satu ruangan besar untuk karaoke lengkap dengan jacuzzi di dalam ruangan.

Seperti laiknya pelanggan tetap banyak duit, Adi dan teman-temannya tak perlu kontak dengan GRO. Dia sudah disambut dua terapis bening-bening.

“Ayo, Ko, kok suwe? Macet ta dalane, ko?’’ kata terapis menyebut Adi dengan “koko”. Koko sendiri berarti “kakak” dalam bahasa Mandarin, dan di dunia pijat plus-plus, ini berarti tamu sugar daddy yang banyak duit.

Ketika di dalam, terapisnya merayu Adi lagi. Untuk tambah terapis.

“Ayo, Ko, kasihan temanku. Dah dua hari ini nggak dapat tamu. Arek e apik. Servis e maut. Tak jamin wis,’’ ucap terapinya.

Adi mengangguk, dan kemudian datang lagi dua terapis. Cerita selanjutnya mudah ditebak. Selama empat jam, Adi dan seorang temannya merasakan bagaimana rasanya menjadi sosis dalam sebuah hotdog.

Ben gak stres, Bos,’’ kata Adi cengar-cengir usai keluar tempat spa itu.

“Oya, ini digratisi dari tempatnya. Satu box masker. Ben gak kenek kopid,’’ imbuhnya, lantas ngakak.

Salah satu lokasi tempat pijat plus-plus di kawasan Surabaya Selatan yang masih tutup.

***

Tempat pijat plus-plus yang didatangi Adi itu sekarang merupakan satu-satunya tempat pijat plus-plus yang masih buka di Surabaya.

Saat pandemi, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengeluarkan Perwali No. 33/2020 tentang perubahan atas Perwali No 28/2020 tentang perdoman tatanan normal baru pada Kondisi Pandemi Covid-19 di Surabaya.

Pada intinya, perwali itu melarang tempat-tempat usaha yang berpotensi kuat menularkan Covid-19 untuk tutup sementara, atau jam operasionalnya dibatasi dengan pemberlakuan protokol Covid-19 yang sangat ketat. Tempat pijat, baik plus maupun tidak, tentu terkena imbasnya.

Bagaimana tidak, ruangan tertutup ber-AC, tidak ada physical distancing (malah seringnya physical contacting). Tentu sangat ideal sekali bagi virus itu untuk berpindah tempat.

Perwali itu langsung seperti menjadi kartu merah bagi tempat pijat, baik plus plus maupun tidak. Yang jadi pertanyaan, adalah apa efeknya bagi bisnis tempat pijat plus-plus?

Perlu saya jelaskan di sini, ketika Redaktur Mojok meminta saya membuat tulisan tentang bisnis pijat plus-plus, tidak dijelaskan tempat pijat plus-plus seperti apa yang hendak dibahas? Jadi, ya salah saya sendiri juga tidak meminta penjelasan lebih detail.

Baca juga:  Persebaya 93 Tahun, Menerjemahkan Rivalitas Sebagai Aktualisasi Diri, Bukan Sekadar Cinta dan Benci

Secara tradisional, Surabaya (dan kota-kota lainnya juga) setidaknya ada dua jenis tempat pijat plus-plus berdasarkan kelasnya. Yakni, kelas menengah ke bawah. Ini berupa tempat-tempat pijat dengan damage cost (DC) di bawah Rp750 ribu.

Ini biasanya berupa kontrakan rumah kecil, kasur yang bisa membuat Anda gatal-gatal, kamar mandi di luar dengan shower yang berkarat di sana-sini, dan ruangan seperti bangsal yang hanya ditutup tirai. Beberapa tempat di antaranya bahkan hanya menggunakan kipas angin sebagai pendingin ruangan.

Prosedurnya pun lebih sederhana. Pijatnya paling hanya sekedar remet-remet nggak jelas, dan kemudian terapisnya bertanya, “Pijatnya sudah, terus gak sekalian ta?”

Tapi, ini tidak terlalu saya bahas, karena jumlahnya sangat banyak. Lagipula, saat ini banyak dari mereka yang sudah tutup.

Sedangkan jenis yang kedua adalah dengan DC di atas Rp1 juta dengan fasilitas room minimal seperti hotel berbintang tiga. Jumlahnya di Surabaya tidak banyak. Sebelum pandemi saja, paling banyak yang beroperasi hanya belasan.

Namun, setelah pandemi, yang berani buka hanya satu. Sempat ada yang buka, namun sempat digerebek aparat pada Mei lalu. Seusai PSBB tahap pertama di Surabaya. Adi termasuk yang tertangkap saat itu bersama seorang kawannya.

“Padahal, saya sudah selesai. Tinggal berpakaian. Lah kok ada petugas datang ramai-ramai,’’ katanya, lalu mengucapkan sumpah serapah.

Untung saja, kawannya punya kenalan seorang petinggi aparat tersebut di Jakarta, dan kemudian membebaskannya. Karena ya memang sebenarnya tidak ada pasal pidana untuk menjeratnya.

Dalam prostitusi, yang bisa dijerat pidana adalah perantara, mucikari, atau pun wisma (menyediakan tempat) sebagaimana pasal 296 jo 506 KUHP. Para penjaja dan penikmat layanan tidak bisa dijerat (kecuali penjaja mengirimkan foto diri berpakaian minim, bisa dijerat dengan UU ITE terkait konten tak senonoh).

Tidak adil bagi perempuan? Soal itu dibahas di tulisan lain saja.

Tapi, yang membuat Adi sempat cekot-cekot kepalanya, adalah kemungkinan diperiksa sampai malam dan keluarganya tahu.

“Bisa kiamat, Bos,” ucapnya.

Belakangan, diketahui bahwa penangkapan tersebut karena konon tempat pijat plus-plus itu tidak memberikan pungli sebagaimana mestinya.

“Dicicil. Misalnya janji ngasih 100. Tapi, dicicil 20 dulu, 30 dulu, dan jangka waktunya lama. Makanya diberi pelajaran,’’ katanya.

Entah benar atau tidak ucapannya, yang jelas penggerebekan tersebut tak pernah dirilis, atau muncul di media-media setempat. Tapi, tempat pijat itu masih tutup sampai sekarang setelah penggerebekan tersebut.

Ada juga salah satu tempat pijat plus-plus cukup besar di Surabaya yang tutup sejak bulan puasa April lalu. Alasannya? Pemiliknya berpikir untung rugi.

“Daripada pengunjung sepi, mahal di operasional, mending sekalian tutup,” kata Joni, nama samaran pengelolanya.

Joni memprediksi bahwa pandemi akan membuat orang berpikir untuk berkunjung ke tempatnya. Yang utama tentu saja alasan pasar. Makin sedikit yang sekarang bisa mengeluarkan uang antara Rp1,2 hingga Rp2 juta untuk sekadar mencari kesenangan syahwat di tempatnya.

“Belum lagi saingan dengan tempat lain. Pasar yang mengecil, masih terbagi pula,” kata pria yang juga punya usaha serupa di Jakarta tersebut.

Selanjutnya, adalah alasan soal regulasi.

“Daripada kena razia, izin malah dicabut. Ngurus lagi pasti repot,’’ terangnya.

Jauh-jauh hari Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara mengingatkan agar para pemilik tempat hiburan agar tidak mokong.

“Kami tak segan-segan akan mencabut izin usahanya. Otomatis, kalau mau beroperasi lagi ya harus mengurus izin,” kata Febri kepada sejumlah wartawan beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Ucapkan Jancuk dengan Fasih Sesuai Tajwid Surabaya

Kondisi ini akhirnya membuat banyak tempat pijat, baik plus-plus maupun tidak, yang tiarap. Menanti situasi kembali kondusif. Termasuk, ada dua tempat pijat plus-plus yang disebut-sebut punya beking sangat kuat di Surabaya pun memilih untuk tiarap dulu.

Sampai akhirnya kondisi terakhir, per 23 Oktober ini, hanya ada satu tempat pijat plus-plus yang berani buka. Itu pun dengan cara kucing-kucingan. Hanya pelanggan tertentu saja yang bisa mendapat akses.

Salah satu akibatnya adalah tempat itu kebanjiran perempuan terapis. Tempat itu, kini menyediakan sekitar 30-an terapis. Jumlah yang sangat besar. Pada situasi normal, tempat itu biasanya hanya ditempati 15-an terapis saja.

“Ya, pindahan dari tempat pijat lain,” kata Adi Jimbon. Ketika ke tempat itu, Adi beberapa kali ketemu terapis yang pernah dijumpainya di tempat lain.

“Ya disapa gitu. Koko, koko, saya dong. Resiko menjadi cipto,” katanya, kemudian ngakak.

Cipto adalah akronim dari icip roto, atau menjajal semua. Pekerjaan Adi memang kerap membuat dia harus mengentertain tamu-tamu ke tempat-tempat begituan.

“Jadinya ya harus rajin incip-incip, biar bisa ngasih referensi ke tamu-tamu,” katanya memberi alasan yang nggak mashoookkk sama sekali untuk menutupi hidung belangnya.

Di kawasan inilah ada klub malam, tempat “tembak langsung” dan tempat pijat plus-plus di Surabaya. Sstt… buat yang tahu ini kawasan mana, diem-diem aja yha~

***

Di sisi lain, situasi seperti ini membuat para terapis ini lumayan sulit juga. Bahkan, pada 3 Agustus lalu, mereka sempat mendemo Pemkot Surabaya agar tempat kerja mereka boleh beroperasional.

Para terapis ini punya ikatan kerja unik dengan tempat kerjanya. “Kami tidak menerima gaji. Hanya, pembagian persentase kamar dan tip dari para tamu,’’ kata Elsa, juga nama samaran seorang terapis.

Untuk paket standar tarif kamar Rp 450 ribu (plus pijat dan handjob), Elsa hanya menerima Rp175 ribu saja. Untuk lebihnya, dia bisa menerima tambahan Rp500 ribu untuk layanan full service. Dalam kondisi normal, dia bisa mendapat 2-3 tamu.

Kalau sekarang? “Dalam dua hari saja belum tentu,” keluhnya.

Padahal, operasional dia lumayan besar. Dia ngekos di kamar dengan tarif Rp2,5 juta per bulan. Biaya listrik, pulsa, perawatan, dan kebutuhan sehari-hari, dia bisa habis Rp 7,5 juta. Belum lagi, dia ngirim biaya untuk orang tua dan dua anaknya di kampung halamannya di Jawa Barat.

Wis kalau gak dibantu koko ini, saya gak bisa hidup,’’ katanya, mengerling ke Adi Jimbon.

Elsa masih cukup beruntung punya sugar daddy seperti Adi Jimbon. Bagaimana dengan yang lainnya? Yang tidak kebagian di tempat pijat yang masih berani buka dan tidak punya sugar daddy? Yang bertahan tidak pulang ke tempat asal biasanya ya open BO secara daring.

“Tapi, dengar-dengar dari teman, sekarang ya nggak banyak juga yang transaksi. Wis corona ini memang jancukan, moga-moga segera pergi,” katanya.

Yang jelas, pandemi membuat bisnis tempat pijat plus-plus di Surabaya menjadi mati suri. Bukan lagi surga bagi para pencari layanan pijat plus-plus, Anda harus punya koneksi kuat untuk bisa mendapatan layanan pijat plus-plus.

Tapi, kalau hanya untuk sekadar tembak saja, masih akan sangat banyak. Tidak hanya di Surabaya, tetapi juga di tempat lain. Tinggal rajin-rajin buka smartphone, mencari-cari di sejumlah media sosial, ya pasti akan dapat. Karena situasi pasarnya sekarang seperti ini. Supply banyak, demand turun.

BACA JUGA Ucapkan Jancuk dengan Fasih Sesuai Tajwid Surabaya dan tulisan Liputan lainnya.