Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

30 September Sebaiknya Jadi Hari Libur Nasional

Is Harjatno oleh Is Harjatno
30 September 2017
A A
170930 ESAI 30 September Sebaiknya Libur

170930 ESAI 30 September Sebaiknya Libur

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berbahagialah kita hidup di Indonesia, negara yang pada 2017 saja memiliki 16 hari libur nasional dan 4 cuti bersama. Dari 16 tanggal merah tersebut, setidaknya 13 di antaranya merupakan hari besar terkait keagamaan dan tahun baru. Sedangkan empat tanggal cuti bersama, semuanya adalah cuti besar keagamaan.

Jumlah tanggal merah itu pun sebenarnya masih bisa bertambah lagi apabila, misalnya, pemerintah berani secara konsekuen menetapkan aliran-aliran keyakinan lokal dalam posisi setara dengan agama-agama impor mainstream. Bayangkan jika Sunda Wiwitan, Kaharingan Dayak, dan lainnya menyumbangkan hari besar masing-masing untuk dijadikan tanggal merah, apa nggak tambah bejibun itu hari libur dalam kalender?

Dari perspektif inilah, kadang saya curiga: jangan-jangan keengganan pemerintah mengakui dan menempatkan keyakinan-keyakinan lokal sebagai agama yang setara dengan agama-agama mainstream itu sebenarnya tak lebih sebuah konspirasi keji antara kaum kapitalis dan birokrat untuk mencegah jangan sampai ada terlalu banyak tanggal merah.

Meskipun rada ironis juga, jumlah libur nasional sebanyak itu, kok bisa banyak di antara kita yang bertingkah sepeti orang kurang piknik. Entahlah. Mungkin kita demikian sibuknya berjuang saling melestarikan perasaan terancam dan terzalimi, sehingga tak lagi sempat memberi jeda yang cukup bagi diri sendiri untuk berlibur dari riuh-rendah kehidupan duniawi yang kefanaannya abadi ini.

Nah, bulan September sudah tiba di pengujungnya. Setelah hampir 29 hari 29 malam kita “berpuasa dari segala indikasi move on”, hari ini kita semua berlebaran, semua kalangan kita, baik ekstrem kiri, ekstrem kanan, maupun ekstrem tengah–yakni golongan yang memandang bahwa semua yang tidak mengikuti sikap moderat mereka sebagai kalangan yang sesat, amoral, tidak berkemajuan, dan tidak pancasilais (Jangan salah, yang begini ini ada lho, dan jumlahnya lumayan. Tanya saja Tuan Jenderal Kivlan.).

Bagaimana kita berlebaran? Dengan cara debat kusir dan saling menyalahkan, tentu saja. Tanpa kue-kue, tanpa baju baru, tanpa mudik, tanpa rangkaian ibadah sebagai penandanya, dan tentu saja tanpa maaf-maafan.

Tahun ini bahkan terasa spesial karena dimeriahkan dengan pemutaran kembalinya sebuah film yang sudah terlanjur jadi legenda. Kids jaman now yang seumur bijinya belum pernah menonton film itu lantaran di tahun ketika film itu terakhir kali diputar mereka masih berwujud proposal, atau bahkan mungkin angan-angan, belum lagi berbentuk spermatozoid, mereka semua akhirnya akan merasakan sensasi film dahsyat tersebut.

Saya menyebut bahwa selama 29 hari kemarin kita semua telah berpuasa dari segala indikasi move on karena sepanjang bulan September, bahkan sebagian ”aliran” sudah memulainya sejak akhir Agustus, kita  lebih banyak berfokus pada masa lalu, masa lalu, dan masa lalu saja. Nyaris semuanya melulu soal masa lalu yang belum terselesaikan dan mungkin memang tidak sepenuhnya benar-benar ingin dituntaskan. Kalaupun bicara soal masa depan, paling-paling sejauh-jauhnya hanya di kisaran 2018 dan 2019. Nggak ada yang ngeributin Piala Dunia 2022 yang akan berlangsung di Qatar, kalau jadi, misalnya.

Berpuasa move on sepanjang bulan di mana nyaris semua orang mendadak jadi sejarawan ini kenyataannya memang terasa sangat berat dan tidak spirituil sama sekali. Puasa makan-minum-seks di bulan Ramadan hanya berlaku sejak subuh hingga petang, sementara puasa move on sepanjang September berlaku siang-malam. Puasa Ramadan dan Idul Fitri dijalankan dan dirayakan secara khususnya oleh satu kaum saja (dengan umat agama lain kadang-kadang cuma ikutan kena repotnya), sementara puasa move on dan lebaran “saling hujat” di bulan September dijalankan dan “dirayakan” oleh semua kelompok dan golongan, seagamis ataupun seateis apa pun dia.

Dan, hey! Itulah yang menyatukan kita dan menjadikan kita sama tololnya.

Atas dasar itulah, saya mengusulkan sebaiknya pemerintah menetapken saja tanggal 30 September sebagai tanggal merah alias libur nasional. Dengan begitu 30 September bisa kita manfaatkan sebagai momentum liburan rasa lebaran, di mana semua lapisan masyarakat akhirnya bisa saling megakui kesalahan dan saling memaafkan, setidaknya dalam 1-2 hari sebagaimana lebaran yang asli, untuk kemudian saling berseberangan lagi sebagaimana biasanya.

Kenapa tanggal 30 September dan bukannya 1 Oktober? Begini. Selama ini yang dipersoalkan selalu 30 Septembernya, bukan 1 Oktober. Lagi pula, 1 Oktober itu yang merupakan Hari Kesaktian Pancasila itu saya rekomendasikan untuk jadi tanggal merah pula kelak. Jadi kan enak, 30 September dan 1 Oktober tanggal merah. Kayak 1 dan 2 Syawal. Syukur-syukur kalau 29 September dan 2 Oktobernya juga dijadikan cuti bersama. Kan hore.

Dengan semakin banyaknya momen bermaaf-memaafan, kita sebagai bangsa akan bisa lebih baik karena terbiasa (berani) mengakui kesalahan dan meminta maaf. Karena dari sudut pandang psikologi, prasyarat bagi manusia supaya bisa move on secara otentik adalah hanya jika dia sudah bisa menuntaskan dan menerima (atau memaafkan) segala urusan yang membelenggunya di masa lalu. Syahdu, ya?

Jadi, lupakanlah celoteh “kalau mau move on, ya move on aja. Yang lalu lupakan saja.”

Iklan

Dan andai ternyata prasyarat di atas belum bisa kita penuhi, setidaknya kita sudah mencoba. Atau barangkali perlu kita tambah lagi momen tanggal merahnya untuk keperluan itu. Mungkin dengan mengabadikan tanggal-tanggal peristiwa penting lainnya, atau hari-hari semacam hari pernikahan Jonru dan khitanan Felix Siauw dan lain sebagainya.

Ayolah, kalau you, you, dan you, sungguhan mendambakan keadilan sosial dan antikapitalisma, sepatutnya setuju dong jika jumlah tanggal merah diperbanyak, agar semakin sempit ruang untuk eksploitasi manusia atas manusia. Ngiaaa ….

”Lho, Mas, jadi sampeyan menyama-nyamakan 30 September dengan Idul Fitri? Sesat sampeyan, Mas!”. Lha nggak dong, Kang. Tetap beda. Kan yang 30 September nggak ada THR-nya.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2020 oleh

Tags: 30 SeptemberFelix SiauwJonru
Is Harjatno

Is Harjatno

Artikel Terkait

Felix Siauw Seharusnya Pro Syiah Iran Sejak Dulu MOJOK.CO
Esai

Coba Bayangkan Kalau Sejak Dulu Felix Siauw Pro Iran, Israel Pasti Sudah Rata dengan Tanah!

17 April 2024
Sosok

Gibran Rakabuming Bicara Soal Bisnis, Mata Najwa, Sampai Jonru

18 Oktober 2023
Enaknya Orang Kristen, Begitu Mualaf Langsung Jadi Ustaz Seribu Umat
Esai

Enaknya Orang Kristen, Begitu Mualaf Langsung Jadi Ustaz Seribu Umat

2 Maret 2020
Pojokan

Kenapa Sensi dengan Mereka yang Hijrah?

23 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

12 Januari 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.