MOJOK.CO La Cikulu dan La Ege berteman sejak SD. Tapi ada sebuah cerita yang bikin La Ege tidak bisa lupa, tentang bagaimana siasat kawannya itu saat batal puasa.

Lupa kalau lagi puasa

Ini cerita tentang masa kecilnya La Cikulu waktu da masih sekolah di SD. Waktu itu pas bulan puasa. La Cikulu juga da ikut puasa. Tapi namanya anak kecil toh, masih suka lupa-lupa kalo lagi puasa.

Waktu itu sudah puasa kelima. La Cikulu ini da mo pergi main-main dengan temannya. Namanya La Ege. Sebelum da pergi ke rumahnya La Ege, da singgah beli biskuit dulu di kios. Pas da tiba di rumahnya La Ege, La Ege da heran lihat kawannya da lagi makan biskuit.

“Woi Cikulu, ko tidak puasa ka”, tanya La Ege.
“Astaga, iyo dih. Sa lupa kalo sa puasa”, La Cikulu langsung lari pulang.

La Ege da heran kenapa ini La Cikulu da langsung pulang. Padahal tadi rencananya diorang mo pergi main. Akhirnya dia da pergi ikut La Cikulu ke rumahnya.

Pas tiba di rumahnya, La Ege da kaget lihat La Cikulu yang lagi makan nasi.

“We cikulu, kenapa ko makan lagi. Ko nda mo puasa mi ka?”, tanya La Ege.
“Sa puasa toh. Masa sa tidak puasa”, jawab La Cikulu sambil mengunyah.
“Kenapa pale ko makan?”.
“Oh, ini bukan sa batal, tapi sa lagi sahur”
“Sahur apa siang-siang begini?”, tanya La Ege terheran-heran.
“Sa tanya ko. Kalo ko lagi sembahyang terus ko kentut, apa ko bikin. Ko mo tetap sembahyang?”
“Tidak toh, sa pergi berwudu ulang baru sa sembahyang lagi”.
“Cocok mi. Saya juga ini sa sahur lagi karna sa batal tadi. Habis itu baru sa lanjut puasa lagi”.

Baca juga:  Kampanye Antirokok, Cermin Kegagalan Pendidikan Matematika

“…”

Nonton ke bioskop

La Puntio ini dari kampung. Suatu hari, La Pokea yang sudah lama tinggal di kota da mo ajak ini La Puntio untuk nonton film di bioskop. Maksudnya La Pokea ini da ajak La Puntio supaya da tau juga apa itu bioskop.

“Puntio, sebentar malam kita pergi ke bioskop eh”, ajak La Pokea.
“Bioskop itu apa”
“Itu tempat nonton”
“Kau ada tivi toh? Untuk apa lagi nonton di tempat lain”
“Yang ini lain, Puntio. Ini dia tv besar”
“Oh iyo pale”, La Puntio mengiyakan.

Malamnya diorang pergi di bioskop. Pas dorang sampe, ternyata sudah banyak orang. “Banyak juga ini yang mo nonton di tivi besar”, pikir La Puntio. La Pokea da beli dulu tiket masuknya. Setelah da beli, da kasi juga tiket sama La Puntio.

“Apa ini”, tanya La Puntio.
“Ini tiket nontonnya. Kalo ko masuk sebentar, ko kasi sama kaka-kaka yang jaga depan pintu bioskop”, La Pokea menjelaskan.

Pas tiba waktunya diorang mo nonton, diorang langsung masuk di dalam bioskop. Diorang dapat tempat duduk paling belakang.

“Eh, ini felemnya sudah mulai ka?”, tanya La Puntio

“Belum. Masih dikasih liat dulu iklan-iklan”, jawab La Pokea sambil menunjuk layar bioskop yang menayangkan trailer film-film lain.

Tanpa aba-aba, La Puntio da langsung teriak,

“Woi kaka yang pegang remot, bisa ganti dulu ka? Felemnya belum mulai juga ini. Masih promosi. Putar felem azab dulu!”

Baca juga:  Bendera Indonesia Terbalik dan Burung Garuda yang Dimakan

La Puntio diusir dari bioskop.

Belajar Matematika

Waktu itu adalah pelajaran matematika. Ini pelajaran favorit La Cikulu karena da suka berhitung. Apa lagi kalo sudah hitung-hitungan soal uang.

Pelajaran dimulai. Bapak Guru mulai menjelaskan tentang perhitungan sederhana. Dia mengajarkan tentang perkalian, pembagian, pengurangan dan juga penjumlahan.

Setelah menjelaskan panjang lebar, saatnya bertanya kepada siswa. La Cikulu da duduk di bagian belakang. Dari tadi sebenarnya da tidak terlalu perhatikan penjelasannya Pak Guru. Da malah sibuk menggambar.

“Oi, Cikulu, ko sudah mengerti ka?” Pak guru tiba-tiba bertanya.
“Mengerti, Pak guru”, jawab La Cikulu kaget.
“Kalo begitu ko jawab ini. Berapa (6-2) x 2?” Bapak guru menulis pertanyaan di papan tulis.

La Cikulu keringat dingin. Dari tadi dia memang tidak memperhatikan. Jadi dia benar-benar tidak tau apa jawabannya.

Menyadari hal itu, pak guru menjelaskan dengan memberikan contoh.

“Jadi misalnya kau Cikulu punya 6 bebek, terus 2 ekor dipotong. Ko punya bebek sisa berapa?”.
“Sa punya bebek berarti tinggal 4, Pak guru“.
“Betul. Sekarang ko punya bebek yang 4 ini dikali 2, jadi berapa?”.

La Cikulu berpikir sejenak.

“Jadi 2, Bapak guru!”, jawabnya dengan lantang.

Siswa satu kelas semua tertawa. Pak guru tepuk jidat.

“Kenapa bisa jadi 2?”.

“Bapak guru ini bagaimana. Kalo sa punya bebek tinggal empat, terus dua ekor ada di kali, berarti sa punya bebek tinggal dua toh”.

La Cikulu sepertinya tidak akan naik kelas.

BACA JUGA Bendera Indonesia Terbalik dan Burung Garuda yang Dimakan atau artikel lainnya di MOP