Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Mop

Bendera Indonesia Terbalik dan Burung Garuda yang Dimakan

Irwan Bajang oleh Irwan Bajang
4 April 2020
A A
burung garuda bisa dimakan bendera merah putih indonesia terbalik lambang NKRI mopapua MOP cerita lucu timur pace agustinus emosiorang timur lawakan timur mojok.co

burung garuda bisa dimakan lambang NKRI mopapua MOP cerita lucu timur pace agustinus emosiorang timur lawakan timur mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pace Agustinus menemui seorang pejabat pemerintah pusat dan ditanya-tanya soal adat istiadat penduduk, termasuk apakah penduduk suka makan burung garuda?

Burung Garuda Boleh Dimakan?

Pace Agustinus, kepala salah satu suku di Papua diundang ke Jakarta menemui seorang pejabat pemerintah pusat yang akan ditugaskan ke Papua. Pejabat ini ingin mengetahui secara langsung adat-istiadat dan kebiasaan penduduk setempat yang merisaukan hatinya.

Iklan

“Bung, katanya di Papua masih ditemui kebiasaan orang Papua makan daging manusia sebagai lauk pauk?” tanya pejabat itu.

Pace Agus agak terkejut dengan tudingan tersebut, namun dengan suara penuh percaya diri ia menjawab, “Betul Bapak, tetapi itu zaman dahulu. Sejak nenek moyang kami menganut agama Kristen, kebiasaan tersebut sudah kami tinggalkan.”

“Kalau begitu daging apa saja yang kamu jadikan pengganti daging manusia?” tanya pejabat lebih lanjut.

“Sekarang ini kami makan daging binatang, baik binatang berkaki empat, burung-burung, juga ikan-ikan.”

“Apakah babi dan anjing juga dimakan?” tanya pejabat itu.

“Ya babi juga kami makan! Tetapi hanya dimakan oleh kami yang beragama Kristen. Khusus anjing, orang Papua baru belajar makan setelah diperkenalkan oleh saudara-saudara kami orang Batak dan Manado.”

“Kalau burung-burung? Jenis-jenis burung apa saja yang dimakan?”

“Semua jenis burung, Pak! Termasuk burung cendrawasih…”

“Masa? Burung cendrawasih yang bulu-bulunya indah itu juga kamu makan?”

“Iya, dagingnya kami makan, bulu-bulunya yang indah dijadikan perhiasan kepala pada pesta adat,” jawab Pace Agus tegas.

Pejabat itu merenung-renung sejenak kemudian bertanya lagi, “Kalau semua jenis burung bisa dimakan berarti burung ‘garuda’ juga pasti kalian makan!”

Pace Agus merasa agak terpojok dengan tudingan tersebut. Sambil melirik ke arah ukiran burung Garuda yang tergantung di dinding, ia mencoba tegas.

Iklan

“Bapak, jangan jebak saya masuk perangkap separatis. Burung garuda tidak boleh dimakan, baik oleh orang Papua maupun manapun orang Jakarta, termasuk Bapak sendiri. Itu burung milik NKRI!”

“Mengapa tidak boleh dimakan? Itu kan burung juga!” pancing sang pejabat.

“Bapak jangan paksa-paksa kami orang Papua makan burung garuda. Kita Bangsa Indonesia sangat berkepentingan untuk menjaga tetap tegaknya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini terus digenggam oleh burung garuda. Kalau Bapak paksa kami makan burung garuda, lalu binatang apa lagi kita suruh menggenggam ‘Bhinneka Tunggal Ika’? Bapak maukah pegang itu tulisan setiap hari?!”

Kenapa Bendera Indonesia Bisa Terbaik?

Pada perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus, sebuah perahu dari pulau-pulau terdekat mengangkut rakyat menuju kota Nabire untuk mengikuti perayaan. Dari kejauhan tampak sesuatu yang mencurigakan, bendera Merah Putih dipasang terbalik. Polisi segera dilapori dan satu kompi Brimob siap di pantai menunggu orang-orang kampung yang “kurang ajar” ini.

Ketika perahu mendekat ke pantai, terdengar perintah dari komandan, “Seluruh penumpang perahu ditahan karena menghina lambang negara.”

Kepala kampung yang mendampingi warganya langsung turun dari perahu dan datang menghadap, “Bapak Komandan, kalau kami salah, saya saja yang ditahan dan biarkan rakyat saya menghadiri perayaan 17 Agustus. Itu tujuan kami ke sini.”

Komandan Brimob langsung membentak, “Kenapa pada hari penting ini bendera dipasang terbalik!”

Kepala kampung tampak kaget dan menoleh ke belakang. “Adooo… Bapak Komandan, sa minta maaf sekali. Tadi dalam perjalanan, hujan deras sekali e. Bendera yang dibagi ini kain merahnya mudah luntur…”

“Lalu?!”

“Biar bendera kita tidak merah semua, bendera saya minta dipasang terbalik sampai hujan selesai. Sampai sini saya lupa kasi balik posisi.” 

Tidak Pakai Matakah?

Pace Agustinus ikut perlombaan membuat pagar dalam rangka perayaan 17 Agustus. Pagar yang dibuatnya sangat bagus, pakai ukiran khas Papua dan dicat dengan warna merah-putih. Semua warga yakin, laki-laki ini pasti akan merebut juara pertama.

Suatu sore sebuah truk melewati kampung itu dan tanpa disengaja menabrak pagarnya hingga roboh. Laki-laki mengamuk dan menuntut sopirnya bertanggung-jawab.

“Kurang ajar! Ko tidak pakai matakah?” teriak Pace Agus sambil meminta si sopir turun dari mobil.

Tiba-tiba seorang laki-laki bersepatu lars, berjaket loreng, dengan pistol di pinggang turun dari truk.

“Minta maaf Bapak, kami tidak sengaja. Saya akan menyuruh anak buah datang memperbaikinya.”

Pace Agus sekejap turun suara.

“Maaf Bapak Komandan, yang sa maksudkan tidak pakai mata itu pagar ini. Dia su lihat ada truk datang, tapi tidak menyingkir cepat-cepat. Bapak tidak usah kirim anak buah ke sini, nanti sa bikin bagus lagi sendiri.”

BACA JUGA Berkat Jokowi, Penghuni Kompleks Kopassus Tak Buang Sampah Sembarangan atau artikel lainnya di MOP.

Terakhir diperbarui pada 3 April 2020 oleh

Tags: bendera terbalikburung garudamopapua
Irwan Bajang

Irwan Bajang

Tukang nulis dan tukang masak. Tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

panel surya
Mop

Pembangkit Listrik Tenaga Tuhan Tidak Pernah Kehabisan Pulsa

9 Mei 2020
balik nama bpkb nama terbalik dompet hilang pelabuhan mop anado mop papua jokes orang timur guyonan timur WIT mojok.co
Mop

Mengamuk di Samsat Cuma karena Balik Nama

2 Mei 2020
public speaking
Mop

Pidato Tanpa Teks yang Jadi Kebanggaan

25 April 2020
pace dan mace stay home dan homestay pelihara bebek mopapua guyon ala timur humor papua jokes orang timur mojok.co
Mop

Pace dan Mace Ribut Soal Stay Home atau Homestay

18 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.