MOJOK.CO Pace Agustinus menemui seorang pejabat pemerintah pusat dan ditanya-tanya soal adat istiadat penduduk, termasuk apakah penduduk suka makan burung garuda?

Burung Garuda Boleh Dimakan?

Pace Agustinus, kepala salah satu suku di Papua diundang ke Jakarta menemui seorang pejabat pemerintah pusat yang akan ditugaskan ke Papua. Pejabat ini ingin mengetahui secara langsung adat-istiadat dan kebiasaan penduduk setempat yang merisaukan hatinya.

“Bung, katanya di Papua masih ditemui kebiasaan orang Papua makan daging manusia sebagai lauk pauk?” tanya pejabat itu.

Pace Agus agak terkejut dengan tudingan tersebut, namun dengan suara penuh percaya diri ia menjawab, “Betul Bapak, tetapi itu zaman dahulu. Sejak nenek moyang kami menganut agama Kristen, kebiasaan tersebut sudah kami tinggalkan.”

“Kalau begitu daging apa saja yang kamu jadikan pengganti daging manusia?” tanya pejabat lebih lanjut.

“Sekarang ini kami makan daging binatang, baik binatang berkaki empat, burung-burung, juga ikan-ikan.”

“Apakah babi dan anjing juga dimakan?” tanya pejabat itu.

“Ya babi juga kami makan! Tetapi hanya dimakan oleh kami yang beragama Kristen. Khusus anjing, orang Papua baru belajar makan setelah diperkenalkan oleh saudara-saudara kami orang Batak dan Manado.”

“Kalau burung-burung? Jenis-jenis burung apa saja yang dimakan?”

“Semua jenis burung, Pak! Termasuk burung cendrawasih…”

“Masa? Burung cendrawasih yang bulu-bulunya indah itu juga kamu makan?”

“Iya, dagingnya kami makan, bulu-bulunya yang indah dijadikan perhiasan kepala pada pesta adat,” jawab Pace Agus tegas.

Pejabat itu merenung-renung sejenak kemudian bertanya lagi, “Kalau semua jenis burung bisa dimakan berarti burung ‘garuda’ juga pasti kalian makan!”

Pace Agus merasa agak terpojok dengan tudingan tersebut. Sambil melirik ke arah ukiran burung Garuda yang tergantung di dinding, ia mencoba tegas.

“Bapak, jangan jebak saya masuk perangkap separatis. Burung garuda tidak boleh dimakan, baik oleh orang Papua maupun manapun orang Jakarta, termasuk Bapak sendiri. Itu burung milik NKRI!”

“Mengapa tidak boleh dimakan? Itu kan burung juga!” pancing sang pejabat.

“Bapak jangan paksa-paksa kami orang Papua makan burung garuda. Kita Bangsa Indonesia sangat berkepentingan untuk menjaga tetap tegaknya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini terus digenggam oleh burung garuda. Kalau Bapak paksa kami makan burung garuda, lalu binatang apa lagi kita suruh menggenggam ‘Bhinneka Tunggal Ika’? Bapak maukah pegang itu tulisan setiap hari?!”

Kenapa Bendera Indonesia Bisa Terbaik?

Pada perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus, sebuah perahu dari pulau-pulau terdekat mengangkut rakyat menuju kota Nabire untuk mengikuti perayaan. Dari kejauhan tampak sesuatu yang mencurigakan, bendera Merah Putih dipasang terbalik. Polisi segera dilapori dan satu kompi Brimob siap di pantai menunggu orang-orang kampung yang “kurang ajar” ini.

Ketika perahu mendekat ke pantai, terdengar perintah dari komandan, “Seluruh penumpang perahu ditahan karena menghina lambang negara.”

Kepala kampung yang mendampingi warganya langsung turun dari perahu dan datang menghadap, “Bapak Komandan, kalau kami salah, saya saja yang ditahan dan biarkan rakyat saya menghadiri perayaan 17 Agustus. Itu tujuan kami ke sini.”

Komandan Brimob langsung membentak, “Kenapa pada hari penting ini bendera dipasang terbalik!”

Kepala kampung tampak kaget dan menoleh ke belakang. “Adooo… Bapak Komandan, sa minta maaf sekali. Tadi dalam perjalanan, hujan deras sekali e. Bendera yang dibagi ini kain merahnya mudah luntur…”

“Lalu?!”

“Biar bendera kita tidak merah semua, bendera saya minta dipasang terbalik sampai hujan selesai. Sampai sini saya lupa kasi balik posisi.” 

Tidak Pakai Matakah?

Pace Agustinus ikut perlombaan membuat pagar dalam rangka perayaan 17 Agustus. Pagar yang dibuatnya sangat bagus, pakai ukiran khas Papua dan dicat dengan warna merah-putih. Semua warga yakin, laki-laki ini pasti akan merebut juara pertama.

Suatu sore sebuah truk melewati kampung itu dan tanpa disengaja menabrak pagarnya hingga roboh. Laki-laki mengamuk dan menuntut sopirnya bertanggung-jawab.

“Kurang ajar! Ko tidak pakai matakah?” teriak Pace Agus sambil meminta si sopir turun dari mobil.

Tiba-tiba seorang laki-laki bersepatu lars, berjaket loreng, dengan pistol di pinggang turun dari truk.

“Minta maaf Bapak, kami tidak sengaja. Saya akan menyuruh anak buah datang memperbaikinya.”

Pace Agus sekejap turun suara.

“Maaf Bapak Komandan, yang sa maksudkan tidak pakai mata itu pagar ini. Dia su lihat ada truk datang, tapi tidak menyingkir cepat-cepat. Bapak tidak usah kirim anak buah ke sini, nanti sa bikin bagus lagi sendiri.”

BACA JUGA Berkat Jokowi, Penghuni Kompleks Kopassus Tak Buang Sampah Sembarangan atau artikel lainnya di MOP.

Baca juga:  Opa Pe Nama Marlon, tapi Biasa Dipanggil Maria