Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Mop

Yakob Mencuri Jambu Bersama Bapaknya

Hupla Nehemia Sobolim oleh Hupla Nehemia Sobolim
2 Juli 2019
A A
Yakob mencuri jambu MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Yakob anak polos, tapi lumayan cerdik pula. Dia bisa menghindari pertanyaan guru Matematika. Sayangnya ketika mencuri jambu bersama bapaknya, dia…

Pelajaran Matematika

Suatu hari, di salah satu Sekolah Dasar (SD), sebelum pelajaran Matematika dimulai, anak-anak sudah berada di dalam kelas. Suasana hening. Yakob, yang biasanya takut dengan mata pelajaran Matematika, duduk di deretan paling belakang. Tujuannya satu, agar terhindar dari pertanyaan guru.

Iklan

Selang berapa menit, Pak Guru masuk.

Ketua kelas mengetuk meja sebagai tanda salam dan anak-anak berdiri. Yakob, yang duduk paling belakang berdiri pelan, kebetulan lapar.

Pak Guru langsung berteriak. “Yakob! Berdiri!”

“Iyo Pak Guru. Sa ada berdiri ini!”

Selesai salam pembuka, Pak Guru persilahkan duduk kembali.

Sepertinya Pak Guru sudah membaca siasat Yakob yang duduk paling belakang.

“Yakob!”

“Ya, Pak Guru!”

“Sekarang ko jawab, 1 + 7 – 1, berapa?”

Yakob mencoba berpikir lama. Supaya lebih mudah dijawab, Pak Guru kasih pertanyaan sesuai kehidupan di kampung.

“Jadi begini. Misalnya, ko pigi ke hutan ko lihat burung.  Ada 7, jadi ko tembak satu sisah berapa?”

“Nol, Pak Guru!”

Iklan

“Ah, ko ini bagimana, pelajaran Matematika saja tidak bisa.”

“Jadi begini Pak Guru. Kan burung di pohon ada 7, kalo sa tembak 1 yang lain terbang, jadi tidak ada burung yang tersisah di pohon.”

Burung Yakob

Yakob piara kakaktua yang dia kasih nama Burung Yakob. Burung itu sungguh pintar. Terutama bisa meniru suara manusia, juga menyebut nama-nama. Yakob, yang rumahnya di pinggir jalan raya, rajin melatih burung kesayangan itu untuk mencemooh orang-orang yang melintas. Dan hampir setiap hari, Si Burung ikuti suara dari sang tuan.

Jadi, satu hari, Yakob dan si burung berdiri di teras rumah. Pak Pendeta lewat jalan raya dekat rumah mereka. Ia mulai bisik.

“Eh, ko coba batariak, bilang “Pendeta kapala botak.””

Si Burung turuti bisikan tuannya. Pak Pendeta melotot, tampak kesal.

Dari arah berlawanan, Pak Haji lewat. Ia bisik lagi: “Ko batariak lagi, “Pak Haji jenggot panjang!”

Pak Haji lewat, tapi cuek saja.

Beberapa menit kemudian, dari arah belakang, terdengar suara sepatu baris-berbaris. Tentara sedang lari pagi.

Dengar bunyi sepatu seperti itu, Si Burung sudah menduga dan tidak ingin disuruh-suruh lagi. Takut juga dia sama tentara.

“Burung sayang, sekarang ko coba bilang tentara kam suanggi.”

Si Burung kali ini berani jawab: “Jiii, ko juga bilang sudah! Ko panakut sampe!”

Bersama Bapa mencuri jambu

Jadi, suatu hari sore, sambil jalan-jalan keliling kampung, Yakob dan bapaknya lihat beberapa pohon jambu milik Markus sudah berbuah. Kebetulan, bapaknya Yakob adalah Kepala Desa. Pohon jambu itu sudah berbuah dan matang pohon, tapi tidak ada tanda-tanda panen dari pemiliknya.

Malam harinya, Yakob dan Bapaknya menyusun rencana untuk pancuri (mencuri) buah jambu yang dilihat tadi.

Tepat malam, kira-kira Pukul 11 atau 12, mereka bergerak. Si anak mulai panjat pohon tepat depan rumah Markus, dan bapaknya di pohon lain.

Malam yang hening, sepi, tapi ternyata pemiliknya masih belum tidur. Mendengar suara daun pohon yang jatuh tidak seperti biasanya, Markus mulai curiga.

Ia mengira kelelawar hinggap di pohon dan makan buah jambu miliknya. Maka, Markus siapkan busur dan anak panah. Lampu senter yang Markus bawa diarah-arahkan ke beberapa pohon jambu miliknya.

Markus masih tidak lihat apa-apa dan suara daun pun berhenti seketika. Yakob, di atas pohon yang lebih dulu lihat busur dan anak panah, mulai gemetar. Takut ditembak, ia langsung teriak:

“Maaf, maaf, maaf…Om Markus!”

“Wei, ko siapa?”

“Saya, saya Yakob!”

“Ohh, ko yang pace Kepala Desa pu anak kah? Ko ini. Ko Bapa urus semua persoalan di kampong ini, terus menjaga hukum di kampong ini baru ko pancuri lagi, kitong mo percaya siapa lagi. Ko turun, atau sa lepas anak panah ini ke situ. Supaya ko bapa tau!”

“Iiiihhh, tenang saja Om Markus! Bapa ada di pohon sebelah.”

Terakhir diperbarui pada 2 Juli 2019 oleh

Tags: mencuriyakob
Hupla Nehemia Sobolim

Hupla Nehemia Sobolim

Artikel Terkait

Anak-Mandi-Oli-MOJOK.CO
Status

Mandi Oli di Bengkel: Pilihan Hukuman yang Tuai Kontroversi

3 Mei 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.