Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lebaran dan Hal-Hal yang (Seharusnya) Menyatukan Kita

Irfan Afifi oleh Irfan Afifi
25 Juni 2017
A A
esai LEBARAN menyatukan mojok

esai LEBARAN menyatukan mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Lebaran telah tiba. Tak terasa ada banyak hal yang telah kita lalui selama setahun ini.

Permasalahan kita yang paling membekas tentu adalah perselisihan dan pertengkaran kita di medsos. Apalagi jika Anda jomblo; perselisihan, pertengkaran, dan saling bully di kolom komentar itu benar-benar menguras tenaga dan pikiran.

Dalam suasana hati yang penuh tekanan karena ketiadaaan pasangan kencan, kecenderungan hati para Jomblo sebenarnya ingin “merengkuh” dan “menyatukan”. Tapi, apa boleh buat, suasana linimasa menuntut untuk melampiaskan hasrat “pertengkaran” yang membelah kita sebagai bangsa. Dan pada akhirnya membelah hati mereka.

Pertengkaran-pertengkaran itu, nyaris tak lepas dari bingkai dua kubu politik yang terus membuat kita “melas” dan “trenyuh”. Apalagi jika ditinjau dari perspektif jomblo. Ada isu bumi-datar vs bumi bundar, Islam Nusantara, rasisme dan sektarianisme dalam kasus penistaan agama dan ulama, pengerahan “massa actie” dalam politik dukung-mendukung, Aksi Bela Islam, Gaj Ahmada yang muslim, Full Day School, “Saya Pancasila, Saya Indonesia”, dll.

Nah, lebaran ini adalah momen yang tepat untuk merenung. Apakah kita memang benar-benar berbeda? Tidakkah ada—meminjam istilah seorang Jomblo teman saya—sesuatu yang “menyatukan” atau “merengkuh”? Tak bisakah kita yang daif ini mengakui, bahwa pertengkaran-pertengkaran itu tak lebih adalah usaha sebuah bangsa untuk saling bertegur sapa, kencan, dan selanjutnya “penyatuan”?

Kondisi penyatuan itu relatif sudah kita praktikkan di masa “retreat” 30 hari selama berpuasa. Terbukti dengan berkurangnya aktivitas penyebaran hoax dan aksi sweeping warung makan di bulan Ramadan. Dugaan aksi sweeping warung makan selama bulan puasa akan menjadi bahan pertengkaran kita ternyata tidak terjadi, kan? Ini kondisi baik.

Mari kita deret, apa saja yang sebenarnya bisa menyatukan, atau sebenarnya tak benar-benar perlu dibentur-benturkan, antara dua kubu politik yang saling bertengkar. Bingkai pemihakan politik yang selama ini menubuh dengan kita, bisa kita kurangi. Dan sebagai hasil olah jiwa dari puasa, semoga fakta-fakta yang saya suguhkan di bawah ini bisa ditanggapi dengan suasana “sumeleh”, santai, dan syukur-syukur kocak.

Bumi Datar Vs Bumi Bundar

Menurut penelitian ngawur saya, teori bumi datar dan teori bumi bundar sungguh tidak mempunyai nilai relevansi apa-apa bagi Anda yang harus mudik ke kampung halaman. Baik Anda tim datar maupun tim bundar, Anda akan segera merasakan bahwa hanya aspal yang Anda lewati yang bisa disebut datar atau rata. Tentu dengan selingan fakta “gronjalan”, tanjakan, dan turunan.

Fakta ini memang seolah sedikit membela teori bumi datar. Namun, ada fakta yang bisa kita terima dari perspektif kedua belah pihak: aspal itulah yang sebenarnya rata, bukan bumi kita. Jadi kaum bumi datar maupun kami Bumi bundar tak perlu saling bersitegang.

Ingatlah, saat mengendarai motor, entah Anda kaum bundar atau kaum datar, jangan terlalu sering melirik kaca spion untuk memastikan bahwa aspal yang telah Anda lalui masih datar atau cenderung melengkung ke bawah (bundar). Tindakan ini salah-salah bisa menyebakan kecelakaan. Dalam kamus perjombloan, jika Anda terlalu sering menengok masa lalu, Anda akan sulit move on.

Islam Nusantara

Jika bulan-bulan kemarin Anda ngotot mengolok-olok Islam Nusantara sebagai produk liberalisme Islam yang ingin mengubah “assalamualaikum” dengan “sampurasun”, saya sarankan Anda mengurangi tensi ketegangan otot. Karena lebaran kita di Indonesia, dengan tradisi mudik massal, tradisi ziarah ke makam leluhur, tradisi sungkeman, saling mengunjungi dan salam-salaman antar saudara dan tetangga, halalbihalal, apalagi “lebaran ketupat” yang kita praktikkan, ternyata adalah manifestasi “Islam Nusantara” tanpa terkatakan. Disetujui atau tidak disetujui.

Kalau tak percaya, silakan Anda berlebaran di Arab Saudi atau negara lain di Timur Tengah. Tak ada tradisi-tradisi seperti yang saya sebut di atas.

Iklan

Setelah salat Id di Masjidil Haram, orang-orang Mekkah segera pulang ke rumah masing-masing. Acara selesai. Tak ada tradisi salam-salaman melingkar yang melibatkan seluruh jamaah salat. Dalam kamus salafi, apa yang kita selenggarakan terkait tradisi-tradisi di atas “tidak ada dalilnya” alias bid’ah. Dan kitalah para pelaku bid’ah itu. Orang Indonesia. Islamnya orang Indonesia ya Islam Nusantara.

Ini belum termasuk jika kita menengok tradisi puasa yang dipenuhi kekhasan “Islam Nusantara”, yang sekaligus membedakan puasa kita dengan saudara-saudara kita di Arab, yakni tradisi “takjil(an)”, penabuhan bedug, pengumuman suara imsak di TOA langgar dan masjid, ngabuburit, upacara mercon/petasan, juga acara takbir keliling dengan oncor bambu atau parade motor. Saya jamin, acara-acara tersebut tak ada di Arab.

Kita, orang Indonesia, baik yang menggugat konsep Islam Nusantara maupun yang mendukungnya, sebenarnya telah menjalankan “Islam Nusantara” secara murni dan konsekuen.

Tidakkah oncor yang kita gunakan untuk takbir keliling itu sebenarnya adalah “lilin” yang kita nyinyiri sebagai simbol aksi dukungan Ahok? Tidakkah takbir yang dipekikkan kelompok Habib Rizieq dan Aksi Bela Islam-nya juga kita gemakan bersama-sama sejak malam lebaran?

Gaj Ahmada (Muslim)

Jika Anda terheran-heran dengan postingan viral tentang Patih Gadjah Mada yang telah memeluk Islam dan berganti nama menjadi Syeikh Gaj Ahmada, Anda perlu sedikit relaks. Karena saya yakin-seyakinnya, Universitas Gadjah Mada(UGM) tidak akan mengubah namanya menjadi Universitas Gaj Ahmada (UGA). Keyakinan saya ini tidak ingin membela bahwa Gajah Mada itu penganut Siwa-Budha ataupun sebaliknya. Bukan. Sama sekali bukan.

Saya tidak ingin memperkeruh suasana. Entah Gadjah Mada itu pemeluk Islam atau Siwa-Budha, tetap saja, menurut survei pemandangan mata saya, mahasiswi-mahasiswi UGM saat ini sebagian besar telah berjilbab. Bahkan jilbab dan hijabnya lebih besar daripada mahasiswi UIN Sunan Kalijaga di sebelah selatannya. Dan Saya yakin-seyakinnya, sebentar lagi akan diadakan “halalbihalal” di UGM.

Anda bisa menambah daftar yang telah saya sebut.

Bukan apa-apa. Para jomblo lebih mengharapkan suasana yang “menyatukan” daripada yang “membelah”.

Lebaran kita yang khas Indonesia, bisa juga kita pandang sebagai peristiwa “Full-Day School” tanpa perlu ruang peresmian dan perselisihan yang menguras energi. Ia mengajarkan karakter khas kita, sebagai penguatan jati diri bangsa dalam mengelola keragaman—layaknya mengelola perbedaaan penentuan hari raya idul fitri yang sudah kita akrabi.

Lebaran kita yang khas ini tentu adalah lebaran Indonesia. Dan saya harap, sesuai sila ketiga Pancasila, semoga lebaran kita ini menyatukan. Lebaran kita adalah Indonesia. Lebaran kita adalah Pancasila.

Lebar puasanya, luber makanannya, lebur dosa-dosa kita.

Allahu akbar, wa lillahil hamd.

Kapan kawin, Mblo?

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Bumi bulatBumi datarfull day schoolGaj AhmadaIdul FitriIslam NusantaraLebaran
Irfan Afifi

Irfan Afifi

Artikel Terkait

Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga
Urban

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co
Pojokan

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO
Sehari-hari

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran
Urban

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa Mojok.co

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

19 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026
Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, padahal banyak jamet MOJOK.CO

Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina

14 Maret 2026
Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.