Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Soto Lauk Kerupuk Sedunia Bersatulah Melawan Paham Radikal Soto Lauk Tempe!

Iqbal Aji Daryono oleh Iqbal Aji Daryono
23 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Agaknya, dunia akan terbelah lagi. Perseteruan klasik antara bubur ayam diaduk dan bubur ayam nggak diaduk akan dilanjutkan oleh “soto with kerupuk” dan “soto without kerupuk”.

Suatu kali, saya sedang menulis status Facebook tentang betapa mesranya Jogja dan buku. Jogja adalah kota buku. Kamu nggak akan berhasil menjadi warga Jogja yang sungguh-sungguh berhati nyaman tanpa bersayang-sayangan dengan buku.

Maka, dalam tulisan itu, saya membukanya dengan kalimat hasil perenungan spiritual yang amat mendalam.

“Jogja dan buku ibarat soto dan kerupuk: keduanya hanya akan sempurna jika hadir bersama.”

Kalimat pembuka itu saya sambung dengan gambaran lika-liku industri buku di Jogja, berikut duka derita dan cacat celanya.

Puas sekali saya dengan tulisan itu. Sungguh mengena, betapa paripurna.

Hingga kemudian, saat umat manusia mulai ramai melontarkan komen demi komen, muncullah segolongan kaum yang nggak terima dengan takdir kehidupan yang sudah digariskan.

“Heh! Sejak kapan soto dan kerupuk mesra-mesraan? Soto tuh sama tempe, Maaas!”

“Iyoik! Soto kok sama kerupuk lho! Bukannya soto tuh berkuah? Kalo kerupuknya nyemplung ke kuah, ya langsung lembek trus ancur tooo!”

“Lain kali kalo bikin analogi mbok yang mashoook to Mase! Nggak ada lainnya po? Soto kok dipaket sama kerupuk….”

Keruan saja saya terpukul mendengarnya. Bagaimana bisa rangorang itu tertutup nuraninya, merem mata batinnya, sehingga nggak tahu sama sekali bahwa soto dan kerupuk adalah kombinasi paling romantis dan filosofis di segala masa?

Soto dan kerupuk adalah paduan ultimate yang mencerminkan kebhinnekaan. Kombinasi antara basah dan garing, rangkaian antara mblenyek dan kriuk. Basah saja nggak greng, garing saja nggak nyumnyum. Keduanya harus dipadu-padankan, menjadi kelezatan yang menggabungkan dua sifat yang sungguh-sungguh berlainan.

Harap ingat, kombinasi seperti itu ada juga pada wafer yang memadu krim coklat dan biskuit garing, pada nasi pecel berbumbu encer dengan rempeyek kacang, dan lain-lain.

Maka, tak salah lagi, yang menolak mengakui soto dan kerupuk sebagai pasangan harmonis jelas-jelas hanya kaum yang menolak keberagaman! Kaum intoleran! Lawan! Hidup kebhinnekaan! Saya Indonesia Saya Pancasila! NKRI Harga Mati!

Iklan

Sialnya, mau diberi penjelasan selugas apa pun, kaum radikal yang menolak kebahagiaan pasangan soto dan kerupuk itu tetap nggak akan sudi mengakui fakta gamblang ini. Mereka pura-pura tak tahu, bahwa di sudut-sudut warung soto, di dalam kaleng-kaleng berwarna biru atau ijo yang kalau dibuka kadang bagian dalamnya cap batre ABC itu, tersembunyi jodoh sejati yang sangat dinanti-nantikan oleh soto.

Mereka lebih suka mengambil apa yang terpajang telanjang dan tergapai tangan: tempe goreng, sate ati, atau perkedel. Nggak ada usaha sedikit pun untuk mempertemukan kemesraan dua karakter yang dipaksa-pisahkan oleh selembar cangkang plat kaleng.

Sungguh, itu karena orang-orang itu nggak paham hakikat sifat dasar manusia.

Sifat dasar manusia itu saya dengar langsung ketika pada suatu ketika di tahun 2009, di dalam pesawat cap singa terbang, saya duduk bersebelahan dengan Pak Yusuf Agency. Pak Yusuf adalah satu dari dua legenda buku obral di Jogja, yang konon sekarang lebih suka menjajah Pantura dan luar Jawa. Begini Pak Yusuf bersabda di hadapan saya.

“Saya sebenarnya kepingin berhenti jualan buku lho, Mas.”

Saya kaget. Tahun itu, saya malah baru memulai bisnis kecil-kecilan dalam bidang yang sama. Kenapa ini salah satu masternya malah mau pensiun??

Lantas Pak Yusuf bercerita tentang masa depan buku yang belum tentu akan berjalan seterusnya. Pada suatu masa, buku kertas pasti punah. Lain halnya dengan komoditas baru yang saat itu diincarnya.

“Saya malah kepingin jualan kerupuk je, Mas.”

“Wot? Dari buku pindah ke kerupuk? Kenapa kerupuk, Pak??”

“Kerupuk itu dagangan yang nggak akan ada matinya, Mas. Sampai kiamat. Selama orang masih makan soto, selama itu pula orang makan kerupuk.”

Jeng jeng jeeeng!

Sumpah, semacam itulah yang saya dengar dari Pak Yusuf. Itulah sifat dasar dan perilaku manusia yang paling hakiki: Selama orang masih makan soto, selama itu pula orang makan kerupuk! Camkan.

Makanya, saya benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa ada yang menyangkal sifat dasar manusia itu? Jadi mereka itu manusia apa bukan, sih? Terdengar sangat nggak manusiawi.

Atau, jangan-jangan mereka golongan manusia yang membatasi pergaulan hanya di dalam kepompong imajinasi diri mereka sendiri?

Jenis-jenis manusia kurang piknik ini pernah juga mengorbankan kombinasi mesra yang lain lagi. Ini kesaksian guru foto saya, Suhu Alvein. Ceritanya, di sebuah kelas D3 Fisipol UGM, ada tugas memotret makanan. Nah, saat semua hasil jepretan mahasiswa dikumpulkan dan diperiksa satu demi satu, Pak Dosen mengernyit.

“Hmmm… ini fotonya bagus. Tapi kok tidak logis, ya?”

“Tidak logis gimana, Pak?” tanya para mahasiswa.

“Ya kombinasinya nggak umum. Tidak wajar. Masak bubur kacang ijo kok dipadu dengan roti tawar? Apa hubungannya?”

Kontan saja seisi kelas geger. “Wooooo ya itu wajar Poaaaaak!! Masak Bapak nggak tahu kalau burjo itu pasangannya memang roti tawar?? Bapak nggak pernah sarapan di warung Putra Sunda siiiih!! Huuuu!!”

Kira-kira seperti itulah respons massa, meski tentu saja “huuu” mereka masih dalam batas-batas nilai Pancasila.

Pak Dosen njenggelek. Dia kaget sekali. Sepanjang hidupnya, belum pernah satu kali pun dia menjumpai fakta sosial konkret yang bernama kombinasi antara burjo dan roti tawar. Tapi ternyata jamaah di hadapannya bersaksi yang sebaliknya.

Nah, apakah kaum yang menolak pasangan soto dan kerupuk sesungguhnya sama belaka dengan Pak Dosen Fotografi? Apakah mereka jenis makhluk yang cuma sibuk dengan diri mereka sendiri, dan piknik-pikniknya kurang syar’i?

Atau, jangan-jangan mereka malah sama sekali nggak pernah makan soto? Lalu, sebenarnya mereka makan apa, ya? Hmmmm.

Terakhir diperbarui pada 23 Desember 2018 oleh

Tags: bubur diadukintolerankebhinekaanNKRI Harga MatiPancasilaradikalsoto lauk kerupuk
Iqbal Aji Daryono

Iqbal Aji Daryono

Penulis dari Bantul. Lulusan Sastra Jepang, UGM.

Artikel Terkait

Fungsi pancasila.MOJOK.CO
Pendidikan

3 Fungsi Pokok Pancasila untuk Kehidupan Bangsa

28 September 2023
Sudharnoto: Pencipta “Garuda Pancasila” Yang Menjadi Paria Karena "Mengkhianati" Pancasila
Video

Sudharnoto: Pencipta Garuda Pancasila yang Menjadi Paria karena “Mengkhianati” Pancasila

10 Juni 2022
Menjadi Radikal Bisa Diawali dari Kebiasaan Membatasi Teman
Pojokan

Harus Diakui, Potensi Jadi Radikal Ada di Setiap Orang

16 Januari 2022
Soal-soal di Survei Lingkungan Belajar Tunjukkan Setinggi Apa Imajinasi Kemdikbudristek. MOJOK.CO
Esai

Soal-soal di Survei Lingkungan Belajar Tunjukkan Setinggi Apa Imajinasi Kemdikbudristek

4 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

7 Februari 2026
Sinefil.MOJOK.co

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan MOJOK.CO

Fakta Indonesia Hari ini: Sisi Gelap Gen Z Tanpa Cuan yang Berani Utang Sampai Ratusan Juta dan Tips Lepas dari Jerat Pinjol Laknat

3 Februari 2026
Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana MOJOK.CO

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana

9 Februari 2026
Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.