Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kisah-Kisah Mudik Lebaran dalam Cerpen Indonesia

Hairus Salim oleh Hairus Salim
10 Juni 2018
A A
Pujangga China Misterius di Sebuah Pesantren

Pujangga China Misterius di Sebuah Pesantren

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Selamat datang di ajang tahunan migrasi terbesar Indonesia: mudik Lebaran.

R. Sastrodisatro yang sudah sepuh tiba-tiba bangkit semangatnya setelah membaca surat bahwa anaknya Sariningrum akan pulang. Telah sepuluh tahun sejak pertengkaran itu anaknya minggat dari rumah. Sejak itu anaknya tidak pernah berkabar sama sekali. Kini ketika anaknya tiba-tiba mengatakan akan pulang, betapa bahagianya ia sehingga “Selama hidup baru kali ini aku melihat ayahku menangis,” demikian kata “aku”, adik Sariningrum yang menjadi narator cerita.

Momentum apakah yang membuat Sari mau pulang? Lebaran. Ya, Lebaran. Sari akan mudik. Akan tetapi, Sari tidak sendiri. Ia datang bersama suaminya Solihin dan anak-anak mereka. Kisah tersebut ada dalam cerpen lawas Mohamad Diponegoro (1928-1982) berjudul “Pulangnya Sebuah Keluarga Besar”.

Mudik adalah kebahagiaan. Seperti cerita di atas, R. Sastrodisastro menjadi bahagia dan terharu karena ia akan bertemu anaknya. Ia sangat menyesal karena dulu, tidak lama setelah istrinya meninggal, dengan tergesa mengutarakan akan menikah lagi. Sari tidak terima dan marah. Ia lalu minggat.

Lewat tradisi mudik, Lebaran di cerpen itu menjadi sarana integrasi. Yang benci disayangkan lagi. Yang keras dilunakkan lagi. Yang patah tersambung lagi. Yang jauh didekatkan lagi. Yang sulit dimudahkan lagi. Semua pihak menjadi bahagia karena itu.

Mudik juga bisa menjadi momen spiritual. Dalam cerpen “Lailatul Qadar”, Danarto (1941-2018) bercerita tentang keluarga Satoto yang mudik bermobil ke kampungnya di Yogya. Ia telah memilih jalur selatan yang menurut orang-orang tidak macet, tetapi ternyata macet juga.

Tiba-tiba Satoto melihat jalan kosong panjang melempang. Ia segera minta sopirnya berbelok ke jalan tersebut. Jalan itu benar-benar sepi dan terang. Mereka bisa lewat dengan tenang dan nyaman. Mereka heran kenapa baru sekarang melihat jalan itu. Mengapa juga tidak ada orang yang lewat jalan itu. Mereka pun sampai ke rumah dengan lancar dan selamat.

Seperti biasa, dengan gaya surealisnya Danarto memasukkan unsur keajaiban dalam cerpen tadi. Namun, merujuk judul cerpennya, keajaiban itu bisa diyakini bukan khayalan. Satoto sekeluarga secara harfiah benar-benar memperoleh anugerah lailatul qadar dengan diberikan Allah jalan yang lempang sehingga sampai rumah tanpa hambatan.

Kita juga bisa memaknai cerpen ini secara simbolik. Mudik itu sendiri merupakan lailatul qadar. Mereka berbahagia dan memperoleh karunia yang besar karena bisa mudik. Dengan demikian, setiap mereka yang bisa mudik sama seperti memperoleh anugerah lailatul qadar. Bersyukurlah kepada Tuhan yang menganugerahi lailatul qadar kepada rakyat Indonesia lewat tradisi mudik ini.

Di lain waktu mudik bisa pula memuat kesedihan. Ia bukan melulu soal kemenangan, di dalamnya juga ada kekalahan. Dalam cerpen “Menjelang Lebaran”, Umar Kayam (1932-2002) bercerita tentang Kamil, istrinya Sri, dan dua anaknya Mas dan Ade yang sudah berencana untuk mudik. Namun, mudik itu terpaksa dibatalkan karena tiba-tiba Kamil di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja. PHK itu, membuat mereka juga terpaksa mem-PHK dan memulangkan Inah, pekerja rumah tangga yang telah bertahun-tahun mengabdi di rumah mereka.

Inah menangis sedih. Namun, kemudian mereka punya jalan keluar. Inah bisa tetap bekerja dan akan mendapat makan minum sebagaimana anggota keluarga. Hanya ia sementara tidak menerima gaji sampai nanti Kamil mendapatkan pekerjaan baru lagi. Inah setuju. Mereka senang dengan jalan keluar ini.

Masalahnya kini, bagaimana menyampaikan kepada anak-anak bahwa mereka tidak jadi mudik? Cerpen ditutup dengan peristiwa mengharukan. Dari sebelah kamar terdengar Mas dan Ade berebut tas yang akan mereka bawa dan tentang siapa yang nanti berhak duduk di samping jendela dalam kereta.

Rasa kekalahan ini pula yang kita rasakan ketika menyimak cerpen “Mudik” karya Mustofa W. Hasyim (1954). Joko, istrinya Tinah, serta anak-anaknya yang tinggal di perkampungan kumuh dekat jembatan dan rel kereta api tidak bisa mudik karena ketiadaan uang. Padahal dua anak mereka sangat ingin mudik, ingin melihat sawah, kerbau, sungai, dan kangen kepada kakek nenek.

Seminggu sebelum lebaran, ketika karnaval mudik mulai berjalan, bunyi kereta api dan suara bis jadi terasa begitu menyesakkan hati mereka. Suara itu seperti ejekan. Rindu kampung halaman makin menusuk jiwa dan pikiran.

Iklan

Cerpen ditutup dengan suasana yang lagi-lagi melankolis. Dua anak mereka, Dodo dan Syahrul, asyik menggambar kakek, nenek, bude, dan bulik mereka, juga sawah, sungai, kerbau. Mudik hanya bisa mereka tumpahkan ke dalam buku gambar.

Di antara sekian cerpen mudik tadi, bagi saya tak ada yang lebih mengharukan dibanding cerpen “Gambar Bertuliskan Kereta Lebaran” karya Gus tf Sakai (1965). Cerpen ini berkisah tentang seorang masinis yang selalu dikejar rasa bersalah. Sebuah kenangan pahit membuatnya selalu tertegun dan meneteskan airmata ketika mengingatnya. Celakanya, ia tak pernah bisa melupakannya, terutama karena kenangan pahit itu seperti selalu harus dilewatinya ketika Lebaran tiba.

Sekian tahun lalu, ketika ia masih seorang asisten masinis, suatu hari dari kejauhan ia melihat seorang anak gadis berpakaian seragam putih merah, menggunakan ransel, mengepit sebuah buku gambar, turun dari badan jalan untuk naik ke bantalan rel. Anak itu begitu tenang dan tanpa waswas, seolah tak ada suatu apa pun di depan. Stoker telah membunyikan peluit, tapi bocah itu tidak bereaksi. Secepat kilat ia menekan rem, tapi sudah terlambat. Anak itu tewas dihajar kereta. Bagian tubuhnya ada terbawa kereta, ada yang berserakan di sungai bersamaan dengan buku-buku dari dalam tas. Ia hanya mendengar teriakan anak itu, “Emakkkkkk!”

Setelah lokomotif masuk depo ia baru menyadari buku gambar anak itu ikut terbawa, entah bagaimana caranya tertelungkup di lantai loko. Ia membukanya. Baru satu halaman, sebuah gambar rangkaian kereta dengan tulisan “Kereta Lebaran” di bawahnya telah membuat ia menggigil. Saat itu memang seminggu sebelum Lebaran tiba.

Beberapa hari kemudian ia berkunjung ke rumah anak itu, sebuah rumah di kawasan kumuh. Dari sana terkuak cerita bahwa si anak memang mengimpikan untuk mudik ke kampung neneknya. Ia merengek-merengek minta mudik, tetapi si ibu selalu bilang, mereka hanya bisa mudik kalau ada uang. Uang untuk mudik itu tak (pernah) ada.

Cerpen mudik ini menarik karena ia berbicara bukan tentang mudik itu sendiri, tapi kenangan pahit yang selalu menempel padanya. Setiap kali si masinis melewati tempat kejadin, peristiwa itu selalu hinggap di kepalanya. Ia selalu ingat lengkingan “Emak” anak itu. Ia selalu ingat wajah ibu anak itu. Pernah ia minta dipindah ke trayek lain agar ia bisa melupakan peristiwa itu, tapi ternyata kenangan itu tetap tidak bisa terhapus di kepalanya. Dan kenangan itu makin menghujam ketika musim mudik tiba.

Usai membaca cerpen ini, saya jadi teringat kecelakaan lalu lintas yang sering merenggut korban jiwa setiap musim mudik tiba. Tidakkah mudik juga akan menjadi kenangan pahit bagi mereka? Orang-orang yang kehilangan teman, istri, suami, ibu, bapak, adik, kakak, dan anggota keluarga lain dalam perjalanan mudik?

Mudik adalah peristiwa kebudayaan. Seperti kesaksian cerpen-cerpen yang saya kutipkan tadi dan banyak cerpen lain dengan tema sejenis, mudik memiliki banyak simbolisasi makna. Ia bukan hanya soal serombongan orang yang seperti karavan bepergian ke suatu tempat pada saat yang bersamaan. Ia bisa bermakna kebahagiaan, kesedihan, kemenangan, kekalahan,kesuksesan, dan kegagalan. Neraca kehidupan ditimbang dari apakah kamu bisa mudik atau tidak? Kalau bisa, pakai angkutan apa? Bawa hadiah Lebaran apa dan seberapa?

Pada akhirnya, mudik bukan lagi soal merayakan hari besar agama, tapi pernyataan diri manusia bahwa ia adalah bagian dari sebuah keluarga.

Baca edisi sebelumnya: Memburu Sang Alkemis dan tulisan di kolom Iqra lainnya.

Terakhir diperbarui pada 10 Juni 2019 oleh

Tags: #iqracerpen indonesiagus tf sakaimudik lebaranUmar Kayam
Hairus Salim

Hairus Salim

Research Consultant, Writer, Trainer at Yayasan LKiS

Artikel Terkait

Stasiun Tugu Jogja nggak cocok untuk orang kaya tak bermoral. MOJOK.CO
Catatan

Pintu Timur Stasiun Tugu Jogja Nggak Cocok untuk User Eksekutif Nirempati dan Ojol yang Kesabarannya Setipis Tisu

26 Maret 2026
meminjam uang, lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit

21 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga
Urban

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO
Edumojok

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.