MOJOK.COMencintai orang yang sudah menolak dan menyakiti kita itu sejenis perilaku halu kah? Atau kita cuma perlu sabar menunggu? Apa sesungguhnya definisi cinta yang layak diperjuangkan?

Sepertinya jatuh cinta bisa membuat orang jadi lebih optimistis, percaya diri, dan selalu berprasangka baik. Ketika hati memutuskan untuk mencintai seseorang, kita (hah? Kita???), atau pada kasus ini saya, bisa sangat yakin dapat bersamanya. Keyakinan itu timbul dari akumulasi sifat positif yang tadi disebutkan.

Namun, sekeranjang sifat positif yang berlebihan itu bisa hancur seketika apabila kenyataan tak sesuai ekspektasi. Prasangka baik tentang orang yang dicintai adalah bom waktu. Sebab, apa yang kita cintai sebenarnya adalah imajinasi tentang sang pujaan hati. Husnuzan tak melulu baik untuk hati kecil kalau masih ditumpangi oleh rasa berharap yang maksa banget.

Saat dia tak membalas cinta kita, yang kita dapat hanyalah kekecewaan. Merasa tak berharga karena ditolak oleh orang yang telah kita beri cinta. Besarnya rasa kecewa berbanding lurus dengan tingginya harapan. Semua ini diakibatkan dari selalu berprasangka baik tentang orang yang dicintai. Sementara manusia tetaplah manusia yang punya kehendak bebas. Tak melulu sesuai dengan kemauan kita.

Hanya karena kita mencintai seseorang, bukan berarti dia harus selalu menyenangkan kita. Atas nama cinta, kita selalu berusaha bersikap baik padanya. Namun, tak lantas dia punya utang pada kita dan harus membayarnya dengan kebaikan setimpal. Sebab cinta bukan barang transaksional.

Baca juga:  Dia Menggemaskan, tapi Bikin Insecure

Dari sinilah kita mesti belajar ilmu ikhlas. Bagaimana cinta itu perihal memberi. Seberapa jauh kita bisa menunaikan amanah dari hati yang paling dalam itu. Urusan perasaan bakal berbalas atau tidak, itu soal lain.

Kita bisa bertahan mencintai seseorang yang jelas-jelas telah menolak kita karena memang begitulah kekuatan cinta. Bikin penderitanya keras kepala. Bisa juga bikin kepedean dan optimis, “Suatu hari nanti dia akan membalas cintaku!” Ditambah kemantapan sikap positive thinking, “Aku hanya harus bertahan sebentar lagi. Dia cuma butuh waktu untuk melihat dan menyadari kesungguhanku.”

Walaupun sudah tersakiti, masih bisa bertahan. Oh, mungkin cinta juga memberikan kekebalan pada hati setiap insan yang memeliharanya. Patah hati, bisa regenerasi secara cepat, lalu mengulangi kesalahan serupa dengan mencintai satu orang yang sama.

Saya pernah dalam kondisi sudah ditolak oleh seorang cewek, tapi masih nggak ngerti-ngerti. Saya terus pepet karena mengejar cinta memang terasa effortless.

Sampai suatu hari, dia berpacaran dengan teman kantornya. Lantas pacarnya itu menyuruhnya blokir saya dari semua akun media sosial. Saya dianggap ancaman karena tampak terang-terangan menunjukkan cinta. Salah satunya karena saya rutin memberikan likes di Instagram yang kebetulan memang lambangnya love.

Saya menyadari bahwa saya harus berhenti. Noe Letto pernah berkata bahwa cinta itu ibarat cahaya, jadi berikanlah kepada yang membutuhkan cahaya. Saya berpikir, cahaya saya tidak dibutuhkan olehnya yang sudah bermandikan cahaya dari lampu sorot yang diarahkan sang kekasih. Kemudian, saya mematikan pemantik cahaya dan hidup dalam kegelapan hati.

Baca juga:  Pelajaran Cinta dari Pilkada Rasa Valentine

Hingga dia putus dengan pacarnya dan membuka blokiran untuk saya. Sumber cahaya itu kembali menyala. Saya mendengarkan cerita putus cintanya dengan sepenuh hati. Tentulah saya tak terima perempuan yang saya kejar ini harus mengalami nasib yang kurang baik: disia-siakan oleh mantan kekasihnya.

Namun, cahaya yang saya berikan masih terlalu menyilaukan untuknya yang menyukai temaram. Untuk menyembuhkan patah hatinya, dia memilih cahaya yang pas untuknya. Dia pergi bersama cowok barunya dengan penerangan obor menuju hutan terlarang.

Saya garuk-garuk kepala dan memicingkan mata ke arah matahari. Bagaimana caranya belajar mencintai pakai prinsip Sang Surya menyinari dunia: hanya memberi tak harap kembali.

Pertanyaan di judul tentang mengapa kita masih mencintai orang yang jelas-jelas sudah menolak dan menyakiti kita memang bukan untuk dijawab, melainkan untuk diresapi dan ditangisi.

BACA JUGA Curhat: Bapak Dia Manager Pom Bensin atau komentar lainnya di rubrik POJOKAN.



Tirto.ID
Loading...

No more articles