Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Arboretum UGM, Bau Tahi, dan Surga Para Burung Air

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
8 April 2021
A A
Pecahan telur di area Arboretum UGM

Pecahan telur di area Arboretum UGM

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tempat penuh vegetasi itu dikenal dengan sebutan Arboretum Fakultas Kehutanan (FKT) UGM atau Hutan Mini Pardiyan. Gampang untuk menandainya, cobalah berhenti di pos polisi lalu lintas Polsek Bulaksumur saat lampu merah, terutama jika lewat Jalan Agro atau Jalan Persatuan. Setiap angin berembus, aroma tak sedap akan menyelinap ke dalam hidung para pengendara yang melintas.

Aroma bak limbah peternakan unggas ini muncul dari area pepohonan tinggi nan rimbun tepat di selatan Selokan Mataram. Berasal dari tumpukan kotoran burung-burung yang bersarang di tingginya pepohonan.

Arboretum merupakan tempat yang begitu familiar di kalangan mahasiswa FKT UGM. Berbagai praktikum dan penelitian dilakukan di area yang luasnya tak lebih dari satu hektar ini. Arboretum FKT UGM diresmikan pada 5 Juni 1989, bertepatan dengan hari lingkungan hidup.

Muhammad Naufal Hilmy (21), mahasiswa FKT UGM ini menggunakan kata “hutan salju” untuk menyebut arboretum. Jika ditanya mengapa, “Lihat aja dalemnya, penuh tahi burung berwarna putih,” ungkapnya sambil tertawa.

Bagi Naufal yang sudah berulang kali masuk arboretum, kejatuhan tahi burung adalah hal yang dihindari tapi harus dimaklumi. “Susah menghindar, saking banyaknya burung di pepohonan,” katanya. Pernah sekali, ia kejatuhan tahi tepat di tengah kepalanya yang tanpa pelindung. “Ambunee ora karuan,” jelasnya beberapa kali pada Senin (5/4/21).

Meski di tengah perkotaan, penghuni arboretum ini didominasi burung air atau burung yang secara ekologis bergantung pada lahan basah. Melimpahnya populasi burung air membuat arboretum ini dipilih sebagai salah satu lokasi Asian Waterbird Census (AWC) Indonesia pada Januari – Februari 2021.

Mungkin karena memakan ikan, burung air  menghasilkan kotoran yang baunya tak karuan. Seperti yang dideskripsikan naufal dengan nada kesal tadi.

Belantara Kecil di Tengah Kota

Demi mendapatkan gambaran lebih detail, saya masuk ke dalam area arboretum yang pintu masuknya di ujung barat FKT pada Senin (5/4/21). Meski dikelilingi jalan raya padat kebisingan pengendara, rapatnya vegetasi di kawasan ini membuat saya merasa seperti sedang di hutan sungguhan. Pemandangan yang jarang ditemukan di antara maraknya bangunan berbeton di sekitar Yogyakarta.

Semak belukar dan dedaunan kering memadati sela-sela pepohonan yang menjulang tinggi. Membuat cahaya remang meski di luar masih terang.

Tatkala masuk, bau tahi yang terendus di luar ternyata belum seberapa.  Selain tahi burung, di area arboretum berserak banyak pecahan telur yang nampak jatuh dari sarang. Belasan bangkai burung yang masih berbentuk utuh maupun tinggal tersisa bulu dan tulang. Potongan daging ikan bekas pakan burung berceceran dan dikerumuni lalat-lalat besar. Hal-hal yang menyebabkan bau amis dan menyengat.

Bangkai burung di Arboretum UGM. Foto oleh Hammam I/Mojok.co
Bangkai burung di Arboretum UGM. Foto oleh Hammam I/Mojok.co

Suara lalu lalang kendaraan dari jalan raya sekitar nyaris tak terdengar, sebab tertutup bunyi kaok-wak-kaok dari burung yang bising bersahutan. Burung-burung ini berterbangan antara satu pohon ke pohon yang lain. Bunyi langkah kaki menginjak semak, kreesrek, membuat burung yang sedang bertengger di dahan pendek mengepakkan sayap dan pindah ke bagian yang lebih tinggi.

Burung-burung yang menyebabkan riuh suasana di dalam arboretum merupakan cangak abu (Ardea cinerera) dan kowak malam abu (Nycticorax caledonicus). Cangak abu memiliki ciri  warna yang didominasi hitam keabuan dan putih, berleher panjang, dan berkaki tinggi serta paruh yang lurus ke depan. Ukurannya lebih tinggi dan besar ketimbang kowak malam abu yang gempal.

Dua jenis tersebut memang menduduki peringkat teratas populasi burung di Arboretum UGM. Data hasil sensus AWC menunjukkan ada 177 kowak malam abu dan 148 cangak abu yang tinggal di arboretum. Burung air lain yang ditemukan di sini adalah kuntul kerbau (Bubulcus ibis) yang jumlahnya 7 ekor.

Selain burung air, ada pula jenis lain yang terdeteksi di arboretum saat sensus AWC awal 2021 lalu. Misalnya cinenen pisang, merbah cerukcuk, walet linchi, dan masih banyak lainnya. Namun jumlahnya tak sedominan cangak abu dan kowak malam abu.

Iklan

Pada laporan yang pernah dibuat Harian Kompas, burung cangak abu terdeteksi pertama kali di hutan  wilayah kampus UGM pada 2005. Lambat laun semakin banyak burung air yang singgah di tempat ini, termasuk kowak malam.

Ketua Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ), Naufal Seta Kurnianta menjelaskan cangak abu nyaman di arboretum karena pepohonannya yang tinggi. Beberapa jenis burung air cenderung memilih bersarang di pohon dengan tinggi di atas 20 meter. “Di Kota Yogyakarta ini ruang terbuka hijau terbilang kurang, jadi keberadaan arboretum dengan pepohonan tingginya begitu disukai para burung,” jelas pria yang juga menjadi pengamat utama dalam sensus AWC 2021.

Beruntungnya, burung-burung air ini memiliki daya jelajah yang cukup luas kala mencari makan. Sehingga sarang yang berada di tengah kota tak menjadi halangan. “Kami mengamati cangak abu dan kowak malam abu ini kerap mencari makan di muara Sungai Progo dan beberapa rawa di pinggiran Jogja,” tambahnya.

Keberadaan burung-burung liar ini memang menjadi pemandangan menarik di tengah padatnya aktivitas manusia. Namun menghadirkan beberapa efek seperti bau tak sedap dan kotoran bagi lingkungan sekitarnya. Ditambah lagi kawasan sekitar arboretum ramai pedagang kaki lima yang menjajakan makanan di malam hari.

Menurut Seta, penebangan beberapa pohon tua di kawasan arboretum dapat dijadikan solusi persoalan tersebut. Selain untuk mengontrol populasi burung air, juga mencegah kemungkinan pohon tumbang saat terjadi hujan dan angin kencang. “Yang penting burungnya tetap ada, namun dapat dikontrol jumlahnya agar tidak overpopulasi,” jelas pria berambut gondrong ini.

Dua jenis burung penghuni arboretum ini  belum tergolong kategori langka. Dalam data  International Union for Conservation of Nature (IUCN), kowak malam kelabu dan cangak abu berstatus least concern atau stabil.

Burung-Burung Sakit yang Terlantar

Cangak abu muda di Arboretum UGM yang terluka. Foto oleh Hammam I/Mojok.co)
Cangak abu muda di Arboretum UGM yang terluka. Foto oleh Hammam I/Mojok.co)

Saat menjelajalhi arboretum, nampak setidaknya tiga ekor burung sedang yang berjalan di antara semak. Ketika didekati, burung ini tak terbang, melainkan berlarian ke semak yang lebih rimbun. Satu di antaranya nampak kepayahan, tak bisa melangkah cepat, dan memilih bersembunyi di bawah potongan pohon yang tumbang.

Menurut penurutan Seta, burung-burung yang tak lagi bisa terbang ini umumnya jatuh dari sarang. Kasus burung terjatuh dari sarang kebanyakan terjadi pada burung muda atau juvenile yang belum bisa terbang. Ada pula yang salang mendarat atau tergelincir sehingga cedera kemudian jatuh ke permukaan tanah. “Cangak abu kan badannya besar ya, jadi itu kemungkinan bisa tergelincir,” tutup Seta.

Sekitar 30 menit saya menjelajahi sudut-sudut Arboretum UGM seorang diri. Saat keluar, badan ini penuh bintik gigitan nyamuk. Saya kemudian duduk di parkiran FKT, bertanya pada penjaga parkir apakah sering mencium bau tahi burung-burung di dalam. “Sering, apalagi kalau musim hujan,” jawabnya dengan santai.

BACA JUGA  Burung Hantu dan Perang Antargeng di Cancangan dan liputan menarik lainnya di Mojok.

 

 

Terakhir diperbarui pada 9 April 2021 oleh

Tags: arboretum ugmburungburung cangakhutan ugmkehutanan ugmmahasiswa ugmUGM
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga
Urban

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO
Edumojok

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah
Edumojok

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.