Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Ulasan Smokol

Panduan Memilih Oleh-Oleh Kuliner: Dompet Tenang, Kerabat Senang

Fakhri Zakaria oleh Fakhri Zakaria
3 Juli 2017
A A
oleh-oleh mojok

oleh-oleh mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Jangan lupa oleh-olehnya!”

Di Indonesia, pulang kampung atau jalan-jalan ke luar kota tak pernah sederhana. Ada syarat tak tertulis berupa oleh-oleh yang mesti dibawa. Atau kadang ditekankan secara lisan maupun tulisan ketika teman-teman tahu kita sedang bepergian.

Entah sebagai simbol perekat kebersamaan atau jauh ke level advance sebagai peneguh status kesuksesan, mata anggaran oleh-oleh ini mesti disisipkan sebagai salah satu operational cost selain tiket dan uang bensin, akomodasi, dan jajan di sana-sini. Peliknya, anggaran oleh-oleh ini mesti dikalikan dengan dua variabel.

Pertama, variabel jumlah kerabat di kampung. Ini lebih mudah untuk dihitung karena cenderung jumahnya tetap. Sedangkan variabel kedua sifatnya lebih kompleks, yakni pihak-pihak di rantau. Mulai dari tetangga, rekan kerja, atasan, teman main futsal, sesama geng parenting, sampai teman satu gerbong di kereta komuter atau omprengan.

Variabel kedua ini jumlahnya cenderung bertambah. Repotnya, dengan kemajuan teknologi berpadu dengan hasrat eksis yang kelewat tinggi, dan rasa kekeluargaan (kalau ada maunya), permintaan oleh-oleh ini jadi satu paket dengan acara pamit untuk mudik.

Serba salah memang. Tak dipamiti rumah tak ada yang mengawasi, kerjaan tak ada yang bantu, gosip terbaru terlambat sampai di genggaman, atau tak ada yang mau berganti kursi tiap kereta komuter penuh sesak. Giliran dipamiti, bukannya mendoakan supaya selamat di perjalanan, malah sudah ditodong oleh-oleh duluan.

Panduan singkat ini setidaknya bisa membantu saat kesulitan mencari oleh-oleh kuliner dalam waktu dan dana yang mepet. Bisa dipraktikkan ketika mudik Lebaran Haji besok atau saat bepergian ke mana pun.

Fungsional

Kadang pilhan oleh-oleh hanya terbatas pada sektor makanan ringan. Padahal ada alternatif lain berupa bumbu dapur. Pilihan oleh-oleh ini direkomendasikan untuk mereka yang sedang dalam usaha merebut hati calon mertua. Niscaya akan selalu diingat setiap calon ibu mertua sedang memasak.

Di sepanjang jalur Pantura, yang pamornya mulai redup setelah kehadiran megaproyek tol Trans-Jawa, aneka pengisi rak bumbu dapur tersedia. Mulai terasi udang Cirebon, bawang merah Brebes, sampai petis dan olahan ikan asin dari Sidoarjo. Bila perlu lengkapi dengan sekarung beras menthik wangi dari Delanggu, Klaten. Bukan tidak mungkin proses menuju lamaran akan dimudahkan.

Pilihan lain adalah membawa kecap manis kebanggaan putra daerah. Bondan Winarno mengatakan kecap manis adalah bentuk keaslian tradisi kuliner Indonesia yang mesti dikenalkan ke penjuru dunia. Setiap region punya kecap yang jadi trade mark masing-masing.

Seperti kecap cap Zebra yang jadi bagian tak terpisahkan dari sajian toge goreng dan doclang khas Bogor atau Kidang Jantra dan Piring Lombok yang jadi pilihan bakul-bakul bakmi seputaran Yogya dan Magelang. Atau kecap Mirama yang jadi bumbu wajib babat gongso khas Semarang. Jika rute pulang melewati daerah tapal kuda Jawa Timur, kecap cap Orang Jual Sate layak jadi pilihan oleh-oleh. Begitu juga kecap cap Laron yang tersohor di daerah seputaran Tuban dan Lamongan.

Fokus pada Produk Lokal

Hitung-hitung menggerakkan perekonomian sekaligus memperpanjang nafas kuliner lokal. Selain itu memilih produk lokal akan memberikan unique selling point saat berbagai ragam oleh-oleh terpajang di meja kantor atau halalbihalal warga. Lapis Surabaya dan lapis talas Bogor punya kekhasan tersendiri. Atau saudara serumpun bakpia Pathuk Yogyakarta dan nopia Banyumas yang ternyata berbeda perangai. Sebuah contoh keragaman yang baik ketimbang invasi template kue bolu bongkar pasang topping, yang terpaksa mendompleng nama pesohor Jakarta karena tak cukup percaya diri head to head dengan jagoan lokal.

Iklan

Tahan dalam Perjalanan Panjang

Ini mesti diperhatikan jika mudik dan bepergian dengan menggunakan kendaraan pribadi. Dengan situasi jalan yang tak bisa ditebak, pilihan oleh-oleh perlu memandang faktor keawetan dan ketahanan performa. Ragam makanan kering seperti keripik dan kerupuk bisa dipilih, namun pastikan tidak ada anggota tim yang iseng menjadikannya camilan saat terjebak macet. Bisa juga membawa olahan makanan manis seperti jenang/dodol yang tahan lama lewat proses pengawetan alamiah zat gula.

Tidak Menyinggung Perasaan

Niat hati ingin menunjukkan rasa kekeluargaan, apa daya malah kena damprat karena dianggap melecehkan. Penting untuk melihat latar belakang pihak yang akan diberi oleh-oleh.

Tentu riskan untuk memberi satu besek moci Kaswari khas Sukabumi yang labelnya berwarna merah menyala bertulis aksara Tiongkok kepada rekan yang jadi buzzer seumur hidup kampanye anti-aseng dan komunis. Juga bukan pilihan bijak memberi dendeng sapi Seulawah khas Aceh kepada kawan nge-gigs yang menghayati lahir batin lagu “Meat Is Murder” milik The Smiths. Membawakan sekantung emping melinjo dari Pandeglang untuk atasan yang sering mengeluh asam uratnya kambuh juga tidak direkomendasikan bila ingin segera naik jabatan.

Lantas bagaimana jika waktu dan duit sudah semakin mepet, sementara oleh-oleh mesti segera diberikan untuk kemaslahatan hidup bermasyarakat? Pergi saja ke toko brownies Amanda dekat rumah dan bungkus beberapa buah. Katakan saja, brownies Amanda khas (masukkan nama daerah asal) terigu dan gulanya beda, wajib dicoba!

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: bakpiakecapMakananMudiknopiaoleh-oleh
Fakhri Zakaria

Fakhri Zakaria

Artikel Terkait

Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran
Kuliner

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO
Catatan

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
Ogah mudik apalagi kumpul keluarga saat Lebaran. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa

9 Maret 2026
Karjimut di Jogja yang merantau pilih tidak mudik Lebaran. MOJOK.CO
Urban

“Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja

9 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak rantau di Jogja pilih jadi marbot. MOJOK.CO

Derita Anak Rantau di Jogja: Sulit Cari Kos Murah, Nyaris Terjebak Dunia Gelap, hingga Temukan “Berkah” di Masjid

6 Maret 2026
Innova Zenix Wujud Kebodohan Finansial- Terbaik Tetap Reborn MOJOK.CO

Mendewakan Innova Zenix Adalah Kesesatan Finansial, Wujud Kebodohan Struktural yang Sangat Hakiki karena Tetap Kalah Aura Dibanding Innova Reborn

10 Maret 2026
SPBU Diserbu Jadi Bukti Buruknya Komunikasi Pemerintah MOJOK.CO

SPBU Diserbu: Isu Stok BBM 20 Hari Bikin Panik Menjadi Wujud Buruknya Komunikasi Pemerintah dan Publik Sulit untuk Percaya

9 Maret 2026
Ogah mudik apalagi kumpul keluarga saat Lebaran. MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa

9 Maret 2026
Hilangnya kumpul keluarga saat Lebaran setelah nenek tiada

Lebaran Jadi Momen Menyedihkan usai Nenek Tiada, Keluarga Sudah Nggak Mau Kumpul apalagi “Sungkeman”

5 Maret 2026
Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.