Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Tuan Fadli Zon, Jadi Teroris Itu Tidak Gampang

Made Supriatma oleh Made Supriatma
15 Mei 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di tengah duka atas serangan teroris, Fadli Zon mengeluarkan teori tentang mengapa seseorang jadi teroris. Mari kita cek klaimnya satu-satu.

Kita semua sedang mengunyah apa yang terjadi di Surabaya. Ketika mengetik ini kemarin, saya kembali mendengar serangan. Kali ini sasarannya Polrestabes Surabaya. Rupanya, medan perang Suriah sudah dipindahkan ke Indonesia.

Banyak orang masih tergagap dengan apa yang terjadi. Bagaimana memahami satu keluarga melakukan bunuh diri sambil membunuh orang lain, yang tidak dia kenal, dan tidak pernah memusuhinya?

Orang juga mulai menawarkan teori ini dan itu tentang terorisme ini. Namun, ada satu spesies yang selalu menarik perhatian saya. Mereka adalah para politisi. Saya selalu tertarik dengan bagaimana cara politisi menanggapi tragedi. Biasanya tanggapan mereka selalu mengacu pada kepentingan mereka.

Kebetulan politisi favorit saya Tuan Fadli Zon (catatan: favorit lain saya adalah Tuan Fahri Hamzah). Saya tertarik dengan Tuan Fadli Zon karena beberapa hal. Untuk saya, Tuan Fadli Zon adalah politisi paling konsisten. Sejak Orde Baru masih berjaya dia sudah bersama Mr. Prabs, yang sekarang jadi bos partainya.

Nah, segera setelah terjadi ledakan bom, Tuan Fadli Zon menulis di akun Twitter-nya. Dia mengutuki serangan teroris itu. Sampai di sini, okelah. Sudah sewajarnya dia mengutuk. Kemudian datang tweet kedua. “Terorisme biasanya bkembang di negara yg lemah pemimpinnya, mudah diintervensi, byk kemiskinan n ketimpangan dan ketidakadilan yg nyata,” begitu tulis Tuan Fadli.

Tidak perlu jauh-jauh untuk tahu ke mana arah smash yang Tuan Fadli lancarkan. Saya membayangkan dia menuliskannya dengan senyum di bibirnya yang tebal dan matanya yang bulat berbinar. Kita tahulah siapa yang ia tunjuk sebagai pemimpin lemah. Politisi memang pintar membikin zinger (smash politik yang bisa berupa lelucon atau metafora).

Tapi, benarkah semua poin yang disampaikan Tuan Fadli Zon itu?

Pertama, soal pemimpin. Kita tahu situasi di Afghanistan jelek sekali. Juga di Pakistan, Irak, Suriah, Libya. Terorisme subur di negara-negara ini. Negara-negara ini sedang dilanda perang. Jadi, kita maklum kalau mereka tidak memiliki kepemimpinan. Tapi, terorisme juga terjadi di Prancis, Inggris, Spanyol, atau negara-negara Skandinavia. Di semua negara ini, ada kepemimpinan yang kuat. Jadi? Ya, tidak bisa dikatakan bahwa terorisme berkembang di negara yang pemimpinnya lemah.

Pemimpin di negara-negara ini juga tidak mudah diintervensi. Walau sesungguhnya kita tidak tahu apa makna intervensi dari Tuan fadli Zon ini. Mungkin maksudnya dikendalikan. Tapi, ya, masak sih PM Inggris dikendalikan oleh kekuatan luar?

Bagaimana dengan poin “byk kemiskinan n ketimpangan dan ketidakadilan yg nyata”? Nah, ini yang lebih penting untuk dibahas. Benarkah kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan melahirkan terorisme?

Kita bisa mulai dari sini: Sebagian paling besar orang miskin tidak ingin menjadi teroris.

Tidak semua orang yang tidak bisa makan jadi teroris. Kebanyakan orang akan bekerja sebisanya supaya bisa hidup. Mereka akan mengerjakan apa saja. Bahkan mereka yang paling miskin sekalipun bekerja mencari makan. Kalau hidup seseorang kepepet sekali, mereka tidak akan menjadi radikal. Yang pertama mereka lakukan adalah bagaimana supaya selamat. Bahasa Jawa punya peristilahan yang bagus bagaimana orang menghadapi penderitaan: ngalah, ngalih, ngamuk. Mengalah, menyingkir, mengamuk.

Taruhlah misalnya kesulitan makan. Kalau orang bisa menahan lapar, ya dia tahan sebisanya. Kalau sudah lapar sekali, dia berusaha cari gantinya. Dari biasa makan nasi ke makan singkong, atau bahkan makan nasi aking (nasi basi yang dikeringkan dan kemudian dimasak lagi). Hanya pada tahap terakhir orang ngamuk – dalam hal ini, yang paling sering dilakukan adalah menjadi kriminal. Yang dikriminalkan pun kecil-kecilan kayak maling ayam.

Iklan

Poinnya adalah sangat, sangat sedikit orang memilih untuk menjadi teroris. Apalagi orang miskin. Orang kebanyakan tidak sanggup menjadi teroris. Kebanyakan orang ingin hidup yang lebih gampang. Hidup senang dan tenang. Kebanyakan orang pengin hidup. Tidak ingin mati.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa menjadi teroris itu tidak gampang. Sulit sekali. Menjadi teroris itu pilihan ideologis. Jadi, sekali lagi, orang menjadi teroris bukan karena dia miskin. Kebanyakan orang yang memilih menjadi teroris hidup berkecukupan. Mungkin tidak mewah, tapi cukup. Mereka punya keterampilan untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya. Teroris yang mati di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo jualan kue. Banyak dari mereka yang jualan obat herbal (misalnya, jinten hitam) atau madu.

Mereka juga bukan orang bodoh. Mereka berketerampilan. Mereka bisa merakit bom. Perlu keahlian teknis dan kimiawi untuk melakukan ini. Mereka juga fasih menggunakan internet dan semua media komunikasi. Ketrampilan seperti ini tidak dimiliki orang kebanyakan, bukan?

Menjadi teroris itu berat. Anda harus taat. Anda harus membuang semua pikiran di luar tujuan. Anda harus hidup dengan aturan perjuangan (agama) yang sangat ketat. Anda harus sangat berdisiplin karena berada dalam keadaan “perang”. Untuk bisa begitu, Anda harus terus-menerus hidup dengan tingkat kebencian yang teramat tinggi pada apa saja yang Anda anggap musuh. Sedikit saja orang yang sanggup hidup dalam kebencian terus-menerus.

Setiap orang adalah makhluk sosial. Itu sebabnya orang ingin diterima di masyarakat. Ingin bergaul, bercanda, dicintai, dan mencintai. Kebanyakan teroris harus menekan perasaaan itu. Kebanyakan teroris tidak mau bergaul dengan masyarakat, yang dianggapnya kotor dan perlu dibersihkan.

Tidak gampang hidup seperti itu. Jadi, dalam hal ini pun Tuan Fadli salah sama sekali. Tapi, sudahlah. Tuan Fadli adalah politisi, bukan peneliti atau akademisi. Keterampilan politisi adalah bicara meyakinkan. Banyak politisi memilih untuk meyakinkan dengan cara menyesatkan. Orang belum lupa kok, Tuan Fadli pernah ber-selfie ria dengan Mr. Donald, presiden Amerika yang paling banyak membohongi publik itu.

Terakhir diperbarui pada 15 Mei 2018 oleh

Made Supriatma

Made Supriatma

Peneliti dan jurnalis lepas.

Artikel Terkait

Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga MOJOK.CO
Esai

Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga

25 Juli 2026
Perilaku meresahkan pengunjung di Indomaret Point Coffee MOJOK.CO
Sehari-hari

Ngopi Enak di Indomaret Point Coffee Jadi Terganggu karena Perilaku Pengunjung yang Meresahkan tapi Tak Sadar Diri

24 Juli 2026
WiFi di Kos MOJOK.CO
Urban

Ngekos Murah Ber-WiFi Malah Tekor: Berisik, Teras Berubah Jadi Warnet Gratisan, Berujung Terusir dan Ngungsi demi Ketenangan

24 Juli 2026
Mahasiswa KKN di desa
Sekolahan

Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

24 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Buku "Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri" jadi ikhtiar mencatat risalah panjang kompleks Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta melintasi 5 zaman MOJOK.CO

Ikhtiar Mencatat Risalah Panjang Ambarrukmo Melintasi 5 Zaman, Situs yang Terus Hidup tanpa Mencerabut Akar

23 Juli 2026
Candi Prambanan Tak Sekadar Bagus untuk Selfie, tapi Ruang Belajar yang "Hidup" buat Anak-anak. (sumber: InJourney)

Candi Prambanan Tak Sekadar Bagus untuk Selfie, tapi Ruang Belajar yang “Hidup” buat Anak-anak

23 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Andromeda dan bajaj. MOJOK.CO

Sempat Larang Anak Kuliah di ITB hingga Akhirnya Luluh, Rela Tempuh Jogja-Bandung dengan Bajaj sebagai Penyemangat

24 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.