Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Tersihir Syair Lagu Pop Kekinian

Budi Irawanto oleh Budi Irawanto
26 Maret 2016
A A
Tersihir Syair Lagu Pop Kekinian

Tersihir Syair Lagu Pop Kekinian

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Syair lagu pop Indonesia kekinian tak pernah gagal menyihir saya. Ada dua lagu pop yang frekuensi pemutarannya di sebuah stasiun radio kota saya melebihi dosis minum obat dalam sehari: Kau Adalah dan Kesempurnaan Cinta. Lagu pertama disenandungkan oleh Isyana Sarasvati, penyanyi jelita yang memang sedang naik daun. Sedangkan lagu kedua didendangkan oleh Rizky Febian, penyanyi muda yang wajahnya mirip dengan dengan komedian Sule (Belakangan baru saya ngeh kalau Rizky ternyata memang darah daging Sule, pantesan mirip).

Nah, syair kedua lagu itu sungguh membuat saya melongo takjub. Bahkan, tajuk lagu yang dibawakan dan diciptakan Isyana itu pun telah membikin saya terkagum-kagum. Tajuk Kau Adalah sungguh mengulik rasa penasaran dan mengusik kecerdasan saya. Struktur kalimat yang tak lengkap (menurut kaidah baku tata Bahasa Indonesia), justru mengundang saya untuk memeras otak. Tajuk yang diulang dalam syair lagu itu bak puzzle atau teks yang multitafsir. Ibarat film, tajuk dan syair lagu itu emoh mengobral spoiler.

Syair lagu yang dibawakan Rizky tak kalah dahsyatnya. Dalam bagian syairnya yang berbunyi: Berada dipelukmu/ mengajarkanku/ apa artinya kenyamanan. Bayangkan, gara-gara dipeluk, kita jadi tahu makna kenyamanan. Ini benar-benar brilian. Arsitek dan penulis Witold Rybczynski saja nyaris bertekuk lutut mencari makna ‘kenyamanan’ (comfort). Sampai ia harus bertungkus-lumus menulis buku setebal 256 halaman bertajuk Home: A Short History of Idea (1986) hanya untuk mengupas makna ‘kenyamanan.’ Eh, Rizky lewat lagunya memberi saya pembelajaran super kilat: makna kenyamanan itu ada di pelukan. Tiwas saya kebingungan mencarinya ke mana-mana.

Mungkin Anda menduga saya fanboy generasi Pujangga Lama. Jika iya, maka tebakan Anda tak meleset jauh. Saya memang fanboy generasi Pujangga Lama, buktinya, saya masih memakai istilah “syair” alih-alih “lirik.” Ditambah lagi, saya juga masih memuja syair ketimbang lagu. Bagi saya, syair adalah segala-galanya. Lagu hanya sekunder belaka. Dalam baris-baris syair itu, bobot sastrawi lagu terlihat. Pendeknya, hanya syair yang bisa membuat saya benar-benar baper. Memang ini tak adil dalam memperlakukan lagu. Tapi, apa boleh buat. Ya, beginilah saya apa adanya.

Saya jelas tak bersepakat kalau dikatakan syair lagu pop kekinian dangkal, tak bermutu atau asal-asalan. Ambil contoh, syair yang inovatif dari lagu Ahmad Dhani yang berbunyi: Tatap matamu bagai busur panah/ yang kau lepaskan di jantung hatiku. Dhani sadar benar kalau musik itu bagian dari industri kreatif. Makanya dia bosan dengan penggunaan kata yang kelewat klise ‘anak panah’ (biasanya dikombinasikan simbol hati berwarna merah) untuk mengungkapkan cinta. Dan digantilah kata ‘anak panah’ dengan ‘busur.’ Barangkali di lain waktu Dhani berinovasi menggunakan kata ‘pentungan’ untuk mengungkapkan cinta. Biar lebih sangar dan cocok dengan tampangnya.

Mari kita simak syair lagu pop lainnya yang tak kalah ngehits Siapkah Kau ‘Tuk Jatuh Cinta Lagi yang ditembangkan Hivi! band. Utamanya syair ini: Siapkah kau bertahta/ di hatiku adinda. Wuih, kosa kata ‘adinda’ muncul lagi. Sebagai fanboy generasi Pujangga Lama, jelas saya bahagia dan berbangga. Ternyata kata ‘adinda’ gak kalah kekinian dengan ‘say,’ ‘my love,’ ‘darling,’ atau ‘honey.’ Bunyi syair yang lain, mengajak pendengar tak berebut tahta kekuasaan yang kerap menyengsarakan rakyat. Lebih baik: bertahta di hati adinda. Percayalah, jika saran ini dilaksanakan semua warga, negara bisa menghindari pemborosan dana kayak Pilkada itu.

Begitu pula, syair lagu yang dibawakan Tulus bertajuk Gajah. Judulnya saja, sudah menyugesti saya untuk peduli dengan binatang yang terancam punah. Ini lebih ampuh dari kampanye WWF. Apalagi hobi saya memakai sarung cap Gajah Duduk (he.. he.. gak ada hubungan ya? yo biarin). Cobalah simak syair ini: Waktu kecil dulu mereka mengatakan/ mereka panggilku gajah/ kini kuberi tahu puji dalam olokan. Syair lagu ini menunjukkan betapa buruknya pelajaran sains di sekolah kita. Buktinya, para siswa tak bisa membedakan gajah dengan manusia, kendati gajah dan lelaki sama-sama punya belalai walau beda tempatnya. Apa ndak dahsyat? Lagu pop yang diledek menye-menye itu ternyata sarat kritik sosial yang tajam.

Meski begitu, saya tidak tahu persis mengapa syair lagu Isyana dan Rizky itu begitu makjleb di hati saya. Mungkin syair kedua lagu itu pas dengan kepribadian saya yang notabene hasil didikan Orde Baru (Orba). Dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, saya diajari menghafal. Syair lagu Isyana itu mirip dengan “soal isian” mengenai definisi dari mata pelajaran yang saya ikuti. Untungnya, ada bonus pelajaran bahasa Inggris tingkat basic dari Rayi Putra saat nge-rap: What? Who? Sedangkan syair lagu Rizky menuntut kecepatan menghafal sinonim. Dan kemampuan menemukan kata yang maknanya deep banget.

Begitulah. Setiapkali menyenandungkan kedua lagu itu di kamar mandi, saya selalu teringat momen-momen (traumatis) mengerjakan ujian EBTANAS. Apalagi kalau bukan syair ini: Kau adalah…. (mendadak di kepala saya muncul instruksi ujian: Isilah dengan jawaban yang benar!). Juga, syair ini: Berada di pelukanmu/ mengajarkanku/ apa artinya kenyamanan, ….. (spontan pikiran saya mencari padanan kata ‘kenyamanan’ dari motto pembangunan Orba: keamaanan, kesejahteraan, dan kemakmuran).

Sumpah, syair dua lagu pop kekinian itu membuat saya terus-menerus tertegun. Penciptanya pastilah seorang jenius karena mampu mengasah otak saya. Bahkan, kepiawaian anak ajaib Joey Alexander yang menghebohkan itu hanya membuat saya bergeming.

Maka, tabik untuk Isyana dan Rizky!

(Dari hamba yang terpana oleh syair lagumu)

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: isyana sarasvatipoprizky febian lagu
Budi Irawanto

Budi Irawanto

Artikel Terkait

isyana srasvati mojok.co
Kilas

Kenangan Tak Terlupakan Isyana Sarasvati Saat LDR Singapura-Jogja

8 Agustus 2023
isyana sarasvati mojok.co
Hiburan

Isyana Sarasvati bikin ‘Pecah’ Jogja Expo Center

6 Agustus 2023
RARA SEKAR: MUSIK HARA, KEBAHAGIAAN BELAJAR, DAN BERKEBUN
Video

Rara Sekar: Musik Hara, Kebahagiaan Belajar, dan Berkebun

10 Oktober 2022
ilustrasi Kelakuan Acak Isyana Sarasvati yang Sekalipun Memalukan, Kita Maafkan mojok.co
Pojokan

Kelakuan Acak Isyana Sarasvati yang Sekalipun Memalukan, Kita Maafkan

19 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lapangan Padel di Jakarta Selatan bikin Stres Satu Keluarga. MOJOK.CO

Nestapa Tinggal di Perumahan Elite Jakarta Selatan Dekat Lapangan Padel, Satu Keluarga Stres Sepanjang Malam

19 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Ramai, 'Cukup Aku Saja yang WNI': Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia MOJOK.CO

Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia

20 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.