Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Taik Ahok dan Loyonya Anu Partai

Achmad Ridwan oleh Achmad Ridwan
12 Maret 2016
A A
Ahok

Ahok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hari-hari ini jagat informasi di televisi maupun media sosial banyak diisi berita seputar hajat politik DKI Jakarta. Lakon utamanya, Ahok. Lakon yang sangat seksi untuk jualan. Beliau ini memang kontroversial sekali. Satu-satunya pejabat publik yang berani melontarkan taik di siaran live tivi nasional. Emm, maksud saya, tak jijik menyebut taik kalau ada hal yang menurutnya memang layak disejajarkan dengan taik. Menurutmu, apa yang pantas disejajarkan dengan taik?

Taik ini, eh Ahok ini, makin fenomenal ketika beliau memutuskan maju dalam pilkada Jakarta lewat jalur independen. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memang gayane puuolll. Kalau beliau mau ngalah sedikit saja, PDKT tipis-tipis ke partai, nyang-nyangan seperlunya, pasti banyak yang mau mengusung. Dengan popularitasnya yang tinggi seperti sekarang ini, cuma pengurus partai koplak yang menolak mengantarkan Ahok menikmati empuknya JKT48. Eh, JKT1.

Namun nyatanya, dia memilih independen. Pasti tak sedikit yang membaca langkah politik Ahok itu sebagai bentuk kepongahan. Sombong berlebihan. Pede keterlaluan. Naif yang menjurus goblok.

“Jakarta terlalu besar kalau sekadar diselesaikan satu orang baik sekali pun. Orang baik tak cukup, satu superman tak akan cukup, jadi dibutuhkan partai politik,” kata politisi PDIP, Budiman Sudjatmiko.

Apa yang dikatakan oleh Budiman Sudjatmiko agaknya memang ada benarnya. Superman seorang, mana mungkin bisa membereskan Jakarta yang banyak bajingannya. Ibu Kota butuh sekumpulan Avenger yang berkolaborasi dengan genk X-Men, beserta Kungfu Panda dan kawan-kawan. Bahkan kalau perlu dibantu sama Wiro Sableng dan Arya Kamandanu.

Oleh partainya Mas Budi itu pula, Ahok dituduh melakukan deparpolisasi. Sungguh istilah yang nggateli. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, deparpolisasi (yang jujur lebih enak saya lafalkan sebagai Deep Purple) artinya pengurangan jumlah partai politik. Tapi dalam khasanah perpolitikan, artinya bisa meluas sebagai upaya menghilangkan kepercayaan terhadap partai politik. Ini serius, agak menggelikan. Karena, tanpa diupayakan pun, kepercayaan masyarakat terhadap parpol sudah menipis.

Virus calon independen memang mengkhawatirkan bagi beberapa penggiat parpol. Gimana enggak? Setengah mati mereka berbohong sana-sini, galang dana lewat pengusaha anu dan ini, mengembangbiakkan kader untuk jadi penguasa, eh malah ada yang tanpa repot-repot berpartai mau menikung. Kan bedebah.

Pada pilkada serentak 2015 lalu, tidak sedikit calon independen yang menang. Seperti di dekat rumah saya, tepatnya di Kutai Kartanegara, calon independen bisa menang 89,43 persen. Beliau Rita Widyasari namanya. Putri pemimpin Kutai yang legendaris, Syaukani HR. Rita sebetulnya ketua DPD Golkar Kukar. Dia kader moncer. Tapi, doski memilih independen karena saat itu Golkar sedang kisruh.

Masih tidak jauh dari rumah saya. Di Bontang, calon independen Neni Moerniaeni-Basri Rase menang dari lawannya yang petahana dan didukung semua parpol di sana, Adi Dharma-Isro Umarghani.

Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Khusus untuk Ahok, perjuangannya tentu bakal menjadi lebih spesial, mengingat Jakarta adalah etalase Indonesia. Jadi jika beliau maju dan menang di Jakarta lewat jalur independen, maka akan banyak calon kepala daerah independen dari daerah lain yang akan terinspirasi. Inilah yang membuat sebagian parpol belingsatan.

Semakin banyak calon independen muncul dan menang di pilkada, bertambah reduplah eksistensi partai politik. Apalagi kalo yang bersangkutan tak mau kompromi dengan kepentingan parpol. Bisa-bisa parpol tinggal menunggu detik-detik kedatangan malaikat Izroil.

Dalam hal ini, kekhawatiran PDIP menunjukkan bahwa ia adalah partai yang visioner (walau sebenarnya, antara visioner dan ketar-ketir kadang hanya beda tipis). Tapi, khawatir saja tentu tidak cukup. Jika tak ingin cepat-cepat gulung tikar alias kukut gasik, sebaiknya PDIP maupun pe-pe lainnya harus segera berbenah.

Bekerja tidak hanya saat ada pemilihan umum. Parpol harus menunjukkan anunya tidak loyo, harus menunjukkan bahwa anunya masih cukup setrong dan masih tokcer melahirkan calon-calon pemimpin yang bisa dipercaya rakyat. Jangan terus beronani bahwa Negara butuh dan bergantung pada gerombolanmu.

Iklan

Akhirul kalam, ini saran saya buat Ahok, juga teman-temannya. Jikalau engkau hendak terpilih, sentuhlah warga Jakarta tepat di hatinya. Taiknya dikurang-kurangi sampai pencoblosan nanti. Itu perlu, karena belum semua pemilih di Jakarta mengerti pentingnya taik dalam kehidupan umat manusia.

Terakhir diperbarui pada 27 Juni 2017 oleh

Tags: ahokdki jakartapdi
Achmad Ridwan

Achmad Ridwan

Artikel Terkait

Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO
Cuan

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
Hidup Cemas di Manggarai Jakarta Selatan karena Tawuran MOJOK.CO
Esai

Merantau di Manggarai Jakarta Selatan Artinya Hidup Sambil Memelihara Ketakutan, Hidup Susah, dan Terancam Tawuran yang Bisa Terjadi Kapan Saja

18 Mei 2025
Solo Fighter PDIP vs Keroyokan di Kandang Banteng, Pilkada 2024.MOJOK.CO
Aktual

Solo Fighter vs Keroyokan di Kandang Banteng, Benarkah Jateng Tak “Merah” Lagi? 

29 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gagal seleksi PPPK dan CPNS meski daftar di formasi PNS atau ASN sepi peminat. Malah dapat kerja yang benefitnya bisa bungkam saudara yang sebelumnya menghina MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina

9 April 2026
Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

10 April 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Jurusan Antropologi Unair kerap diremehkan. MOJOK.CO

Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas

9 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.