MOJOK.CO – Ramai tentang riset palsu yang diduga untuk mendapatkan travel grant. Di dunia akademik mereka disebut conference hunter. Apa alasannya, apa patut dijajal?
Dunia akademik Indonesia digegerkan oleh dugaan skandal manipulasi riset terorganisir yang melibatkan oknum asal Indonesia. Kejadiannya di forum ilmiah International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) yang berlangsung 17-21 Mei 2026 di Kopenhagen, Denmark. Ada indikasi kuat fabrikasi data ilmiah menggunakan kecerdasan buatan (AI) demi mencairkan bantuan dana perjalanan (travel grant) ke luar negeri.
Lokasi penelitiannya tersebar dari Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh sampai Sudan Selatan tanpa satu pun kolaborator lokal, tanpa persetujuan etik. Aneh karena biasanya penelitian tentang manusia persetujuan etik itu utama.
Yang lebih membuat saya geleng kepala: dua dari tiga nama itu bukan dokter, bukan perawat, bukan siapa pun yang pernah mengenyam pendidikan kesehatan tetapi sarjana dan magister Matematika dari universitas ternama, mendapat beasiswa yang prestisius pula. Track record juga moncer, terlihat dari berbagai prestasi disandang.
Singkat kata mahasiswa berprestasi. Penerima beasiswa prestisius dan universitas ternama. Tapi dalam dua sampai tiga tahun terakhir, mereka diduga berhasil mengumpulkan puluhan travel grant dari konferensi-konferensi medis internasional. Puluhan.
Travel grant atau hibah perjalanan adalah bantuan dana atau hibah yang diberikan oleh institusi, organisasi, atau penyelenggara acara untuk menutupi biaya perjalanan seseorang.
Ida Bagus Mandhara Brasika, peneliti yang membongkar semua ini lewat Threads-nya, menulis: “Saat ini, ilmuwan Indonesia di tingkat dunia sangat sedikit jumlahnya. Dengan kejadian ini, akan semakin sulit lagi.”
Saya baca kalimat itu sambil minum kopi. Berpikir cukup lama bukan tentang tiga orang itu, tapi tentang apa yang membuat pilihan mereka terasa, dalam kondisi tertentu, seperti sesuatu yang masuk akal untuk dijajal.
Pemburut travel grant sudah jadi profesi
Fenomena ini sudah punya nama di kalangan akademisi: conference hunter. Cara kerjanya tidak rumit. Cari konferensi internasional yang menyediakan travel grant bagi presenter abstrak. Kirim abstrak yang semakin mudah dibuat sejak AI generatif bisa menghasilkan teks ilmiah yang terdengar meyakinkan dalam hitungan menit. Lolos seleksi, dapat tiket pesawat, akomodasi, uang saku dari panitia. Terbang. Pulang. Ulangi.
Riset sungguhan? Nggak tahu saya, tapi kok kemungkinannya janggal untuk dilakukan.
Yang wajib ada hanya satu: abstrak yang cukup meyakinkan untuk melewati review awal. Dan bagi orang yang sejak kuliah terbiasa membaca pola seleksi tahu cara menulis proposal yang terdengar kuat, tahu cara menyusun narasi yang melewati filter reviewer AI generatif hanyalah alat baru untuk melakukan hal lama yang mungkin terbungkus sistem: kelihatan bagus di atas kertas.
LPDP memberi beasiswa karena profilnya terlihat menjanjikan. Konferensi memberi travel grant karena abstraknya terlihat impresif. Logikanya sama hanya skalanya saja yang berbeda.
Gara-gara konferensi internasional jadi komponen angka kredit
Ketika angka berubah dari indikator menjadi tujuan, fungsi angka akan berubah. angka itu akan ditipu. Di sini ada sebuah hukum lama yang relevan.
Pada 1975, ekonom Inggris Charles Goodhart memperingatkan sesuatu yang awalnya ditujukan untuk kebijakan moneter, tapi ternyata berlaku jauh lebih luas: ketika sebuah indikator dijadikan target, ia akan kehilangan nilainya sebagai indikator.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, ketika angka sudah menjadi tujuan, angka sudah lagi bukan menjadi alat ukur yang valid. Kita bisa tertipu.
Goodhart mengamati ini di dunia perbankan: begitu otoritas moneter menjadikan agregat uang beredar sebagai target kebijakan, bank-bank langsung menyesuaikan perilakunya untuk memenuhi angka tersebut bukan karena kondisi ekonominya membaik, tapi karena targetnya harus tercapai. Angka menjadi kehilangan maknanya tepat di saat ia paling dibutuhkan.
Di dunia akademik Indonesia, bisa jadi polanya persis sama. Ketika publikasi jurnal dijadikan syarat lulus, angka publikasi naik tapi bukan karena risetnya makin baik. Ketika kehadiran di konferensi internasional dijadikan komponen angka kredit, jumlah kehadiran naik tapi bukan karena pertukaran ilmunya makin bermakna.
Yang naik adalah angkanya. Yang tidak ikut naik adalah kualitasnya.
Dan ketika AI generatif hadir dan bisa menghasilkan abstrak yang lolos review dalam hitungan menit, Goodhart’s Law bekerja dengan efisiensi yang belum pernah ada sebelumnya.
Berburu travel grant jadi bukti budaya akademik kita nggak ngejar kualitas
Sebuah studi etnografis tiga tahun yang mewawancarai alumni S1 hingga S3 dan editor jurnal menemukan konfirmasi atas apa yang Goodhart prediksi setengah abad lalu. Sumbernya tekanan publikasi sistematis dan evaluasi berbasis angka kredit telah menormalkan kosmetik akademik bukan budaya akademik yang performatif. Tampilan produktivitas yang dikejar bukan kualitas pengetahuan.
Mahasiswa menulis artikel bukan karena ada pertanyaan riset yang mengganggu tidur mereka, tapi karena publikasi adalah syarat lulus.
Dosen menulis bukan karena ada gagasan yang perlu diperdebatkan. Tapi karena angka kredit tidak naik tanpa nama di jurnal terindeks. Jurnal berhenti menjadi forum ilmiah lantas berubah jadi instrumen birokrasi tempat menyetor bukti keaktifan, bukan mendebatkan kebenaran.
Stella Christie, Bu Wamen Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, menyampaikan bahwa dari 22.000 jurnal ilmiah yang terdaftar di Indonesia, hanya 11 jurnal yang terindeks Q1 Scopus, pendek kata sangat sedikit yang kualitasnya layak. Angkanya besar tapi nggak punya kualitas.
Ketika publikasi jurnal bisa diselesaikan dengan mengirim ke jurnal predator yang menerima naskah dalam tiga minggu, logika yang sama bermigrasi ke konferensi internasional. Bedanya satu: hadiahnya lebih nyata. Bukan nama di halaman jurnal yang tidak dibaca siapa pun. Tapi tiket pesawat ke Kopenhagen.
Ini bukan perubahan moral. Ini perubahan skala dari indikator kecil yang ditipu ke indikator besar yang ditipu.
Masalahnya bukan orang serakah, tapi sistem yang hanya mengejar angka
Wa Ode Dwi Daningrat, peneliti yang hadir langsung di Kopenhagen, menyampaikan sesuatu yang perih: “Teman-teman gue udah berusaha banget, ngerjain penelitian, ngerjain data, bikin poster. Dan rusak semua karena ini.”
Inilah biaya tersembunyi Goodhart’s Law yang tidak pernah masuk laporan akreditasi: kepercayaan yang aus pelan-pelan di antara orang-orang yang masih memilih jujur.
Kalau masalahnya hanya orang serakah, solusinya mudah: sanksi, selesai.
Tapi kalau masalahnya sistem yang bertahun-tahun mengajarkan bahwa angka lebih penting dari substansi, terbit lebih penting dari kebenaran maka sanksi hanya menyelesaikan satu gejala dari penyakit yang belum tersentuh.
Dari kasus riset palsu dan travel grant ini, paradoks terbesarnya: orang paling fasih memainkan sistem prestasi kita ternyata juga paling fasih memainkan sistem palsu kita. Karena dari dalam, keduanya terlihat sama daftar kriteria yang harus dipenuhi, bukan nilai yang harus dihidupi. Goodhart sudah bilang ini lima puluh tahun lalu. Kopenhagen adalah salah satu bukti nyata
Penulis: Djoko Budiyanto Setyohadi
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline dan tulisan menarik lainnya di Esai Mojok.co
