Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sesi Konsultasi Psikologi di Tes Kesehatan Sebelum Menikah yang Kayak Tempelan Aja

Audian Laili oleh Audian Laili
17 September 2019
A A
Sesi Konsultasi Psikologi di Tes Kesehatan Sebelum Menikah yang Kayak Tempelan Aja
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Salah satu sesi dalam tes kesehatan sebelum menikah adalah konsultasi psikologi. Tapi melihat bagaimana ia diperlakukan, kok kayak tempelan aja, ya?

Saya berencana menikah. Salah satu syarat supaya saya dan pasangan dapat mendaftarkan diri ke KUA, saya harus suntik TT—singkatan dari tetanus toksoid, suntik yang memberikan vaksin supaya tubuh kebal dari penyakit tetanus. KUA sih merujuknya ke puskesmas saja. Mungkin untuk pembiayaan, memang lebih bersahabat, sih.

Lantaran saya berdomisili di Jogja, akhirnya saya pergi ke salah satu puskesmas di kota ini. Saya yang mengira kedatangan saya ke puskesmas hanya sekadar mendaftar, antre, suntik TT, dan pulang dengan membawa surat keterangan bahwa saya sudah suntik TT, ternyata salah. Masih ada beberapa tes lain yang harus saya ikuti supaya si surat itu bisa dikeluarkan. Karena saya tidak mempersiapkan mental untuk proses yang akan sepanjang itu, awalnya agak kesal juga.

Proses panjang yang harus saya lalui di antaranya, datang ke poli KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) untuk cek berat badan, tinggi badan, lingkar lengan, konsultasi soal haid, dan suntik TT. Setelah itu saya datang ke poli gigi dan mulut untuk diperiksa kesehatan gigi dan mulut saya. Kira-kira bagaimana kondisinya. Untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada yang bermasalah dengannya, hal itu bisa diambil tindakan dengan segera. Jangan sampai tindakan itu dilakukan saat saya sedang hamil. Bisa berbahaya katanya.

Selepas itu, saya diminta ke laboratorium untuk dicek darah dan urin. Cek urin untuk mengecek apakah saya sedang hamil atau tidak. Sementara cek darah untuk memeriksa hemoglobin saya. Ya, kita tahu kan, Hb ini ada kaitannya dengan darah dan oksigen yang ada di tubuh kita. Mungkin untuk memastikan juga, kalau tubuh saya nggak kekurangan asupan oksigen, khususnya kalau nanti ada calon anak saya di kandungan.

Setelah menerima hasil laboratorium, saya lalu mengantri untuk konsultasi gizi. Ya, karena saya belum punya pengalaman untuk konsultasi gizi sebelumnya, saya rasa pelayanan ini oke juga. Maksudnya, ahli gizinya cukup dapat menjelaskan dengan lebih jelas mengenai asupan gizi yang saya butuhkan. Apalagi kalau memang pengin menjadikan organ reproduksi saya ini tetap subur dan siap hamil.

Ya, ya, ya. Keempat tes kesehatan di atas semuanya memang fokus untuk memastikan bahwa tubuh saya ini siap untuk kehamilan. Padahal, saya sama sekali nggak ditanyain: Apakah saya berencana untuk hamil dalam waktu dekat setelah menikah atau tidak? Atau mungkin pengenalan alat kontrasepsi dan mana yang terbaik untuk saya? Ataupun membantu saya untuk memahami masa subur, mungkin?

Tapi nggak apa-apa. Mungkin karena begitu banyaknya calon pasien yang harus diurus, jadi hal-hal tersebut mungkin agak keselip aja. Lagian saya juga sih, ngapain harus malu atau pekewuh untuk bertanya langsung soal suatu hal yang memang belum saya pahami? Hmmm, dasar aku.

Sebetulnya, setelah keempat tes itu, ada satu sesi lagi yang harusnya saya ikuti supaya si surat keterangan kesehatan calon pengantin itu ada di genggaman saya. Yakni sesi konsultasi dengan psikolog. Namun, sayang sungguh sayang, karena hanya ada satu psikolog di setiap puskesmas Jogja, dan di puskesmas yang saya datangi psikolognya sedang cuti hamil, jadi ya sesi konsultasi tersebut di-skip.

Awalnya saya kira untuk sesi ini akan dirujuk ke puskesmas lain yang terdekat. Ternyata tidak, Saudara-saudara. Aturannya tidak sekaku yang saya kira: Bahwa saya bisa melewati sesi konsultasi dengan psikolog karena psikolognya sedang cuti. Salah satu dari tenaga kesehatan di sana bilang, karena itu bukan salah saya, jadi tidak masalah.

Sebetulnya, saya sudah berharap banyak dengan konsultasi psikolog ini. Saya merasa ini adalah salah satu upaya yang begitu keren dari para tenaga kesehatan untuk tidak menganaktirikan lagi soal kesehatan mental. Ya, seperti diketahui, keempat tes yang saya lakukan sebelumnya kan hanya fokus soal kesehatan fisik saja. Bukankah kalau dilengkapi dengan konsultasi psikologi, ini betul-betul menjadi 4 sehat 5 sempurna? Seperti yang ahli gizi katakan?

Saya cukup menyayangkan sesi terakhir ini di-skip begitu saja. Mungkin memang datang ke psikolog dan “dipaksa” untuk bercerita ke orang asing yang baru aja dikenal beberapa menit yang lalu, rasanya sungguh aneh. Tapi, bukankah ini kesempatan bagi calon pengantin untuk lebih memahami dirinya dan pasangan dengan bantuan tenaga profesional? Apalagi kesempatan itu bisa didapatkan di puskesmas yang biayanya jauh lebih murah dan lebih banyak orang yang “sanggup” mengaksesnya.

Namun, menganggapnya sebagai suatu hal yang nggak penting-penting amat, sehingga bisa dilewati supaya lebih efektif dan efisien, rasanya mengganjal juga. Bukankah ini merupakan sebuah proses yang dibutuhkan?

Kalau kita melihat angka-angka permasalahan dalam rumah tangga, rasanya sungguh mengerikan. Jadi, saya percaya bahwa konsultasi psikologi adalah salah satu cara yang bisa diupayakan sebelumnya, supaya hal-hal semacam itu dapat dicegah sedini mungkin. Sesi ini ada juga sebagai penyeimbang kelayakan kesehatan kita. Tidak hanya kesehatan fisik tapi juga mental.

Iklan

Jadi, saya cukup menyayangkan kalau tenaga profesional sesi ini sedang berhalangan hadir, lalu sesi konseling ini di-skip begitu saja. Tidak ada rujukan ke puskesmas lain. Tidak pula diwajibkan untuk datang ke sana sesegera mungkin saat sang tenaga ahli ini bertugas kembali.

Rasa-rasanya, sesi ini memang dianggap sebatas tempelan. Semacam nggak penting-penting amat. Jadi kalau nggak ada juga nggak apa-apa. Palingan juga nggak berpengaruh amat untuk keutuhan rumah tangga. Lha wong sudah yakin untuk nikah. Yang datang pun pasti sudah pada siap dengan pesta pernikahannya. Kok malah mau diribetin untuk dipastikan segala. Mungkin, dikiranya kayak gitu kali, ya. Mungkin, loh.

BACA JUGA Katanya Pengin Nikah, Pas Mau Nikah Malah Jadi Bridezilla atau artikel Audian Laili lainnya

Terakhir diperbarui pada 24 September 2025 oleh

Tags: konsultasi psikologimenikahpuskesmastes kesehatan
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO
Sehari-hari

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja MOJOK.CO

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja

8 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.