Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Selamat Ulang Tahun Bung Iwan Fals Si Manusia Biasa

Renold Rinaldi oleh Renold Rinaldi
3 September 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Meski punya banyak julukan mewah, Iwan Fals tetaplah manusia biasa. Dia juga menua, berubah, dan sudah jadi haknya untuk menikmati hidup.

Tuhan barangkali pilih kasih. Ada manusia yang dijuluki setengah dewa, digelari Asian Heroes, menyandang sebutan legenda, Begawan Musik Tanah Air, dianggap wali, dan sederet puja-puji lainnya.

Hanya ada satu manusia pilihan itu di negeri ini. Walaupun di Twitter dia memposisikan diri seperti bapak-bapak biasa yang gagap dengan segala macam perkembangan zaman dan pemberitaan.

Iwan Fals genap berusia 60 tahun, hari ini. Jika dirangkum, sudah 40 tahun kariernya mewarnai khazanah musik Indonesia.

Nada lagunya merangsek ke gang-gang sempit di kota urban untuk dinyanyikan kalangan marginal dengan mulut bau miras oplosan. Lirik lagunya sederhana, lugas, namun tetap relevan dengan kehidupan orang-orang pinggiran. Karya-karyanya berpendar ke pelosok negeri, mengilhami, dan menginspirasi banyak orang.

Saya membayangkan jika Iwan Fals bukan manusia pilihan, mungkin hidupnya sudah berakhir di penjara Pekanbaru karena memuat lagu yang bikin kuping Orde Baru panas.

Lagu itu berjudul “Mbak Tini”, yang bercerita soal Pekerja Seks Komersial dan sopir truk yang jadi langganannya. Beruntung ibunya, Lies Haryoso, yang saat itu mendengar kabar anaknya diinterogasi aparat, bergegas terbang dan menyelamatkannya, kemudian terciptalah lagu “Ibu” yang menyayat hati itu.

Jika Iwan Fals bukan manusia pilihan, di pertengahan 1980-an, bisa saja dia jadi salah satu korban ketika Kompleks Bulungan markas Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) diobrak-abrik aparat. Entah perihal apa, yang jelas Iwan Fals tidak biasanya datang terlambat. Dia selamat.

Jika Iwan Fals bukan manusia pilihan, kariernya bisa saja mandeg dan berakhir sebagai pengamen yang mencari nafkah menyusuri jalanan Jogja dan Bandung seperti yang dia lakukan saat remaja.

Membuat lagu humor, tampil di satu undangan, dan panggung-panggung kecil. Bukan musikus besar yang menghiasi panggung megah dengan jutaan penggemar.

Jika Iwan Fals bukan manusia pilihan, tidaklah mungkin W.S. Rendra memberikan panggung Kantata Takwa kepadanya. “Ini panggungnya Iwan!” Perintah Si Burung Merak saat Kantata membuat Konser bersejarah di beberapa kota tahun 1990.

Meski saat latihan, Iwan Fals mengaku diplonco oleh W.S. Rendra dan rekan-rekannya di Kantata. Saat latihan Iwan Fals hanya disuruh memukul gong.

Tapi, Iwan Fals toh tetaplah manusia, pembatalan “Konser 100 Kota” dalam tajuk promo album Mata Dewa membuat mentalnya ambruk seketika. Bersama musikus lain seperti Nicky Astria dan Ian Antono, mereka menangis sejadinya.

“Ternyata bermusik bisa (memberikan dampak) seserius itu,” kata Iwan Fals baru-baru ini di kanal YouTubenya.

Iklan

Dia juga pernah berada di titik nadir dalam hidup, tatkala Galang Rambu Anarki wafat. Momen yang dinilai banyak kalangan mengubah cara pandang, dan karakter Iwan Fals dalam bermusik.

Iwan Fals yang biasa keras, sarat kritik sosial, jadi lembek, dengan lagu cinta-cintaan melulu. Padahal zaman berubah, cara orang menikmati karya juga berubah. Orang-orang masih memaksa Iwan Fals membuat lagu kritis pada penguasa, meski mereka sendiri adalah netizen sompral yang mudah mengumbar amarah.

Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa rekan memiliki kesempatan langka untuk bersua dengan Iwan Fals dan Mbak Yos di rumahnya, Desa Leuwinanggung. Perjamuan khusus itu mengentaskan kerinduan kami, sebagai penggemarnya, sebab sejak pandemi merebak praktis tidak ada konser Iwan Fals yang digelar secara terbuka.

Dalam pertemuan berdurasi empat jam dan telah melewati serangkaian prokes ketat itu banyak hal yang Bang Iwan sampaikan; Soal Raja Airlangga yang ketika Jawa terjadi Pralaya rakyatnya tetap bekerja dengan tekun.

Seperti ungkapan tersirat, meski elite dan penguasa semena-mena, yang bisa menyelamatkan negeri adalah rakyatnya sendiri sebagai pemegang daulat.

Membahas barisan pengemis Kaypang yang anti kebatilan karya Khoo Ping Hoo, meskipun berpenampilan lusuh tetap disegani seantero negeri. Sampai Maria Zaitun, sosok pelacur yang dilimpahi kasih sayang Yesus dalam gubahan puisi Rendra.

Metafor yang sama sebetulnya bisa ditemui di lagunya sendiri “Adzan Subuh Masih di Telinga” atau “Doa Pengobral Dosa”.

Maksudnya, agak berfilosofi, pada masa sekarang saat penghakiman begitu mudahnya dilancarkan lewat jempol, ternyata masih ada ruang kasih Tuhan, manusia sepatutnya tidak boleh enteng menghakimi manusia lain seperti yang terlihat dan berjejalan di kolom komentar media sosial.

Dalam pertemuan singkat dengan kami itu, Iwan Fals memakai kaos polo coklat dan celana cargo hitam pudar. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, guratan-guratan di wajahnya semakin tampak, tulang sudah tak prima menopang tubuhnya, otot leher terlihat seperti sudah lelah berteriak.

Meski begitu, wibawa tetap mengiringi usianya yang sudah menginjak kepala enam. Wibawa yang justru muncul ketika kami (penggemarnya) sadar, dia adalah manusia biasa yang juga bisa menua.

Dan justru dengan merasa Iwan Fals sebagai manusia biasa, kami merasa diwakilkan sepenuhnya. Lewat lagu-lagunya, lewat suara-suaranya. Bukan Iwan Fals sebagai manusia setengah dewa, legenda, atau mitos yang jauh tak tersentuh di ujung sana.

Selamat ulang tahun, Bung. Tetap sehat dan panjang umur kehidupan.

BACA JUGA 3 Lagu Bung Iwan yang Kalau Diciptakan Sekarang Pasti Rame atau ESAI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 3 September 2021 oleh

Tags: galang rambu anarkiIwan FalsLegendamanusia setengah dewaws rendra
Renold Rinaldi

Renold Rinaldi

Jurnalis Lepas. Tinggal di Jakarta Pusat.

Artikel Terkait

Sheila on 7 Legenda yang Sederhana, Bikin Fans Merasa Dekat MOJOK.CO
Esai

Sheila on 7 Menjadi Legenda Bukan Hanya karena Musik, tapi Juga Fashion Mereka yang Sederhana dan Membuat Fans Merasa Dekat

16 Juli 2025
WS Rendra, Penyair yang Paling Ditakuti oleh Rezim Soeharto
Video

WS Rendra, Penyair yang Paling Ditakuti oleh Rezim Soeharto

17 Agustus 2024
Iwan Fals-Fahruddin Faiz Menggebrak Lewat Album “Tujuh Belas” MOJOK.CO
Esai

Berkolaborasi dengan Fahruddin Faiz, Iwan Fals Menelurkan Album “Tujuh Belas” yang Indah, sekaligus Mengejutkan!

9 Juni 2024
Angkringan Kang Nur Menolak Sedih karena Utang Pelanggan Berkat Lagu Iwan Fals. MOJOK.CO
Liputan

Kang Nur Menolak Sedih karena Utang Pelanggan Angkringan Berkat Lagu Iwan Fals

12 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Yamaha Grand Filano lebih cocok untuk jarak jauh daripada BeAT. MOJOK.CO

Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

26 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Jangan Remehkan Supra X 125, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang Mojok.co

Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.