Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Saipul Jamil dalam Pusaran Ide Penyuluhan versi KPI dan KPK

Jangan lupa, Saipul Jamil bukan hanya predator seksual, tapi dia juga penyuap panitera Pengadilan Negeri Jakut untuk kasus yang sama.

Made Supriatma oleh Made Supriatma
13 September 2021
A A
Saipul Jamil dalam Pusaran Ide Penyuluhan versi KPI dan KPK MOJOK.CO

Saipul Jamil dalam Pusaran Ide Penyuluhan versi KPI dan KPK MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sulit rasanya memahami cara berpikir para pejabat kita yang ada di KPI dan KPK belakangan ini. Terutama kalau terkait soal isu Saipul Jamil.

Ada apa dengan republik ini?

Saipul Jamil adalah seorang predator seksual. Anda tahu artinya predator? Pemangsa. Dia memangsa anak-anak remaja yang diundang menginap di rumahnya untuk sebuah acara televisi di mana dia menjadi bintangnya.

Anak-anak remaja itu tertarik karena Saipul Jamil orang terkenal. Dan dari situlah dia bebas “memangsa” mereka. Dalam hal ini, dia melecehkan mereka secara seksual. Jangan lupa, tuduhan-tuduhan itu semua terbukti di pengadilan.

Ini belum ditambah dengan usaha Saipul Jamil untuk menyuap panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara sebesar Rp250 juta untuk kasus kekerasan seksual yang sidang disidangkan kala itu. Sudahlah predator seksual, penyuap kasus hukum di Indonesia pula. Luar biasa.

Orang mungkin akan berpikir, pantas kah Saipul Jamil mendapat hukuman sekeras itu bahkan begitu dia keluar dari penjara?

Kalau Anda tidak tahu bagaimana trauma menderita pelecehan dan kekerasan seksual, Anda mungkin akan berpikir demikian.

Untuk para korbannya, pelecehan ini meninggalkan trauma mendalam. Seringkali mereka merasa tidak berharga dan membenci tubuhnya sendiri. Banyak yang menderita depresi dan kemudian bunuh diri.

Saya tahu persis ini karena saya pernah bicara dengan beberapa dari mereka. Sungguh sulit keluar dari situasi ini.

Saipul Jamil sudah masuk penjara. Namun para produser televisi menganggapnya sudah menerima ganjaran, sehingga para produser ini merancang “come back” si Saipul Predator Seks ini.

Tidak ada sedikit pun dalam pikiran mereka tentang korban. Tentang trauma. Tentang depresi. Tentang bagaimana orang merasa dirinya kotor sesudah disentuh Saipul Jamil.

Di balik semua kepedihan dan kedegilan itu, hari ketika saya menulis ini saya membaca satu berita yang malah lebih degil lagi. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dikutip oleh media mengatakan bahwa tidak masalah Saipul tampil di TV. Saipul bahkan dianggap layak menjadi “edukator” untuk kejahatan seksual.

Saya tidak tahu apa maksudnya. Hari ini saya membaca bahwa Saipul tidak boleh tampil menghibur. Ketua KPI juga mengatakan bahwa Saipul harus dibatasi gerak-geriknya. Dibatasi tapi boleh tampil di publik? Sebagai edukator? Sebagai bagian dari edukasi?

Saya sungguh tidak mengerti dengan cara berpikir para pejabat kita akhir-akhir ini.

Iklan

Beberapa waktu lalu, seorang komisioner KPK mengatakan bahwa narapidana “survivor” (baca: penyintas) korupsi alias koruptor akan menjadi instruktur yang memberi penyuluhan tentang bahaya korupsi!

Waktu itu, saya sempat berpikir, “Oh, jadi koruptor bisa mengajarkan soal korupsi ke anak-anak si komisioner ini?” atau, “Oh, jadi pemerkosa bisa mengajarkan soal pemerkosaan kepada anak-anak si komisioner ini?”

Sampai kemudian ada pernyataan Ketua KPI itu, pikiran saya tiba-tiba menjadi kenyataan. Bahkan dalam imajinasi paling liar, Saipul Jamil bisa saja menjadi penyuluh untuk KPI dan KPK sekaligus.

Pertama, pengejewantahan ide dari Ketua KPI agar Saipul bisa menjadi penyuluh akan bahayanya predator seksual di siaran televisi.

Kedua, soal upayanya menyuap panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara—yang artinya Saipul Jamil layak juga diberi label “penyintas korupsi” versi KPK, dan bisa mengedukasi soal bahaya korupsi (atau suap).

Saya tidak tahu bagaimana orang-orang dengan pikiran keblinger seperti ini sampai ke puncak-puncak kekuasaan di negeri ini. Mereka adalah pembuat kebijakan. Dalam hidup bernegara mereka adalah orang-orang yang membuat “common good” atau kebaikan bersama untuk semua orang di negara ini.

Tidakkah mereka mengerti makna dari edukasi atau pendidikan? Bukankah untuk mengerti kejahatan kita tidak perlu belajar dari penjahat? Kita punya ahli-ahli yang tahu semua hal tentang kejahatan mulai dari sebab musababnya hingga ke taktik dan tekniknya?

Para ahli itu bukan penjahat. Umumnya, mereka orang baik-baik. Bahkan banyak edukator didiskualifikasi dari jabatannya sebagai pendidik kalau ia berbuat kejahatan.

Bukankah pelaku kejahatan itu harus disisihkan dari hidup masyarakat umum karena ia merusak “civic bonum” itu sendiri? Lantas, mengapa orang harus belajar dari dia?

Pejabat-pejabat kita yang punya pikiran keblinger ini bahkan ingin membaliknya. Mereka ingin penjahat menjadi edukator? Ide yang menurut saya sinting setengah mati. Namun pejabat-pejabat itu ada, berlipat ganda, dan bahkan makin berkuasa.

Di Amerika Serikat, sejauh yang saya tahu, predator seksual seperti Saipul Jamil itu akan dicatat domisilinya. Kalau Anda mencari di mesin pencari dan mengetik “registered sex offenders” dan sebut nama kota dan negara bagian, niscaya Anda akan mendapati nama dan alamat mereka. Ini adalah kejahatan yang serius!

Orang-orang seperti Saipul Jamil itu berbahaya karena menurut data dia punya kecenderungan untuk mengulang perbuatannya. Itulah sebabnya orang-orang seperti dia diumumkan ke publik.

Sialnya, harga properti di sekitar tempat tinggal orang-orang seperti itu cenderung turun. Bahkan sesudah dia menjalani hukuman pun residivis tindak pelecehan seksual masih membikin susah masyarakat kebanyakan.

Kembali ke ide untuk menjadikan para penjahat ini, entah dia penjahat seksual atau maling/garong uang milik masyarakat, sebagai edukator atau bagian dari edukasi membuat kita bertanya-tanya: bagaimana pikiran keblinger itu lahir?

Saya mencurigai dua hal. Pertama, kekuatan para penjahat itu sendiri dengan dengan segala macam daya dukungnya.

Saipul Jamil didukung oleh industri entertainment negeri ini dan stasiun-stasiun televisi. Bahkan KPI, yang oleh publik hanya dikenal dengan kebiasaannya melarang dan menyensor tiba-tiba kini berbalik menjadi lembaga yang memperbolehkan.

Untuk KPK, saya menduga bahwa semua koruptor ini adalah orang-orang berpengaruh. Mereka adalah para politisi. Para pengelola dan pemain kekuasaan.

Dalam kondisi di mana independensi dan kekuatan KPK yang semakin keropos dimakan kanker dari dalam, adakah sesuatu yang mengherankan kalau mereka berusaha menjilat kepada orang-orang hukuman yang mendudukkan para komisioner ini di tempat mereka sekarang?

Yang kedua adalah kegagalan pendidikan di negeri ini sudah pada level yang amat menyengsarakan. Dari manakah para pejabat ini belajar? Dari para penjahat?

Dilihat dari ide-ide KPI dan KPK belakangan ini, saya mau tidak mau seperti dipaksa menduga demikian.

Sungguh ada yang sangat salah di republik ini sehingga orang-orang yang seharusnya menegakkan kebaikan umum tersebut justru berpikir untuk memutihkan kejahatan.

Terus terang, saya cemas menyadari itu. Cemas. Cemas sekali. Tidak tahu kalau Anda.

BACA JUGA Brutalnya Hidup di Negara kayak Indonesia: Negara ‘Survival of The Fittest’ dan tulisan Made Supriatma lainnya.

Terakhir diperbarui pada 13 September 2021 oleh

Tags: kpiKPKpelecehan seksualpemerkosapenyintas korupsipredator seksualSaipul Jamil
Made Supriatma

Made Supriatma

Peneliti dan jurnalis lepas.

Artikel Terkait

Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara
Ragam

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
Toilet umum di Jakarta saksi bejat laki-laki otak mesum MOJOK.CO
Urban

Toilet Umum di Jakarta Jadi Tempat Cowok Tolol Numpang Masturbasi, Cuma karena Nonton Girl Band Idola dan Alasan Capek Kerja

10 Februari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO
Esai

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Dosen UNIMA diduga lakukan kekerasan seksual ke mahasiswi FIPP hingga trauma dan bunuh diri MOJOK.CO
Aktual

Trauma Serius Mahasiswi UNIMA akibat Ulah Menjijikkan Oknum Dosen, Tertekan hingga Gantung Diri

2 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
7 buah legendaris dalam game Blox Fruits yang jadi incaran MOJOK.CO

7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

24 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026
Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.