Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ramadan Terasa Sama Saja, di Tokyo Maupun Jakarta

Hasanudin Abdurakhman oleh Hasanudin Abdurakhman
17 Mei 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – 1 Ramadan di Tokyo tak jauh beda dengan Jakarta. Padahal Tokyo ada di negara kafir. Eh, memangnya Jakarta tidak?

Terakhir kali saya menyambut Ramadan di Jepang adalah tahun 2006. Itu tahun kesepuluh masa tinggal saya di Jepang. Tahun ini kebetulan saya mendapat tugas ke Jepang cukup lama, yaitu 3 minggu. Setelah 12 tahun berlalu, saya kembali merasakan suasana menyambut bulan puasa di Jepang lagi. Orang Jepang akan mengatakan, juninen buri.

Tempat tugas saya tak jauh dari stasiun Shibuya. Tempat menginap saya, sebuah apartemen kecil juga tak jauh dari stasiun itu. Shibuya adalah bagian dari jantung kota Tokyo. Ini kawasan yang padat dengan gedung-gedung perkantoran. Stasiun Shibuya merupakan salah satu stasiun yang sangat ramai di Tokyo, setara dengan stasiun lain seperti Shinjuku, Tokyo, Shinagawa, dan lain-lain.

Pusat kota adalah pusat bisnis. Begitulah adanya Shibuya, Shinjuku, Shinagawa, dan sebagainya itu. Daerah ini dipadati oleh gedung-gedung perkantoran, juga tempat-tempat belanja, kuliner, dan hiburan malam. Orang-orang bekerja, malam hari mereka bersantai, makan dan minum bersama rekan kerja, rekan bisnis, atau teman-teman pribadi. Usai makan ada pula yang mencari hiburan.

Petang kemarin saya pulang dari tempat kerja pukul 6 petang. Ada kawan lama, orang Jepang yang sudah saya kenal lebih dari 20 tahun, mengajak bertemu dan makan malam bersama. Setiap kali saya ke Tokyo kami selalu bertemu. Saya memang selalu bertemu dengan kawan-kawan lama, setiap kali saya ke Jepang. Jadi, usai kerja, saya langsung menuju restoran yang sudah ditentukan oleh kawan saya tadi, untuk makan malam.

Sepanjang jalan menuju restoran, saya melewati kawasan kedai minum. Orang Jepang menyebutnya shotengai. Di situ berjajar restoran-restoran dengan aneka masakan. Juga ada izakaya (kedai sake), bar, panti pijat, klub malam, hotel short time, dan sebagainya.

Kok kedengarannya mesum? What do you expect? Ini Tokyo, Bung! Kan, negeri kafir.

Tapi, sebaiknya jangan gampang bilang ini kafir, itu kafir. Coba kita tengok Jakarta. Apa yang tidak ada di Jakarta? Nyatanya sama saja. Bahkan dalam beberapa sisi, Jakarta lebih gila. Di Jepang secara resmi pelacuran itu dilarang sehingga tempat-tempat hiburan yang menyediakan jasa layanan seksual tegas-tegas menyatakan “tidak menyediakan layanan sanggama“. Mereka menyebutnya honban koi, layanan menu utama.

Lha terus ngapain dong? Ya, dilayani pakai tangan, mulut, atau bagian apa saja, yang penting tidak masuk ke “menu utama”. Sejauh mana ketentuan itu dipatuhi, saya tidak tahu karena tidak pernah mencobanya. Kalaupun pernah, tentu tidak akan saya nyatakan di sini.

Sedangkan di Jakarta, situasi justru lebih parah karena terbalik. Panti pijat menyediakan layanan seksual secara lengkap. Tidak hanya panti pijat, salon-salon juga banyak yang begitu. Secara resmi di negara kita pelacuran juga dilarang, tapi mencari jasa pelacuran di Jakarta semudah mencari penjual tempe mendoan. Eh, maaf, salah. Sebenarnya lebih sulit mencari penjual tempe mendoan.

Menghabiskan malam 1 Ramadan di Shibuya juga terasa sama seperti di Jakarta. Sama-sama tempat yang heterogen. Ada yang puasa, ada yang tidak. Ada yang minum minuman keras, ada yang tidak. Di tempat heterogen, semuanya boleh ada. Dalam bahasa Inggris disebut co-exist.

Pada kawasan industri lendir di daerah Shinjuku bahkan terdapat sebuah masjid. Itulah co-exist tadi. Yang mau cari hiburan sampai berlendir, silakan. Yang mau ibadah, silakan. Jangan saling mengganggu.

Apakah itu tidak mengganggu kesucian masjid? Tidak. Yang akan mengganggu adalah apabila kamu, ya kamu, sehabis salat di masjid lalu mampir ke tempat berlendir atau sebaliknya, sehabis mengeluarkan lendir lalu masuk masjid. Dua amaliah yang berbeda 180 derajat itu tidak boleh co-exist dalam dirimu.

Seputar berbagai larangan untuk menghormati orang yang berpuasa, ada beberapa kekonyolan Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia.

Iklan

Misal, selama puasa, panti pijat harus tutup. Bukankah itu menegaskan bahwa panti pijat itu selama bulan bukan Ramadan adalah tempat pelacuran, bukan panti pijat? Selama 11 bulan dalam setahun, mereka boleh beroperasi dengan melanggar izin yang diberikan pemerintah. Kita diam-diam mengakui itu.

Kenapa harus tutup selama Ramadan? Ya, tutupnya tempat-tempat itu adalah pernyataan tersirat bahwa banyak dari kita yang sebenarnya menjalankan amal-amal yang berlawanan tadi secara co-exist. Ibadah jalan, maksiat juga jalan. Cuma, selama bulan puasa ini ya istirahat dululah maksiatnya. Nanti kalau sudah lebaran, tancap lagi. Atau kita menjadikan Ramadan sebagai musim ibadah. Ibadahnya ya cuma selama Ramadan.

Sebagaimana tetap bukanya kedai-kedai minum, tak ada orang yang peduli kalau kita puasa di Tokyo. Jangankan peduli, tahu juga tidak. Mereka makan dan minum seperti biasa. Karena ini Tokyo? Tidak juga. Di Jakarta juga begitu. Banyak orang tidak puasa, baik karena mereka bukan muslim, juga karena mereka muslim yang tidak mau berpuasa. Mereka boleh makan dan minum, tanpa kita perlu meminta penghormatan. Yaelah, puasa aja minta dihormati. Masih ngiler kalau lagi puasa melihat orang makan? Emang umurmu berapa sih?

Terakhir diperbarui pada 17 Mei 2018 oleh

Tags: jakartapanti pijatPuasaRamadanShibuyasuasana ramadantidak puasaTokyo
Hasanudin Abdurakhman

Hasanudin Abdurakhman

Artikel Terkait

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO
Sehari-hari

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi MOJOK.CO

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

26 Februari 2026
produk indomaret, private label.MOJOK.CO

Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan

24 Februari 2026
Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali

27 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.