Cepat lulus tidak berarti cepat mahir
Di dunia pendidikan formal, saya terbiasa dengan tahapan yang jelas. Ada tugas, ujian, nilai, kemudian semester berikutnya. Selama seluruh ketentuan terpenuhi, saya bisa melaju.
Pengalaman kerja lebih sulit diajak bernegosiasi.
Saya perlu menghadapi kelas yang berbeda-beda, mencoba pendekatan, melihat hasilnya, lalu memperbaiki kekurangan. Kadang saya baru mengetahui respons yang lebih tepat setelah telanjur merespons dengan cara lain.
Tidak ada mata kuliah “Pengalaman Mengajar Lanjutan” sebanyak enam SKS yang bisa saya ambil agar tahun depan langsung setara dengan guru yang sudah mengajar selama bertahun-tahun.
Kalau pengalaman bisa disetarakan dengan jumlah malam yang dihabiskan untuk begadang, saya mungkin akan segera mengajukan konversi. Bukti pendukungnya lumayan banyak. Sayangnya, mengerjakan revisi tesis sambil mengantuk tidak otomatis membuat saya tahu cara menangani kelas.
Melihat guru yang lebih berpengalaman, saya mulai menghargai proses panjang di balik kemampuan mereka. Mereka telah menghabiskan waktu untuk mencoba, keliru, mengevaluasi diri, lalu mencoba lagi.
Saya masih menjalani bagian awal proses itu. Wajar apabila saya masih banyak bertanya. Yang agak tidak wajar adalah berharap bisa cepat mahir hanya karena selama ini terbiasa cepat lulus.
Tidak semua keberhasilan harus dipercepat
Saya tidak menyesal mengambil program fast track S2. Kesempatan itu berharga dan saya senang bisa menjalaninya.
Namun, setelah mengajar, saya kadang membayangkan bagaimana rasanya menempuh S2 setelah memiliki pengalaman kerja.
Mungkin saya akan lebih sering berpikir, “Oh, teori ini bisa dipakai untuk persoalan di kelas saya.” Pertanyaan kepada dosen barangkali juga lebih konkret karena saya sudah membawa kebingungan dari sekolah.
Bukan sekadar bertanya karena suasana kelas sudah hening selama tiga puluh detik dan dosen menunggu seseorang mengangkat tangan.
Namun, saya juga tidak tahu apakah jalur itu pasti lebih baik. Bisa saja kalau bekerja terlebih dahulu, saya malah terlalu lelah untuk melanjutkan kuliah.
Pulang mengajar sudah ingin rebahan, tetapi masih harus membuka jurnal. Membayangkannya saja membuat saya ingin meminta perpanjangan waktu pengumpulan tugas.
Program fast track S2 bukan pilihan yang keliru
Karena itu, saya tidak ingin menyimpulkan bahwa semua orang sebaiknya menunda S2. Saya juga tidak menganggap program fast track S2 sebagai pilihan yang keliru. Saya hanya mulai berhenti menganggap cepat sebagai ukuran utama keberhasilan.
Lulus S2 pada usia 23 tahun tetap menjadi sesuatu yang saya syukuri. Pada usia 24 tahun, ada hal lain yang ingin saya usahakan: mengajar dengan lebih baik, memahami murid, dan tidak menghakimi diri sendiri setiap kali membutuhkan bantuan.
Gelar saya sudah lebih dahulu sampai. Sekarang giliran kemampuan saya menyusul dengan kecepatan yang rupanya tidak selalu bisa saya tentukan.
Kalau ada yang bertanya apakah program fast track S1–S2 layak diambil, saya akan menjawab bahwa kesempatan itu patut dipertimbangkan. Hanya saja, jangan mengira selesai lebih cepat berarti sesudahnya kita tinggal duduk manis.
Saya sudah membuktikannya sendiri. Lulus boleh melalui fast track. Begitu masuk ke ruang guru, saya tetap harus berkata, “Pak, Bu, saya mau tanya.”
Penulis: Sekar Tri Widati
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Lulusan S2, Masuk Desil 5, dan Tetap Hidup Pas-pasan di Pacitan