MOJOK.CO – Gelar S2 dan berbagai pengalaman profesional ternyata belum cukup membuat hidup saya mapan, tapi saya masuk desil 5.
Belakangan ini saya mulai bersahabat dengan satu istilah yang sebelumnya tidak terlalu saya pedulikan: desil.
Istilah itu mendadak terasa dekat karena bukan lagi sekadar angka dalam tabel statistik. Desil ikut menentukan bagaimana kondisi ekonomi seseorang dibaca oleh pemerintah dan apakah orang tersebut berhak memperoleh bantuan sosial.
Sederhananya, kondisi sosial-ekonomi masyarakat dikelompokkan ke dalam sepuluh desil. Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, sedangkan Desil 10 ditempati kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi.
Data tersebut kemudian digunakan sebagai salah satu dasar untuk menentukan sasaran berbagai program bantuan sosial.
Di Pacitan, desil bukan perkara yang jauh dari kehidupan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Pacitan mulai memperkuat penerapan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) agar data masyarakat lebih akurat dan bantuan sosial dapat diberikan secara tepat sasaran.
Badan Pusat Statistik mencatat, pada 2025 masih ada 72,47 ribu penduduk Pacitan atau sekitar 12,97 persen dari total penduduk yang masuk kategori miskin. Angkanya memang turun dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, statistik kemiskinan hanya menceritakan sebagian dari kehidupan masyarakat. Seseorang yang tidak masuk kategori miskin belum tentu hidup berkecukupan.
Hidup dengan UMK Pacitan yang terendah
Hal lain yang menarik ketika membicarakan kondisi ekonomi Pacitan adalah tingkat upah. Pada 2026, Upah Minimum Kabupaten (UMK) Pacitan ditetapkan sebesar Rp2.514.892 per bulan.
Angka tersebut menjadi yang paling rendah di antara kabupaten dan kota di kawasan eks Karesidenan Madiun.
Sebagai perbandingan, UMK Ngawi mencapai Rp2.556.815, Magetan Rp2.553.866, Kabupaten Madiun Rp2.553.221, dan Ponorogo Rp2.549.876.
Selisihnya memang tidak sampai ratusan ribu rupiah. Namun, angka tersebut dapat memberi gambaran mengenai sempitnya ruang ekonomi pekerja di Pacitan.
Dengan penghasilan sekitar Rp2,5 juta, seseorang harus memenuhi kebutuhan makan, transportasi, tempat tinggal, listrik, pendidikan, dan kebutuhan keluarga.
Itu pun jika ia memperoleh pekerjaan yang membayar sesuai UMK. Kenyataannya, masih ada tempat kerja yang memberikan upah jauh di bawah ketentuan tersebut.
Dalam kondisi seperti itu, orang yang secara statistik tidak masuk kategori miskin belum tentu terbebas dari kesulitan ekonomi. Ia mungkin tidak tergolong miskin, tetapi juga tidak pernah benar-benar merasa aman.
Saya lulusan S2, tetapi masuk Desil 5
Saya merupakan lulusan S2 dari salah satu kampus negeri di Solo. Namun, dalam pemetaan kondisi sosial-ekonomi, saya masuk Desil 5.
Kalau hanya melihat angka lima dari sepuluh, posisi saya mungkin tampak aman. Saya tidak berada dalam kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, tetapi juga belum masuk kelompok paling tinggi. Tepat di tengah-tengah.
Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Dalam sejumlah skema bantuan sosial, masyarakat yang berada di Desil 5 masih dapat diusulkan sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan atau PBI-JK.
Artinya, masuk Desil 5 tidak otomatis menandakan seseorang sudah mapan atau mampu menanggung seluruh kebutuhan hidupnya sendiri.
Kondisi ekonomi saya pun boleh dibilang serba pas-pasan. Padahal, CV dan portofolio saya tidak buruk-buruk amat.
Saya menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 dengan beasiswa penuh, memiliki pengalaman di bidang film, menulis buku, menjadi reviewer, mengerjakan berbagai pekerjaan kreatif, dan menjalani sejumlah pengalaman profesional lainnya.
Sayangnya, mencari pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi tidak semudah yang dibayangkan.
Di atas kertas, saya mungkin terlihat cukup berpendidikan. Dalam kehidupan nyata, pendidikan itu belum tentu laku di pasar kerja. Gelar S2 tidak otomatis mendatangkan pekerjaan dengan penghasilan tinggi.
Pengalaman profesional juga tidak selalu menjadi tiket emas untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Apalagi kalau harus bersaing dengan orang-orang yang memiliki koneksi lebih kuat.
Pada akhirnya, kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi, pekerjaan harus terus dicari, dan masa depan tidak pernah benar-benar terasa aman.
Saya memang bukan bagian dari Desil 1. Namun, berada di Desil 5 juga tidak serta-merta membuat hidup terasa mapan dan stabil.
Dari sana saya mulai memahami bahwa angka desil tidak selalu sama dengan perasaan seseorang terhadap kondisi ekonominya.
Seseorang dapat dianggap berada di kelompok menengah secara statistik, tetapi tetap harus menghitung setiap pengeluaran dengan ketat agar bisa bertahan sampai akhir bulan.
Baca halaman selanjutnya