Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Agar Para Pejuang Twitter Tetap Sehat dan Bahagia

Ilham Latul Qadari oleh Ilham Latul Qadari
29 April 2015
A A
Agar Para Pejuang Twitter Tetap Sehat dan Bahagia

Agar Para Pejuang Twitter Tetap Sehat dan Bahagia

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Indonesia terlampau riuh hari ini. Berbagai masalah membuat setiap jengkal linimasa kita tak lepas dari perdebatan. Baik yang hanya sekadar iseng-iseng, sampai ke tahap panas-panasan.

Hal itu tentu tidak baik dan tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Apalagi untuk membahas masalah yang itu-itu saja. Padahal ada banyak sekali masalah lain yang perlu diperdebatkan (atau harusnya diselesaikan, karena tukang twitwar ini sebenarnya tidak pernah menyelesaikan masalah). Semisal masalah pemerataan pendidikan, pasokan air bersih, atau hati fakir asmara yang kian lama kian menyedihkan.

Tapi ya memang dasarnya orang Indonesia ini pintar-pintar. Sampai dunia kiamat pun perdebatan-perdebatan itu tak akan pernah habis. Apalagi hari-hari belakangan, muncul banyak topik yang aduhai sekali untuk dieksekusi sebagai twit-twit debat. Sebut saja kasus hukuman mati, rencana lokalisasi PSK, PSSI vs Menpora, serta sekian ratus masalah lain yang tak kunjung selesai.

Berbekal itu, tentu kurang afdol bila Mojok Institute tak berbuat sesuatu. Sesuatu dalam arti sebagai pengingat. Karena kita sudah tahu sejak dalam pikiran, 20 dari 25 akun yang berdebat di twitter, bisa dipastikan adalah jomblo-jomblo intelektual. Jika Pak Ustad Felix Siauw adalah pejuang Khilafah, maka teman-teman kita ini adalah pejuang hak-hak hidup orang banyak. Tapi di sinilah bahaya latennya; ketika mereka sibuk memperjuangkan kesejahteraan umat, tanpa mereka sadari perut mereka sendiri kadang sudah sekarat. Hal itu bisa dimaklumi, karena tak ada yang mengingatkan mereka tentang cara hidup yang sehat. Lha iya, kan jomblo…

Maka, perkenankanlah Mojok Institute untuk mengambil alih tugas mulia guna mengingatkan para pejuang kita ini agar tidak kelewat batas. Sebab jika orang-orang ini sakit, siapa lagi yang akan kita banggakan? Dan langsung saja, inilah hal-hal yang perlu diperhatikan pejuang twitter kita agar tetap sehat dan bahagia.

1. Makan Makanan yang Bergizi

Perkara gizi ini harus di urutan pertama. Keseringan marah-marah kadang membuat kita lupa makan. Bahkan mau minum saja bisa enggak mood. Maka dari itu, teman-teman pejuang kesejahteraan jangan lupa untuk makan-makanan yang masuk kategori 4 sehat 5 sempurna. Juga janganlah karena lagi asik berdebat di timeline, lalu maunya yang instan-instan. Sangat bahaya jika hari-hari para pejuang kesejahteraan kita dihabiskan dengan bermangkuk-mangkuk indomie yang memang tidak butuh waktu lama untuk dimasak. Pokoknya harus sehat.

2. Jangan Lupa Piknik

Alhamdullilah, pemerintah sekarang sudah paham betapa pentingnya taman kota. Ini hal yang bagus karena memang kebanyakan rakyat Indonesia mudah terserang penyakit stres. Dan taman adalah salah satu sarana yang tepat bagi teman-teman kita di atas untuk rehat sejenak dari desas-desus media sosial. Hal ini tentu akan mengurangi perasaan gelisah dan wagu, lalu dari piknik akan lahir pikiran-pikiran positif. Saran saya, agar piknik lebih khidmat, bawalah anak-anak kecil semisal ponakan, anak tetangga, atau balita-balita gemes yang gak sengaja nemu di jalan. Bawa mereka main apa saja di taman, lalu setelah mereka merasa lelah dan ingin tidur, ada baiknya Anda ucapkan kata-kata ini di telinganya: “Kalau udah gede jangan main Twitter ya…”

3. Bersosialisasi dengan Masyarakat

Ini tak kalah penting. Kebanyakan memegang gajet beresiko membuat kita melupakan dunia sekitar. Media sosial dapat membuat beberapa orang jadi kurang bergaul di lingkungan nyata. Akhirnya, ketika ia dalam masalah, akan sulit minta bantuan. Tentu gak mungkin minta tolong sama teman-teman di twitter karena selain mungkin beda kota, mereka pun bisa jadi hanya peduli sebatas dunia Twitter. Tidak lebih dari itu. Maka ada baiknya para ahli twitwar kita memperhatikan masalah pergaulan sosial. Sesekali sapalah Pak RT, juga jangan lupa melempar senyum kepada ibu-ibu di samping rumah. Ini langkah yang baik untuk membuka persahabatan. Syukur-syukur bisa dapat jodoh.

4. Baca Mojok.co

Jika ketiga langkah di atas dianggap terlalu berat, Anda hanya perlu melakukan langkah keempat ini. Lho, jangan kaget. Mojok sepertinya memang didesain untuk memenuhi semua kriteria diatas. Kalau Anda lapar, tinggal buka tulisan-tulisan kuliner, niscaya kenyang sampai seminggu. Kalau kurang piknir, tinggal baca tulisan-tulisan Gus Mul. Kalau merasa kurang bersosialisasi, tinggal melipir ke kolom komentar. Konon interaksi di sana terasa lebih nyata daripada tempat manapun di dunia. Ntap, kan?

Itulah kiat-kiat untuk teman-teman yang sering berdebat di twitter agar bisa tetap sehat dan bahagia. Ingat, Presiden belum setahun memimpin. Itu artinya, sekian banyak masalah baru akan terus bermunculan. Teman-teman harus mempersiapkan itu semua. Belilah makanan yang sehat untuk menemani hari-hari yang panjang dan penuh amarah. Telepon ibu Anda jika merasa lawan twitwar dianggap terlalu menyiksa, dan jangan lupa salat.

Iklan

Tapi saya yakin teman-teman kita ini pada suatu hari pasti lelah. Mungkin itu adalah saat di mana mereka sadar bahwa perdebatan-perdebatan sengit itu tak membawa kita ke mana-mana. Sebab siapalah kita ini, hanya pengguna Twitter yang 10 dari 9 followernya adalah akun bot online shop. 🙁

Terakhir diperbarui pada 1 November 2018 oleh

Tags: Agus MulyadiBahagiaSehattwitter
Ilham Latul Qadari

Ilham Latul Qadari

Artikel Terkait

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif
Video

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

20 Maret 2026
Mempertanyakan ‘Marriage is Scary’ Bersama Lya Fahmi dan Agus Mulyadi di Festival Mojok 2024
Video

Mempertanyakan ‘Marriage is Scary’ Bersama Lya Fahmi dan Agus Mulyadi di Festival Mojok 2024

26 Oktober 2024
Katharina Stögmüller Belajar Sirkus Pernikahan dari Agus Mulyadi
Video

Katharina Stögmüller Belajar Seni Memahami Kekasih dan Sirkus Pernikahan dari Agus Mulyadi

3 September 2024
Dokter gadungan Susanto
Video

Dokter Gadungan Susanto Tak Lulus SMA Karena Palsukan Rapor

21 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Gagal kuliah di PTN karena tidak lolos SNBP, padahal masih ada jalur SNBT dan UM UGM

Keterima ITS tapi Tak Diambil demi Nama Besar UGM, Malah Merasa Bodoh karena Gagal SNBP padahal Hanya Seleksi “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tak Pasti Aman

1 April 2026
kuliah s2.MOJOK.CO

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Kaya dari Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.