Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mahasiswa Diskors 6 Bulan usai Laporkan Rektor Unnes ke KPK Tunjukkan Betapa Penting Menjaga Nama Baik Kampus Itu

Ang Rijal Amin oleh Ang Rijal Amin
18 November 2020
A A
Mahasiswa Diskors 6 Bulan usai Laporkan Rektor Unnes ke KPK Tunjukkan Betapa Penting Menjaga Nama Baik Kampus Itu

Mahasiswa Diskors 6 Bulan usai Laporkan Rektor Unnes ke KPK Tunjukkan Betapa Penting Menjaga Nama Baik Kampus Itu

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seorang mahasiswa harus diskors selama 6 bulan oleh Dekan Fakultas Hukum Unnes karena laporkan Rektor Unnes ke KPK.

Kalau saja Presiden Joko Widodo tiba-tiba dapat ilham untuk melakukan reshuffle menteri dalam waktu dekat ini, maka nama yang paling saya jagokan adalah Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Fathur Rokhman.

Kepantasan bapak-bapak yang satu ini untuk menyandang jabatan menteri bukan saja karena memiliki nama Fathur yang artinya bersemangat, terutama di bidang pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, tetapi blio juga mewarisi semangat api layaknya Uchiha Itachi yang rela mengorbankan reputasi dirinya untuk melindungi sesuatu yang dianggap berharga.

Kalau Itachi rela melakukan pembantaian klan Uchiha hanya untuk melindungi Desa Konoha dari pertumpahan darah dengan konsekuensi namanya menjadi buruk di mata seluruh penduduk, sekaligus siap dimasukkan ke dalam daftar ninja buronan tingkat S, maka Rektor Unnes layak disandingkan dengan kepahlawanan Itachi yang mulia tanpa pamrih tersebut.

Bagaimana tidak, Pak Rektor tanpa pamrih kepada siapa pun, termasuk kepada Jokowi, rela “merumahkan” salah seorang mahasiswa yang telah melaporkan dirinya ke KPK atas dugaan terjadinya korupsi dengan alasan menjaga nama baik kampus.

Pak Rektor Unnes sendiri sudah membantah tudingan tersebut. Menurutnya, Unnes selalu mendapat perolehan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK dalam setiap tata kelola keuangan sebelum-sebelumnya.

Masalah-masalah yang menimpa Rektor Unnes ini jelas bukan persoalan sepele. Sebab, siapa pun yang menjadi rektor, maka harus membuktikan bahwa dirinya amat sayang dengan kampusnya, menyayangi kampus juga berarti menyayangi mahasiswa yang ada di dalamnya.

Praktis, hal ini adalah sebentuk kepahlawanan sebagaimana yang dilakukan Itachi, di mana Bapak Rektor siap menjadi sorotan. Dan memilih untuk melindungi nama baik kampus dibanding mengakomodir mahasiswa yang hanya seorang saja itu merupakan alasan yang sangat masuk akal.

Bukankah kepentingan yang lebih besar harus diutamakan daripada kepentingan yang lebih kecil?

Wah, selain menguasai ilmu budaya yang menjadi fokus kajiannya pada program S-3 di UGM, Bapak ini juga piawai menggunakan kaidah fikih dalam kepemimpinannya yang mengatakan bahwa, “Kepentingan umum harus diprioritaskan daripada kepentingan individu (al-maslahah al-ammah muqaddam ‘ala al-maslahah al-fardiyyah).”

Dan tentu saja saya sepakat dengan Pak Rektor Unnes, kalau nama baik kampus yang bebas dari citra buruk dugaan perbuatan korupsi lebih berharga ketimbang seorang mahasiswa yang punya komitmen dalam pencegahan korupsi.

Lah iya, ingat kata pepatah, “Karena nila setitik, rusak susu sebelangga.”

Nah, hanya karena dugaan korupsi yang dilakukan satu orang, maka rusak pula citra satu kampus.

Bayangkan saja nasib mahasiswa Unnes lainnya yang kerjaannya hanya duduk, dengar, diam dan tidak peduli dengan nasib kampusnya tiba-tiba ditanya sama ibu kos, “Rektormu kena masalah lagi a?”

Iklan

Nah, bayangkan saudara-saudara, mau dijawab apa coba? Anda kira tidak malu jadi mahasiswa yang tidak tahu apa-apa dengan kampusnya sendiri? Anda kira tidak malu punya kampus yang bahan pergunjingan se-Indonesia raya?

Itu baru mahasiswa, bagaimana dengan dosen? Bayangkanlah dosen fakultas hukum tempat si mahasiswa belajar sedang asyik mengisi seminar tentang korupsi pasca-reformasi yang terdesentralisasi tidak hanya mengalir ke daerah-daerah, tapi juga institusi pemerintahan. Coba pikir saja, jadi nggak tuh seminar? Apalagi kalau diselenggarakannya di Unnes.

Maka, kebodohan macam apa yang mengira kalau citra kampus itu bukan kemaslahatan umum?

Tidak, saya tidak bermaksud mengatakan kalau pemberantasan korupsi itu tidak penting. Tetapi saya hanya ingin Anda bijak dalam menilai kesalehan Pak Rektor Unnes, apalagi kita tahu kalau sudah banyak sekali pihak yang hendak merusak reputasinya, sekaligus merusak reputasi Unnes pula.

Beberapa waktu yang lalu, bangsa ini hampir sepakat mengira kalau sebagian isi dari disertasi doktoral yang dilakukan oleh Pak Rektor Unnes merupakan hasil plagiasi. Media sekelas Tirto.id pernah meneliti disertasi tersebut dan ada beberapa bagian yang diduga hampir mirip dengan dua skripsi mahasiswa bimbingan Pak Rektor sendiri.

Meskipun berbagai pembuktian telah menunjukkan kalau tudingan itu sangat masuk akal, tetap saja pada akhirnya kebenaran mengalahkan kebatilan, tuduhan itu tidak jadi terbukti karena ada SK yang dikeluarkan oleh Rektor UGM soal disertasi tersebut. Tanpa perlu penjelasan mendetail dan berbusa-busa, tiba-tiba kasus ini selesai begitu saja.

Apalagi setelah pelapor yang menduga adanya plagiasi ini mendadak diperkarakan balik oleh Rektor Unnes dengan ancaman pasal pencemaran nama baik. Alhamdulillah, selesai dengan cara yang arif nan bijak sekali dengan cara kekeluargaan. Harta yang paling berharga bagi pejabat-pejabat Indonesia di luar sana.

Kita tentu patut bersyukur telah hidup sezaman dengan Pak Rektor Unnes yang begitu tegar menghadapi gelombang kebencian. Dan uniknya, kok bisa ada orang yang tidak suka kepada beliau? Ngapain sih? Dengki ya?

Ah, tapi itu tidak penting. Karena yang terpenting adalah semangat api yang ada dalam tubuhnya, dan bagaimana ia melindungi reputasi diri dan nama baik kampusnya.

Barangkali, berkaitan dengan semangat anti-korupsi yang sering diteriakkan itu, Anda akan kesusahan menerima logika Bapak Rektor yang harus “merumahkan” seorang mahasiswa lewat Dekan Fakultas karena mengadukan korupsi adalah hak masyarakat dan dilindungi UU.

Apalagi gara-gara perbuatannya itu, lagi-lagi Pak Rektor Unnes harus berurusan dengan masyarakat setelah sikapnya ditentang oleh KPK. Tapi tenang saja Pak Rektor Unnes, untuk urusan ini biar saya yang menjelaskan.

Begini ya masyarakat, Semarang itu terkenal dengan paradigma hukum progresif. Alhasil, kampus-kampus Semarang seperti Unnes adalah ahli waris paradigma yang dicetuskan Sartjipto Rahardjo itu.

Nah, hukum progresif itu adalah hukum yang mengritik positivisme yang mengakar dalam tradisi berhukum Indonesia, dengan membawa tawaran menarik yakni “melampaui bunyi teks hukum” sebab keadilan tidak tersandera dalam teks.

Oleh karena itu, perbuatan Rektor Unnes yang telah melampaui teks hukum yang melindungi si mahasiswa tersebut merupakan tindakan progresif yang beliau lakukan. Tidak peduli dilindungi UU, terabas saja dulu, kira-kira begitu.

Toh, keadilan itu terletak pada nama baik, bukan pada perjuangan seorang mahasiswa.

Ingat, nama baik Pak Rektor Unnes itu memengaruhi nama baik kampus, nama baik kampus memengaruhi nama baik Semarang, nama baik Semarang memengaruhi nama baik Indonesia.

Maka, ketika Pak Rektor Unnes telah berjuang sepanjang itu demi bangsa dan negara, tentu saja jabatan menteri sangat layak diberikan padanya. Apalagi Rektor Unnes terbukti kokoh dan paling “hehehe” di antara rektor-rektor lainnya.

BACA JUGA Bukan Undip atau Unnes, Kampus Paling Unggul di Semarang Adalah UIN Walisongo dan tulisan Ang Rijal Amin lainnya.

Terakhir diperbarui pada 18 November 2020 oleh

Tags: KampuskorupsiKPKPlagiatrektor unnesUGM
Ang Rijal Amin

Ang Rijal Amin

Anggota komunitas literasi Ma Lino. Tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO
Edumojok

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO
Edumojok

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026
Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO
Edumojok

Anak dari Pulau Bangka Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Jadi Wisudawan Terbaik, bikin Orang Tua Bangga dengan Gelar Sarjana Akuntansi

6 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Orang Jombang iri dengan Tuban, daerah tetangga sesama plat S yang semakin gemerlap dan banyak wisata alam buat healing MOJOK.CO

Sebagai Orang Jombang Saya Iri sama Kehidupan di Tuban, Padahal Tetangga tapi Terasa Jomplang

12 Maret 2026
Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa Mojok.co

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

19 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Tak Sudi Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026
Sesal suka menolong orang lain usai ketemu lima jenis orang yang tidak layak ditolong meski kesusahan. Dari tukang judi slot hingga orang susah bayar utang MOJOK.CO

Kapok Suka Menolong Orang Lain usai Ketemu 4 Jenis Manusia Sialan, Benar-benar Nggak Layak Ditolong meski Kesusahan

12 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.