Absensi digital yang menjadi penghakiman
Dalam peristiwa meninggalnya Lula Lahfah yang merupakan kekasih Reza Oktovian atau Reza Arap, perhatian publik bergeser dari almarhum ke orang-orang di sekitarnya. Muncul pertanyaan yang berulang dan agresif: mengapa pasangan tidak memposting apa pun?
Mengapa seseorang terlihat tersenyum di foto pemakaman? Seolah-olah kesedihan hanya sah jika ditampilkan secara publik dan konsisten secara visual.
Yang lebih problematis, warganet mulai melakukan absensi kolektif. Dalam peristiwa meninggalnya Lula Lahfah, warganet melakukannya dengan cara yang irasional.
Dari foto-foto yang beredar, publik menghitung siapa yang hadir dan siapa yang absen. Kehadiran fisik direduksi menjadi bukti visual, sementara relasi emosional dinilai dari visibilitas di linimasa.
Bahkan ekspresi wajah pelayat menjadi objek tafsir moral. Foto seseorang yang tertangkap kamera sedang tersenyum, tanpa konteks waktu, situasi, atau kondisi psikologis, diperlakukan sebagai kebenaran utuh tentang perasaan seseorang. Kompleksitas emosi manusia disederhanakan menjadi hitam atau putih: berduka atau tidak.
Indonesia dan budaya “ramai saat duka”
Kajian antropolog Daniel Miller dan Heather Horst tentang kehidupan digital menegaskan bahwa dunia daring dan luring tidak terpisah. Kita hidup dalam dunia phygital, di mana praktik budaya lama dan teknologi baru saling membentuk.
Penilaian yang lahir di ruang digital tidak berhenti sebagai opini, tetapi membawa konsekuensi sosial nyata, mulai dari tekanan untuk menampilkan emosi tertentu hingga penghakiman moral yang berdampak pada relasi di dunia luring.
Padahal, pemakaman bukan ruang emosi tunggal. Menangis, diam, lelah, tersenyum refleks, atau sekadar bertahan secara sosial bisa hadir bersamaan. Namun, budaya digital tidak memberi ruang bagi ambiguitas. Ia menuntut kejelasan sikap, konsistensi emosi, dan bukti visual.
Fenomena ini menjadi semakin kompleks dalam konteks Indonesia. Secara historis dan kultural, kematian di banyak komunitas dipahami sebagai peristiwa komunal. Takziah, melayat, dan kehadiran kolektif adalah bentuk solidaritas sosial. Keramaian dalam duka bukan gangguan, melainkan tanda kepedulian.
Namun, ketika logika komunal ini bertemu dengan logika platform digital, terjadi distorsi. Kehadiran fisik diterjemahkan menjadi unggahan. Solidaritas berubah menjadi visibilitas. Kepedulian mulai diukur dari siapa yang memposting, siapa yang absen dari linimasa, dan siapa yang “terlihat cukup berduka”.
Budaya “ramai saat duka” pun mengalami pergeseran. Audiens meluas jauh melampaui lingkar relasi emosional langsung. Orang-orang yang tidak memiliki kedekatan personal merasa berhak menilai, berspekulasi, bahkan menghakimi.
Alih-alih memperkuat solidaritas, keramaian digital justru berpotensi menjadi mekanisme kontrol sosial baru, yang tidak hanya mengawasi perilaku, tetapi juga emosi.
Kematian Lula Lahfah membuat kita harusnya belajar berduka di bawah algoritma
Memahami fenomena ini bukan berarti membenarkannya. Justru di sinilah tanggung jawab etis muncul. Ketika kematian menjadi konten, batas antara empati dan eksploitasi semakin tipis. Algoritma cenderung mengangkat narasi paling sensasional, bukan yang paling akurat atau paling manusiawi.
Kematian Lula Lahfah adalah cermin zaman. Ia memperlihatkan bagaimana kita, sebagai masyarakat digital, masih gagap menghadapi kehilangan. Kita berbicara terlalu cepat, menilai terlalu dini, dan menuntut visibilitas dari sesuatu yang sejatinya personal.
Fenomena ini mungkin tidak akan hilang. Namun, kesadaran kritis bisa tumbuh: bahwa tidak semua duka harus ditayangkan; bahwa satu foto tidak pernah cukup untuk menilai perasaan seseorang; dan bahwa di balik setiap konten tentang kematian, ada kehilangan nyata yang tidak bisa direduksi menjadi views, likes, atau engagement.
Di tengah arus algoritma yang tak pernah diam, pertanyaannya menjadi semakin mendesak: bagaimana kita belajar tetap manusiawi ketika duka hidup di ruang yang selalu menuntut untuk ditonton?
Penulis: Desy Wulandari
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Melepas Kematian Orang Tercinta dengan Sukacita dan artikel lainnya di rubrik ESAI.














