MOJOK.CO – Meninggalnya Lula Lahfah memberi pelajaran penting tentang bagaimana publik menanggapi sebuah kematian publik figur di era digital.
Kematian Lula Lahfah, seorang seorang influencer dan selebgram Indonesia baru-baru ini memperlihatkan dengan terang bagaimana duka di era digital nyaris tak pernah hadir dalam kesunyian. Dalam hitungan jam setelah kabar meninggalnya beredar, media sosial dipenuhi potongan video, tangkapan layar, dan thread analisis yang mencoba menjelaskan sebab kematian dengan berbagai versi.
Mulai dari dugaan overdosis narkoba atau penyalahgunaan zat tertentu, penafsiran simbol visual dari unggahan lama, hingga teori konspirasi personal yang sama sekali tidak berpijak pada informasi terverifikasi.
Spekulasi ini berkembang bahkan ketika klarifikasi resmi telah disampaikan. Dokter spesialis jantung yang menangani Lula Lahfah sebelumnya menyatakan hasil pemeriksaan toksikologi negatif terhadap zat adiktif maupun alkohol.
Kepolisian juga menegaskan belum menemukan bukti penggunaan nitrous oxide atau zat terlarang di tempat kejadian perkara. Serta menyebut penyebab awal kematian sebagai henti jantung mendadak akibat gangguan irama jantung fatal yang dipicu kelelahan fisik.
Namun, bantahan otoritatif tersebut tidak serta-merta menghentikan arus tafsir liar yang telanjur beredar dan direproduksi.
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: kematian figur publik hari ini tidak lagi berhenti sebagai peristiwa biologis atau kabar duka. Ia segera berubah menjadi peristiwa media yang diproduksi, diperdebatkan, dan disirkulasikan dalam ekonomi atensi.
Warganet jadi “detektif” yang irasional di kabar kematian Lula Lahfah
Dalam proses tersebut, empati kerap kalah oleh rasa ingin tahu, dan keheningan berkabung tergeser oleh tuntutan untuk terus berbicara.
Sejumlah kajian dalam internet studies dan studi budaya digital menunjukkan bahwa media sosial bukan medium yang netral, melainkan ruang sosial yang dibentuk oleh arsitektur teknologi dan relasi kuasa tertentu.
Melalui konsep networked publics, media dipahami sebagai ruang publik berjejaring yang memiliki aturan implisitnya sendiri, terutama terkait visibilitas, kecepatan sirkulasi, dan keterlibatan pengguna yang berfungsi sebagai mata uang utama.
Dalam konteks ini, ketika informasi resmi belum tersedia atau dianggap tidak memadai, ruang kosong makna tidak dibiarkan hening, melainkan segera diisi oleh publik digital melalui produksi dan negosiasi narasi
Warganet tidak sekadar menunggu klarifikasi. Mereka bergerak bersama melakukan apa yang tampak seperti kerja “detektif” kolektif dengan menghubungkan unggahan lama, simbol visual, ekspresi tubuh, hingga relasi personal almarhum.
Spekulasi ini sering kali dibaca sebagai perilaku irasional. Padahal, dalam perspektif budaya digital, ia juga dapat dipahami sebagai mekanisme koping atau upaya memahami peristiwa traumatis yang terasa terlalu tiba-tiba dan tak adil.
Pendekatan netnography yang dikembangkan oleh Robert Kozinets membantu menjelaskan dinamika ini. Dalam ruang daring, makna tidak lahir dari satu otoritas tunggal, melainkan diproduksi, dinegosiasikan, dan dipertahankan secara kolektif melalui interaksi berulang.
Ketika ritual berkabung disiarkan langsung TikTok dan aktifnya fitur gift
Dalam kasus kematian Lula Lahfah, duka diproduksi bersama, diperdebatkan, dan disirkulasikan dalam ruang yang tidak pernah benar-benar hening. Proses ini menjelaskan mengapa klarifikasi resmi kerap kalah cepat dibanding narasi spekulatif yang lebih emosional dan mudah dibagikan.
Di ruang daring, makna tidak hanya diekspresikan, tetapi diproduksi. Thread, komentar, dan konten turunan membentuk semacam folklor digital—cerita kolektif yang belum tentu faktual, tetapi bermakna secara sosial. Bedanya dengan cerita rakyat lama, narasi ini bergerak secepat algoritma.
Produksi makna tidak berhenti pada narasi penyebab kematian. Ia berlanjut pada cara duka itu sendiri diperlihatkan, ditata, dan disaksikan.
Prosesi pemakaman Lula Lahfah disiarkan langsung melalui TikTok. Beberapa akun bahkan mengaktifkan fitur gift, membuka ruang donasi virtual dari penonton.
Ritual kematian yang secara kultural lazimnya sakral, hening, dan penuh penghormatan berubah menjadi tontonan real time, bercampur antara empati, voyeurisme, dan monetisasi.
Dalam perspektif sosiologi klasik Durkheimian, ritual yang di dalamnya termasuk praktik berkabung dipahami sebagai tindakan kolektif yang berfungsi meneguhkan solidaritas sosial, menyalurkan energi emosional bersama, dan memulihkan tatanan sosial setelah momen krisis seperti kematian.
Batas antara dokumentasi dan ekploitasi kematian menjadi kabur
Duka dalam kerangka ini, tidak dipahami semata sebagai perasaan personal, melainkan sebagai pengalaman sosial yang diekspresikan dan diatur melalui kehadiran, gestur, serta norma-norma tidak tertulis.
Namun, di ruang digital, bentuk “penampilan” duka tersebut mengalami pergeseran. Apa yang dulu dipraktikkan dalam ruang terbatas kini berlangsung di hadapan audiens tak terbatas, diatur oleh logika platform yang menilai visibilitas, durasi tontonan, dan keterlibatan.
Duka tetap kolektif, tetapi kolektivitasnya tidak lagi dibingkai oleh norma komunitas, melainkan oleh algoritma.
Di titik ini, batas antara dokumentasi dan eksploitasi menjadi kabur. Ketika logika platform mengutamakan engagement, bahkan ritual berkabung pun berisiko diperlakukan sebagai peluang trafik.
Baca halaman selanjutnya: Absensi digital yang menjadi penghakiman














