Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening

Desy Wulandari oleh Desy Wulandari
28 Januari 2026
A A
Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening MOJOK.CO

Ilustrasi Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Meninggalnya Lula Lahfah memberi pelajaran penting tentang bagaimana publik menanggapi sebuah kematian publik figur di era digital. 

Kematian Lula Lahfah, seorang seorang influencer dan selebgram Indonesia baru-baru ini memperlihatkan dengan terang bagaimana duka di era digital nyaris tak pernah hadir dalam kesunyian. Dalam hitungan jam setelah kabar meninggalnya beredar, media sosial dipenuhi potongan video, tangkapan layar, dan thread analisis yang mencoba menjelaskan sebab kematian dengan berbagai versi. 

Mulai dari dugaan overdosis narkoba atau penyalahgunaan zat tertentu, penafsiran simbol visual dari unggahan lama, hingga teori konspirasi personal yang sama sekali tidak berpijak pada informasi terverifikasi.

Spekulasi ini berkembang bahkan ketika klarifikasi resmi telah disampaikan. Dokter spesialis jantung yang menangani Lula Lahfah sebelumnya menyatakan hasil pemeriksaan toksikologi negatif terhadap zat adiktif maupun alkohol. 

Kepolisian juga menegaskan belum menemukan bukti penggunaan nitrous oxide atau zat terlarang di tempat kejadian perkara. Serta menyebut penyebab awal kematian sebagai henti jantung mendadak akibat gangguan irama jantung fatal yang dipicu kelelahan fisik. 

Namun, bantahan otoritatif tersebut tidak serta-merta menghentikan arus tafsir liar yang telanjur beredar dan direproduksi.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: kematian figur publik hari ini tidak lagi berhenti sebagai peristiwa biologis atau kabar duka. Ia segera berubah menjadi peristiwa media yang diproduksi, diperdebatkan, dan disirkulasikan dalam ekonomi atensi. 

Warganet jadi “detektif” yang irasional di kabar kematian Lula Lahfah

Dalam proses tersebut, empati kerap kalah oleh rasa ingin tahu, dan keheningan berkabung tergeser oleh tuntutan untuk terus berbicara.

Sejumlah kajian dalam internet studies dan studi budaya digital menunjukkan bahwa media sosial bukan medium yang netral, melainkan ruang sosial yang dibentuk oleh arsitektur teknologi dan relasi kuasa tertentu. 

Melalui konsep networked publics, media dipahami sebagai ruang publik berjejaring yang memiliki aturan implisitnya sendiri, terutama terkait visibilitas, kecepatan sirkulasi, dan keterlibatan pengguna yang berfungsi sebagai mata uang utama. 

Dalam konteks ini, ketika informasi resmi belum tersedia atau dianggap tidak memadai, ruang kosong makna tidak dibiarkan hening, melainkan segera diisi oleh publik digital melalui produksi dan negosiasi narasi

Warganet tidak sekadar menunggu klarifikasi. Mereka bergerak bersama melakukan apa yang tampak seperti kerja “detektif” kolektif dengan menghubungkan unggahan lama, simbol visual, ekspresi tubuh, hingga relasi personal almarhum. 

Spekulasi ini sering kali dibaca sebagai perilaku irasional. Padahal, dalam perspektif budaya digital, ia juga dapat dipahami sebagai mekanisme koping atau upaya memahami peristiwa traumatis yang terasa terlalu tiba-tiba dan tak adil.

Pendekatan netnography yang dikembangkan oleh Robert Kozinets membantu menjelaskan dinamika ini. Dalam ruang daring, makna tidak lahir dari satu otoritas tunggal, melainkan diproduksi, dinegosiasikan, dan dipertahankan secara kolektif melalui interaksi berulang. 

Iklan

Ketika ritual berkabung disiarkan langsung TikTok dan aktifnya fitur gift

Dalam kasus kematian Lula Lahfah, duka diproduksi bersama, diperdebatkan, dan disirkulasikan dalam ruang yang tidak pernah benar-benar hening. Proses ini menjelaskan mengapa klarifikasi resmi kerap kalah cepat dibanding narasi spekulatif yang lebih emosional dan mudah dibagikan.

Di ruang daring, makna tidak hanya diekspresikan, tetapi diproduksi. Thread, komentar, dan konten turunan membentuk semacam folklor digital—cerita kolektif yang belum tentu faktual, tetapi bermakna secara sosial. Bedanya dengan cerita rakyat lama, narasi ini bergerak secepat algoritma.

Produksi makna tidak berhenti pada narasi penyebab kematian. Ia berlanjut pada cara duka itu sendiri diperlihatkan, ditata, dan disaksikan.

Prosesi pemakaman Lula Lahfah disiarkan langsung melalui TikTok. Beberapa akun bahkan mengaktifkan fitur gift, membuka ruang donasi virtual dari penonton. 

Ritual kematian yang secara kultural lazimnya sakral, hening, dan penuh penghormatan berubah menjadi tontonan real time, bercampur antara empati, voyeurisme, dan monetisasi.

Dalam perspektif sosiologi klasik Durkheimian, ritual yang di dalamnya termasuk praktik berkabung dipahami sebagai tindakan kolektif yang berfungsi meneguhkan solidaritas sosial, menyalurkan energi emosional bersama, dan memulihkan tatanan sosial setelah momen krisis seperti kematian. 

Batas antara dokumentasi dan ekploitasi kematian menjadi kabur

Duka dalam kerangka ini, tidak dipahami semata sebagai perasaan personal, melainkan sebagai pengalaman sosial yang diekspresikan dan diatur melalui kehadiran, gestur, serta norma-norma tidak tertulis.

Namun, di ruang digital, bentuk “penampilan” duka tersebut mengalami pergeseran. Apa yang dulu dipraktikkan dalam ruang terbatas kini berlangsung di hadapan audiens tak terbatas, diatur oleh logika platform yang menilai visibilitas, durasi tontonan, dan keterlibatan. 

Duka tetap kolektif, tetapi kolektivitasnya tidak lagi dibingkai oleh norma komunitas, melainkan oleh algoritma.

Di titik ini, batas antara dokumentasi dan eksploitasi menjadi kabur. Ketika logika platform mengutamakan engagement, bahkan ritual berkabung pun berisiko diperlakukan sebagai peluang trafik. 

Absensi digital yang menjadi penghakiman 

Dalam peristiwa meninggalnya Lula Lahfah yang merupakan kekasih Reza Oktovian atau Reza Arap, perhatian publik bergeser dari almarhum ke orang-orang di sekitarnya. Muncul pertanyaan yang berulang dan agresif: mengapa pasangan tidak memposting apa pun? 

Mengapa seseorang terlihat tersenyum di foto pemakaman? Seolah-olah kesedihan hanya sah jika ditampilkan secara publik dan konsisten secara visual.

Yang lebih problematis, warganet mulai melakukan absensi kolektif. Dalam peristiwa meninggalnya Lula Lahfah, warganet melakukannya dengan cara yang irasional. 

Dari foto-foto yang beredar, publik menghitung siapa yang hadir dan siapa yang absen. Kehadiran fisik direduksi menjadi bukti visual, sementara relasi emosional dinilai dari visibilitas di linimasa.

Bahkan ekspresi wajah pelayat menjadi objek tafsir moral. Foto seseorang yang tertangkap kamera sedang tersenyum, tanpa konteks waktu, situasi, atau kondisi psikologis, diperlakukan sebagai kebenaran utuh tentang perasaan seseorang. Kompleksitas emosi manusia disederhanakan menjadi hitam atau putih: berduka atau tidak.

Indonesia dan budaya “ramai saat duka”

Kajian antropolog Daniel Miller dan Heather Horst tentang kehidupan digital menegaskan bahwa dunia daring dan luring tidak terpisah. Kita hidup dalam dunia phygital, di mana praktik budaya lama dan teknologi baru saling membentuk. 

Penilaian yang lahir di ruang digital tidak berhenti sebagai opini, tetapi membawa konsekuensi sosial nyata, mulai dari tekanan untuk menampilkan emosi tertentu hingga penghakiman moral yang berdampak pada relasi di dunia luring.

Padahal, pemakaman bukan ruang emosi tunggal. Menangis, diam, lelah, tersenyum refleks, atau sekadar bertahan secara sosial bisa hadir bersamaan. Namun, budaya digital tidak memberi ruang bagi ambiguitas. Ia menuntut kejelasan sikap, konsistensi emosi, dan bukti visual.

Fenomena ini menjadi semakin kompleks dalam konteks Indonesia. Secara historis dan kultural, kematian di banyak komunitas dipahami sebagai peristiwa komunal. Takziah, melayat, dan kehadiran kolektif adalah bentuk solidaritas sosial. Keramaian dalam duka bukan gangguan, melainkan tanda kepedulian.

Namun, ketika logika komunal ini bertemu dengan logika platform digital, terjadi distorsi. Kehadiran fisik diterjemahkan menjadi unggahan. Solidaritas berubah menjadi visibilitas. Kepedulian mulai diukur dari siapa yang memposting, siapa yang absen dari linimasa, dan siapa yang “terlihat cukup berduka”.

Budaya “ramai saat duka” pun mengalami pergeseran. Audiens meluas jauh melampaui lingkar relasi emosional langsung. Orang-orang yang tidak memiliki kedekatan personal merasa berhak menilai, berspekulasi, bahkan menghakimi.

Alih-alih memperkuat solidaritas, keramaian digital justru berpotensi menjadi mekanisme kontrol sosial baru, yang tidak hanya mengawasi perilaku, tetapi juga emosi.

Kematian Lula Lahfah membuat kita harusnya belajar berduka di bawah algoritma

Memahami fenomena ini bukan berarti membenarkannya. Justru di sinilah tanggung jawab etis muncul. Ketika kematian menjadi konten, batas antara empati dan eksploitasi semakin tipis. Algoritma cenderung mengangkat narasi paling sensasional, bukan yang paling akurat atau paling manusiawi.

Kematian Lula Lahfah adalah cermin zaman. Ia memperlihatkan bagaimana kita, sebagai masyarakat digital, masih gagap menghadapi kehilangan. Kita berbicara terlalu cepat, menilai terlalu dini, dan menuntut visibilitas dari sesuatu yang sejatinya personal.

Fenomena ini mungkin tidak akan hilang. Namun, kesadaran kritis bisa tumbuh: bahwa tidak semua duka harus ditayangkan; bahwa satu foto tidak pernah cukup untuk menilai perasaan seseorang; dan bahwa di balik setiap konten tentang kematian, ada kehilangan nyata yang tidak bisa direduksi menjadi views, likes, atau engagement.

Di tengah arus algoritma yang tak pernah diam, pertanyaannya menjadi semakin mendesak: bagaimana kita belajar tetap manusiawi ketika duka hidup di ruang yang selalu menuntut untuk ditonton?

Penulis: Desy Wulandari
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Melepas Kematian Orang Tercinta dengan Sukacita dan artikel lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2026 oleh

Tags: berita dukaesaikematianLula Lahfahpilihan redaksireza arapselebgram
Desy Wulandari

Desy Wulandari

Desy Wulandari merupakan Pamong Budaya di Kementerian Kebudayaan yang gemar menulis tentang isu-isu sosial dan kebudayaan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel Terkait

Alwi Farhan juara Daihatsu Indonesia Masters 2026, bikin Istora Senayan, Jakarta menggelora MOJOK.CO
Sosok

The Authentic Alwi Farhan: Gen Z Muda dan Berbahaya, Mental Baja tapi Suka Belajar dari Kritik

25 Januari 2026
“Terapi Massal” Pekerja Jakarta di Istora Senayan.MOJOK.CO
Ragam

“Terapi Massal” Pekerja Jakarta di Istora Senayan

24 Januari 2026
Open Donasi Bodong Mengeksploitasi Kemiskinan MOJOK.CO
Catatan

Gara-Gara Kapitalisme, Kita Lebih Mudah Nyawer Gift TikTok atau Berdonasi Online daripada Membantu Tetangga yang Susah

22 Januari 2026
senar raket. mojok.co
Ragam

Indonesia Masters 2026 Jadi Tempat Merawat Kenangan Keluarga, Rela Cuti Kerja demi “Napak Tilas” Mendiang Ayah di Istora

21 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Memetik hikmah dan pelajaran saat para bintang muda urung bersinar di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan MOJOK.CO

Memetik Makna Lain Kekalahan saat Para Bintang Muda Urung Bersinar di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan

23 Januari 2026
KP2MI buka pelatihan kerja untuk calon pekerja migran di Jogja. MOJOK.CO

LPP Agro Nusantara Akan Buka Pelatihan di Bawah Naungan KP2MI untuk Tingkatkan Keterampilan Pekerja Migran Indonesia

25 Januari 2026
Tinggal di Jogja tak semenyeramkan kerja di Jakarta. MOJOK.CO

Kesialan Bertubi yang Bikin Saya Merenung dan Nyaris Menyesal Pindah ke Jogja yang Penuh dengan Kebohongan

27 Januari 2026
Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki MOJOK.CO

Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki

23 Januari 2026
OB dan satpam kantor, orang paling tulus untuk berbagi kerja ketimbang teman-teman di tempat kerja MOJOK.CO

OB dan Satpam Kantor Paling Nyaman buat Berbagi Cerita dan Berkeluh Kesah, Lebih Tulus ketimbang Teman Kerja yang Kebanyakan Bermuka Dua

21 Januari 2026
Users kereta api ekonomi Sri Tanjung kaget saat pertama kali naik KA Jaka Tingkir New Generation dalam perjalanan Jogja-Jakarta MOJOK.CO

Users Sri Tanjung Kaget saat Pertama Kali Naik KA Jaka Tingkir: Kereta Api Ekonomi Nggak Kayak Ekonomi, Malu karena Jadi Kampungan

27 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 1): Bukan Guru Besar Biasa, Diuji Bukan dengan Pujian

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.