Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lebaran Tidak Selalu Milik Semua Orang

Para kurir ditekan sangat keras di hari-hari menjelang Lebaran. Baik tekanan dari bosnya, maupun tekanan perasaan karena tidak tega kepada para pelanggan.

Iqbal Aji Daryono oleh Iqbal Aji Daryono
22 April 2023
A A
Lebaran Tidak Selalu Milik Semua Orang MOJOK.CO

Ilustrasi Lebaran Tidak Selalu Milik Semua Orang. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Segera sepotong imajinasi merangsek masuk ke kepala. Saya bayangkan, di salah satu sudut suburb Wembley atau Shenton Park, pasti ada seorang gadis mungil seumuran anak saya sedang menanti-nanti kado Natal-nya. 

Dia sendiri menunggunya sebagai kejutan, sebab bapak-ibu-nya sudah menjanjikan. Malangnya, seminggu, empat hari, tiga hari, dua hari menjelang Natal, tak ada satu pun barang datang ke rumah mereka. Orang tua gadis kecil itu semakin cemas.

Hari Natal tiba. Di sudut kamar, si kecil menangis terisak-isak sambil membenamkan wajah di kasurnya. Hari istimewanya tidak dilengkapi kado Natal cantik yang sudah dia harapkan sekian lama.

Ya, Tuhan. Membayangkan adegan seperti itu saja membuat saya menangis sendiri.

Itu semua memang cuma imajinasi, tetapi sungguh bukan khayalan tanpa dasar. Dan, gara-gara bayangan itulah, saya rela bekerja lembur sampai malam, tanpa tambahan bayaran. Kebayang ada anak kecil di Indonesia tengah bersedih di hari Lebaran,

Tekanan yang keras sebelum Lebaran

Saya tidak hendak menyampaikan bahwa seharusnya para kurir di Indonesia punya imajinasi melow yang sama dengan saya. Bukan begitu. Tetapi saya juga yakin, mereka ditekan sangat keras di hari-hari menjelang Lebaran. Baik tekanan dari bosnya, maupun tekanan perasaan karena tidak tega kepada para pelanggan.

Di sisi lain, sebenarnya para pelanggan itu tidak semuanya akan sesedih orang tua pembeli meja Frozen, tokoh dalam imajinasi saya. Pasti banyak di antaranya yang sekadar mirip saya kalau berbelanja: impulsif, pencet saja mumpung nemu barangnya di marketplace, dan ya sudah mau datang kapan saja tidak masalah, toh nggak buru-buru.

Saya ingat, selain beberapa potong sarung dan baju koko untuk anak lelaki saya, barang yang kami check out sebelum Lebaran adalah dua buku dari dua toko yang berbeda. Ya, benar, saya beli buku! Padahal, siapa sih yang buru-buru mau membaca buku di hari Lebaran, coba? Bahkan kalau toh barang itu tiba, sampai dua pekan selepas Lebaran pun kiriman buku itu belum tentu akan tersentuh tangan saya.

Masalahnya, para kurir yang melihat paketan itu tidak akan tahu bahwa isinya buku. Bisa jadi mereka mengira itu sarung atau mukena, dan segera disusul imajinasi di kepala mereka tentang salat Ied yang gagal dan kepedihan yang merundung sebuah keluarga kecil. Sementara, di sini, yang memesan barang santai-santai saja. Kurang ajar, kan?

Sungguh tidak aneh kalau sampai-sampai nanti para kurir itu pasang baliho di simpang empat paling ramai, “Sudahi check out-mu, Kawan. Kurir juga butuh liburan!!!” Kali ini dengan tiga tanda seru.

Lebaran tidak untuk semua orang

Memang benar, Lebaran adalah hari kegembiraan. Yang sudah selesai puasa merasa gembira. Sementara itu, bagi yang kebanjiran pesanan nastar atau baju koko merasa gembira. Yang bikin-bikin hampers dan langsung habis diborong teman-teman medsosnya sendiri pasti juga merasa gembira. Namun, satu sisi mata uang bergambar kegembiraan harus diimbangi dengan lukisan ketidakgembiraan di sisi lainnya.

Di sisi sana itu, semua bisa berarti kerja lembur mati-matian. Juga berarti anak-anak di rumah yang terus melihat bapak mereka pulang larut malam di hari-hari menjelang Lebaran tanpa tambahan upah yang signifikan. Bahkan mungkin si bapak hanya bisa libur tiga hari, sebab harus segera masuk kerja lagi untuk membereskan tumpukan utang pekerjaan. Selalu harus ada tumbal dalam setiap kegembiraan.

Dilema yang terjadi

Saya jadi ingat, di pertengahan pandemi, beberapa gerai pakaian di sebuah mal menggelar diskon besar-besaran. Kami sekeluarga yang melintas di depannya pun mampir dengan mata berbinar. Waah, anak-anak bisa dapat baju-baju branded cantik dengan sepertiga harga normal!

Hingga beberapa detik kemudian saya sadar, kegembiraan kami karena bisa belanja murah meriah itu harus berjalan seiring dengan tatapan sayu dari para penjaga toko itu. Bisa jadi itu adalah hari-hari terakhir mereka bekerja di situ, sebab toko tempat kerja mereka akan tutup permanen, karena bos mereka tak kuat lagi bertahan di masa pagebluk dan krisis ekonomi.

Iklan

Saya juga ingat bagaimana seorang kawan yang rajin nongkrong sendirian di sebuah kafe ditanyai oleh si pemilik kafe, “Mbak, mbaknya sering sekali ke sini ya. Kok suka di sini kenapa, Mbak? Bisa cerita?” Tentu si pemilik kafe bertanya dengan wajah cerah, hingga kawan saya itu menjawab dengan jujur tapi polos campur bodoh: “Iya, Om. Enak banget di sini, Om. Sepi hehehe.”

Dia lupa, kesunyian yang syahdu bagi seorang pelanggan kafe berarti malaikat maut bagi orang yang ngos-ngosan membangun usahanya.

Ah, ngelantur. Selamat Lebaran aja lah ya, buat Anda semua yang merayakan. Selamat bergembira. Namun jangan pernah lupa, kegembiraan Anda bisa jadi harus dibayar mahal dengan pengorbanan orang-orang di sana, lalu di sana, dan juga di sana.

Penulis: Iqbal Aji Daryono

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Lebaran: Menanti Ibu Bertanya Kapan Nikah dan kisah menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 22 April 2023 oleh

Tags: Idul FitriKurirLebaranMudik
Iqbal Aji Daryono

Iqbal Aji Daryono

Penulis dari Bantul. Lulusan Sastra Jepang, UGM.

Artikel Terkait

Sirilus Siko (24). Jadi kurir JNE di Surabaya, dapat beasiswa kuliah kampus swasta, dan mengejar mimpi menjadi pemain sepak bola amputasi MOJOK.CO
Sosok

Hanya Punya 1 Kaki, Jadi Kurir JNE untuk Hidup Mandiri hingga Bisa Kuliah dan Jadi Atlet Berprestasi

16 Desember 2025
pulang ke rumah, merantau.MOJOK.CO
Catatan

Duka Setelah Merantau: Ketika Rumah Menjadi Tempat yang Asing untuk Pulang

16 September 2025
THR ludes, libur lebaran selesai, sementara gajian masih lama. Kembali ke perantauan dengan penuh keprihatinan MOJOK.CO
Ragam

THR Ludes sementara Gajian Masih Lama, Kembali ke Perantauan dengan Nelangsa dan Hidup dalam Keprihatinan

6 April 2025
Lebaran 2025 Lebaran Paling Aneh 10 Tahun Terakhir MOJOK.CO
Esai

Mudik Lebaran 2025 Terasa Aneh dan Berbeda: Penumpang Bus Sepi Hingga Pedagang Asongan Menghilang

4 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.