Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

Heni Candra Kirana oleh Heni Candra Kirana
6 April 2026
A A
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO

Ilustrasi Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi orang lain cokelat itu ningkatin mood, bagi saya dia pengkhianat 

​Begadang ngerjain tesis itu butuh asupan biar nggak gampang emosi liat bug yang nggak ketemu-ketemu. Pilihan paling gampang biasanya cokelat. Manis, enak, dan katanya bisa bikin mood naik. 

Tapi ini adalah pengkhianatan paling besar dalam sejarah hidup saya. Cokelat itu mengandung zat namanya methylxanthine. Namanya saja sudah mirip nama penjahat di film sci-fi, dan tugasnya memang sejahat itu: bikin otot katup lambung “mager” alias malas gerak.

​Saat katup lambung mager, asam lambung dengan bebasnya silaturahmi ke kerongkongan. Jadi, alih-alih dapet pencerahan buat logika Random Forest atau Gradient Boosting, saya malah dapet bonus sensasi terbakar di dada (heartburn). 

Mahasiswa IT yang harusnya pusing mikirin akurasi model prediksi, malah berakhir pusing nyari sisa antasida di laci meja kerja jam 2 pagi. Sungguh ironis, saya berusaha memprediksi output produksi, tapi nggak bisa memprediksi kapan lambung sendiri bakal “meledak”.

​Dilema alpukat dan diet influencer yang menyesatkan

​Lalu ada alpukat. Di dunia kesehatan, alpukat adalah “emas hijau”. Tapi buat kami yang lambungnya ringkih, lemak di alpukat itu beban hidup yang berat banget buat dicerna. 

Lambung kami butuh waktu berabad-abad cuma buat memprosesnya. Akibatnya, katup lambung tertekan dan akhirnya menyerah. Saya pernah sok-sokan pengen hidup sehat ala influencer dengan sarapan alpukat biar kuat kerja di pabrik. Eh, yang ada malah mual-mual sepanjang hari karena asam lambung naik.

Bikin ​kerja nggak fokus. Mau menghitung efisiensi lini produksi, malah jadi menghitung berapa kali bolak-balik ke kamar mandi buat narik napas karena perut begah. Belum lagi kalau kita sok-sokan makan apel hijau atau buah beri yang rasanya masam, kadar asamnya sukses bikin lambung saya merasa dizalimi oleh tuannya sendiri. 

Niat hati ingin punya badan ideal dan otak encer buat mengerjakan tesis, yang didapat malah sensasi mual yang bikin kepala pusing tujuh keliling. Hidup kita sebagai pekerja pabrik dan mahasiswa sudah penuh tekanan, eh, pilihan makanan pun harus yang “lempeng-lempeng” saja.

​Berdamai dengan asam lambung demi gelar magister dan buruh pabrik teladan

​Pada akhirnya, penderita asam lambung seperti saya harus tahu diri. Hidup dalam “Siklus Setan” kerja pagi, kuliah malam, begadang tesis adalah resep sempurna buat bikin GERD kumat permanen. 

Kalau memang belum bisa tobat sepenuhnya dari godaan sambal tomat, cokelat, atau jeruk segar, ya minimal jangan dimakan pas mau begadang. Itu namanya cari penyakit di atas penyakit. Kita ini sudah capek ngurusin target SMV pabrik dan revisi dosen, nggak usah ditambah drama lambung yang melilit setiap pagi.

​Solusinya? Ya terpaksa berdamai dengan buah-buahan yang rasanya membosankan dan hambar seperti pisang, melon, atau pepaya. 

Hidup tanpa tantangan rasa itu memang menyedihkan, kawan. Tapi ya daripada bangun pagi dalam kondisi mual-mual sampai lemas, lebih baik kita mengalah pada lambung. 

Pesan saya buat sesama pejuang GERD: kalau perut sudah kerasa chaos, nggak usah banyak drama atau sambat di medsos. Langsung saja ke dokter. 

Nggak usah nunggu hidayah lewat video TikTok, karena algoritma internet nggak bakal bisa bikin ulu hatimu berhenti kerasa perih. Tetap semangat buat pejuang tesis dan buruh pabrik, semoga gelar magister kita dapat, dan lambung kita tetap selamat.

Iklan

Penulis: Heni Candra Kirana
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Mahasiswa Double Degree di UGM dan Kampus Swasta, Tetap Bertahan Meski Asam Lambung Menyerang dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 6 April 2026 oleh

Tags: asam lambungGERDmagisterMahasiswa
Heni Candra Kirana

Heni Candra Kirana

Mahasiswa S2 IT dan pejuang efisiensi di industri garmen yang hobi menulis artikel di berbagai media digital. Sering gagal menghitung kadar asam di lambung sendiri, tapi selalu berhasil menyelesaikan revisi artikel dan tesis tepat waktu.

Artikel Terkait

kuliah s2.MOJOK.CO
Edumojok

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO
Esai

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
Ortu dihina karena miskin. Anak kuliah sebagai mahasiswa jurusan Psikologi UIN buktikan lulusan PTN ecek-ecek malah hidup lebih terhormat MOJOK.CO
Edumojok

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Anak Kuliah di UIN, Dicap PTN Ecek-ecek tapi Lulus Punya Karier Lebih Terhormat

25 Maret 2026
Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung
Sehari-hari

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Pekerja Jakarta resign setelah terima THR dan libur Lebaran

Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Muak dan Mati Rasa akibat Karier Mandek dan Rekan Kerja “Toxic”

30 Maret 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Nurul Fajriatussaadah, lulusan terbaik S2 di UIN Semarang

Dihina karena Hanya Anak Petani dari Pelosok Desa, Kini Berhasil Jadi Lulusan Terbaik S2 UIN Semarang berkat Doa Ayah

30 Maret 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026

Video Terbaru

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.